Wacana konvensi muncul karena SBY memahami Demokrat
Minggu, 14 April 2013 - 05:59 WIB
Wacana konvensi muncul karena SBY memahami Demokrat
A
A
A
Sindonews.com - Munculnya wacana konvensi yang dilontarkan Ketua Umum (Ketum) Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), memberi gambaran bahwa SBY paham dengan kondisi partainya.
"SBY sadar betul, dia tidak bisa dicalonkan kembali, dia melihat di Demokrat tidak ada tokoh elite Demokrat yang seimbang dengan ketokohan SBY dan disukai oleh masyarakat," kata pengamat politik dari Masyarakat Pemantau Kebijakan Eksekutif dan Legislatif (Majelis) Sugiyanto kepada Sindonews, Minggu (14/4/2013).
Lebih lanjut dia mengatakan, dengan adanya wacana konvensi ini, menunjukkan bahwa Demokrat tidak mempunyai figur lain yang bisa diandalkan kecuali SBY. Maka ketika SBY sudah tak bisa lagi maju sebagai calon presiden (Capres), untuk menutupi hal tersebut, SBY mewacanakan konvensi.
"Ini lonceng bahaya untuk Demokrat, karena SBY sudah tidak bisa maju lagi sebagai presiden. Kemudian kasus korupsi yang banyak menimpa kader Demokrat. Karena eksis atau tidaknya Demokrat, tidak bisa lagi tergantung dengan SBY," ujarnya.
Dia menilai, langkah Demokrat dengan menempuh jalur konvensi, merupakan cara yang berani. Karena dengan konvensi ini, SBY secara tidak langsung menutup peluang kader Demokrat untuk menjadi capres. "SBY harus berani mengorbankan seperti apa yg dilakukan Akbar Tanjung dengan posisinya sebagai Ketum Golkar. SBY mencoba mengorbankan kader partainya, untuk tidak maju sebagai capres," pungkasnya.
"SBY sadar betul, dia tidak bisa dicalonkan kembali, dia melihat di Demokrat tidak ada tokoh elite Demokrat yang seimbang dengan ketokohan SBY dan disukai oleh masyarakat," kata pengamat politik dari Masyarakat Pemantau Kebijakan Eksekutif dan Legislatif (Majelis) Sugiyanto kepada Sindonews, Minggu (14/4/2013).
Lebih lanjut dia mengatakan, dengan adanya wacana konvensi ini, menunjukkan bahwa Demokrat tidak mempunyai figur lain yang bisa diandalkan kecuali SBY. Maka ketika SBY sudah tak bisa lagi maju sebagai calon presiden (Capres), untuk menutupi hal tersebut, SBY mewacanakan konvensi.
"Ini lonceng bahaya untuk Demokrat, karena SBY sudah tidak bisa maju lagi sebagai presiden. Kemudian kasus korupsi yang banyak menimpa kader Demokrat. Karena eksis atau tidaknya Demokrat, tidak bisa lagi tergantung dengan SBY," ujarnya.
Dia menilai, langkah Demokrat dengan menempuh jalur konvensi, merupakan cara yang berani. Karena dengan konvensi ini, SBY secara tidak langsung menutup peluang kader Demokrat untuk menjadi capres. "SBY harus berani mengorbankan seperti apa yg dilakukan Akbar Tanjung dengan posisinya sebagai Ketum Golkar. SBY mencoba mengorbankan kader partainya, untuk tidak maju sebagai capres," pungkasnya.
(maf)