5 alasan ketidakpuasan publik terhadap reformasi

Minggu, 26 Mei 2013 - 15:57 WIB
5 alasan ketidakpuasan...
5 alasan ketidakpuasan publik terhadap reformasi
A A A
Sindonews.com - Masyarakat Indonesia tidak lagi percaya terhadap pelaksanaan agenda reformasi. Ketidakpercayaan itu pun terbagi dari lima faktor.

Hal itulah yang dirilis dalam hasil survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI), menyikapi pelaksanaan reformasi Indonesia selama 15 tahun terakhir.

Pertama, maraknya kasus korupsi yang melanda politikus partai politik selama tiga tahun terakhir, menjadikan publik tidak pernah berhenti disuguhi parade praktik korupsi yang dilakukan para politikus.

“Akibatnya kepercayaan publik terhadap politikus semakin rendah, mayoritas publik tidak yakin bahwa para politikus bebas dari korupsi. Hanya 15,8 persen publik yang meyakini bahwa para politikus bebas dari korupsi, sedangkan 83,10 persen tidak meyakini politikus bebas dari korupsi,“ kata peneliti LSI Ardian Sopa di kantor LSI, Jakarta, Minggu (26/5/2013).

Kedua, kerukunan dan toleransi yang pada orde baru terpelihara justru kini semakin memprihatinkan kemunduran. Konflik horizontal berbasis primordial masih sering terjadi di beberapa wilayah Indonesia.

“Dalam setiap kasus ini negara seolah olah tidak hadir melindungi warga negaranya. Publik merasakan ironi jika dibandingkan dengan masa orde baru,“ ungkapnya.

Ke tiga, mayoritas publik merasa kehidupan ekonomi semakin sulit. Publik menyatakan bahwa jalnnya reformasi saat ini belum mampu memenuhi salah satu tuntutan reformasi yaitu harga kebutuhan pokok yang murah dan terjangkau luas.

Ke empat, reformasi dianggap gagal melahirkan pemimpin nasional yang kuat. Publik memandang Presiden SBY pada banyak kesempatan terlihat ragu dalam menegakkan konstitusi seperti dalam hal melindungi kelompok minoritas.

“Penilaian terhadap aspek kepemimpinan juga terlihat dari survei dimana 30,18 persen publik yang puas dengan kepemimpinan SBY,“ tukasnya.

Ke lima, kasus orang hilang menjelang reformasi diyakini publik tidak menyentuh aktor intelektualnya. Sebanyak 51,3 persen publik mengetahui bahwa pengusutan kasus penembakan mahasiswa Trisakti dan penculikan aktivis pada tahun 1998 adalah salah satu tuntutan reformasi.

“Dari mereka yang mengetahui tersebut, sebanyak 55,7 persen menyatakan tuntutan pengusutan kasus penembakan dan penculikan aktifvis belum terpenuhi,“ pungkasnya.
(lal)
Berita Terkait
Demokrat Ungkap Kekhawatiran...
Demokrat Ungkap Kekhawatiran Milenial tentang Kondisi Indonesia
Marzuki Alie: Cuma Minta...
Marzuki Alie: Cuma Minta Aturan Ditegakkan, Jangan Asal Fitnah
Pidato Politik Ketua...
Pidato Politik Ketua Umum Partai Demokrat
Sejumlah Parpol dan...
Sejumlah Parpol dan Elite Ucapkan Perayaan 20 Tahun Demokrat
AHY: Ada Upaya Pengambilalihan...
AHY: Ada Upaya Pengambilalihan Kepemimpinan Partai Demokrat
Geger Kudeta Demokrat,...
Geger Kudeta Demokrat, Ini Deretan Konflik yang Pernah Landa Parpol Lain
Berita Terkini
KPK Periksa Mantan Stafsus...
KPK Periksa Mantan Stafsus Menag Gus Yaqut terkait Kasus Kuota Haji
Kapolda Riau Gaungkan...
Kapolda Riau Gaungkan Polisi Penjaga Peradaban di Dies Natalis Ke-80 STIK Polri
Kemenhaj Ajukan Tambahan...
Kemenhaj Ajukan Tambahan Anggaran Rp1,8 Triliun untuk Tahun 2027
DPR Desak Negara Tindak...
DPR Desak Negara Tindak Keras Tanpa Kompromi Judi Online dan Teror Pinjol
Namanya Dicatut BEM...
Namanya Dicatut BEM Bersatu, FISIP Unas Tegaskan Tak Punya BEM Fakultas
Diskusi Budiman-Nusron-Sudaryono...
Diskusi Budiman-Nusron-Sudaryono di UGM Dibubarkan Mahasiswa, Foksi: Sungguh Menggelikan
Infografis
5 Kapal Perang Paling...
5 Kapal Perang Paling Canggih di ASEAN
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved