Istana telah jadi alat politik membunuh karakter Anas
Rabu, 13 Februari 2013 - 03:54 WIB
Istana telah jadi alat politik membunuh karakter Anas
A
A
A
Sindonews.com - Permasalahan yang terjadi di internal Partai Demokrat, merupakan permasalahan hukum yang melebar ke wilayah politik.
Peneliti dari Maarif Institute, Fajar Rizal Ul Haq mengatakan, tersebarnya draf surat perintah penyidikan (Sprindik) yang diakibatkan ulah kalangan Istana Kepresidenan, itu menandakan Istana Kepresidenan sudah menjadi alat kepentingan politik.
"Itu (tersebarnya sprindik), sebenarnya istana sudah menjadi alat kepentingan politik dari pihak yang mempunyai kepentingan terhadap target yang dituju dalam sprindik tersebut," kata Fajar saat dihubungi Sindonews, Rabu (13/2/2013).
Fajar menjelaskan, adanya sprindik yang menetapkan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum sebagai tersangka dalam kasus Hambalang, merupakan upaya pembunuhan karakter.
"Adanya sprindik itu merupakan upaya pembunuhan karakter terhadap Anas. Selain itu, adanya srindik tersebut, seakan melegitimasi tindakan SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) untuk melucuti Anas sebegai Ketua Umum Partai Demokrat," pungkasnya.
Seperti diberitakan Sindonews sebelumnya, pihak Istana Kepresidenan mengaku telah melakukan investigasi ke internal, menindaklanjuti kebenaran pemberitaan yang menyebutkan draf sprindik palsu Anas Urbaningrum disebarkan oleh staf media Presiden SBY, Imelda Sari.
Juru Bicara Kepresidenan Julian Aldrin Pasha mengatakan, Imelda telah membantah membuat dan menyebarkan draf sprindik palsu Anas. Dia menegaskan, pihaknya tidak pernah mencampuri urusan lembaga lain.
"Tentu kami telah mengetahui dan saya sendiri sudah berbicara kepada yang bersangkutan (Imelda) bahwa itu dijelaskan tidak demikian adanya. Kemudian berkembang di sosial media. Itu yang terjadi. Sekali lagi secara formal lembaga kepresidenan tidak pernah mencampuri urusan lembaga lain," ucapnya kepada wartawan di Pangkalan TNI Angkatan Udara (AU), Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Selasa 12 Februari 2013.
Peneliti dari Maarif Institute, Fajar Rizal Ul Haq mengatakan, tersebarnya draf surat perintah penyidikan (Sprindik) yang diakibatkan ulah kalangan Istana Kepresidenan, itu menandakan Istana Kepresidenan sudah menjadi alat kepentingan politik.
"Itu (tersebarnya sprindik), sebenarnya istana sudah menjadi alat kepentingan politik dari pihak yang mempunyai kepentingan terhadap target yang dituju dalam sprindik tersebut," kata Fajar saat dihubungi Sindonews, Rabu (13/2/2013).
Fajar menjelaskan, adanya sprindik yang menetapkan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum sebagai tersangka dalam kasus Hambalang, merupakan upaya pembunuhan karakter.
"Adanya sprindik itu merupakan upaya pembunuhan karakter terhadap Anas. Selain itu, adanya srindik tersebut, seakan melegitimasi tindakan SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) untuk melucuti Anas sebegai Ketua Umum Partai Demokrat," pungkasnya.
Seperti diberitakan Sindonews sebelumnya, pihak Istana Kepresidenan mengaku telah melakukan investigasi ke internal, menindaklanjuti kebenaran pemberitaan yang menyebutkan draf sprindik palsu Anas Urbaningrum disebarkan oleh staf media Presiden SBY, Imelda Sari.
Juru Bicara Kepresidenan Julian Aldrin Pasha mengatakan, Imelda telah membantah membuat dan menyebarkan draf sprindik palsu Anas. Dia menegaskan, pihaknya tidak pernah mencampuri urusan lembaga lain.
"Tentu kami telah mengetahui dan saya sendiri sudah berbicara kepada yang bersangkutan (Imelda) bahwa itu dijelaskan tidak demikian adanya. Kemudian berkembang di sosial media. Itu yang terjadi. Sekali lagi secara formal lembaga kepresidenan tidak pernah mencampuri urusan lembaga lain," ucapnya kepada wartawan di Pangkalan TNI Angkatan Udara (AU), Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Selasa 12 Februari 2013.
(maf)