Hari Ibu belum sentuh TKW
Minggu, 23 Desember 2012 - 02:00 WIB
Hari Ibu belum sentuh TKW
A
A
A
Sindonews.com - Ketua Komisi IX DPR RI Ribka Tjiptaning memandang perayaan Hari Ibu masih berkutat pada seremonial belaka, tanpa menyentuh permasalahan yang sesungguhnya dihadapi kaum perempuan terutama tenaga kerja wanita (TKW) yang menjadi korban kekerasan di luar negeri.
"Tidak sedikit masyarakat atau pemerintah merayakan Hari Ibu hanya berupa seremonial saja seperti baksos, perlombaan baju kebaya atau memberikan diskon di pusat-pusat perbelanjaan untuk kalangan ibu-ibu. Padahal masih ada permasalahan yang harus menjadi perhatian pada perayaan ini, yakni kasus-kasus kekerasan yang dialami para TKW. Sebagian besar dari tenaga kerja itu merupakan kaum ibu," ungkap Ribka Tjiptaning dalam siaran pers yang diterima, Sabtu (22/12/2012).
Diakuinya, pemerintah dan organisasi kewanitaan masih terkesan tutup mata atas kasus-kasus kekerasan atau penindasan yang dialami TKW. Seperti yang dialami tiga TKW asal Indonesia yang menjadi korban pelecehan seksual maupun penyiksaan di Malaysia.
"Saya harap Hari Ibu ini menjadi momen bangkitnya kaum perempuan. Berbagai organisasi kewanitaan sepertinya lebih asik menggelar kegiatan perkumpulan arisan dan gosip atau hanya sekedar pamer perhiasan," tegasnya.
Ribka mengulas, perempuan adalah penentu nasib bangsa kedepan. 84 yang silam dalam sejarah perjuangan perempuan diadakan kongres perempuan Indonesia pertama pada 22-25 Desember di Yogyakarta.
Kongres tersebut melahirkan bberapa keputusan penting dalam sejarah perempuan yang ikut andil dalam politik melawan penindasan hingga menuju kemerdekaan. Pada tahun 1950, pertamakalinya perempuan masuk dalam kabinet kementerian.
"Tidak sedikit masyarakat atau pemerintah merayakan Hari Ibu hanya berupa seremonial saja seperti baksos, perlombaan baju kebaya atau memberikan diskon di pusat-pusat perbelanjaan untuk kalangan ibu-ibu. Padahal masih ada permasalahan yang harus menjadi perhatian pada perayaan ini, yakni kasus-kasus kekerasan yang dialami para TKW. Sebagian besar dari tenaga kerja itu merupakan kaum ibu," ungkap Ribka Tjiptaning dalam siaran pers yang diterima, Sabtu (22/12/2012).
Diakuinya, pemerintah dan organisasi kewanitaan masih terkesan tutup mata atas kasus-kasus kekerasan atau penindasan yang dialami TKW. Seperti yang dialami tiga TKW asal Indonesia yang menjadi korban pelecehan seksual maupun penyiksaan di Malaysia.
"Saya harap Hari Ibu ini menjadi momen bangkitnya kaum perempuan. Berbagai organisasi kewanitaan sepertinya lebih asik menggelar kegiatan perkumpulan arisan dan gosip atau hanya sekedar pamer perhiasan," tegasnya.
Ribka mengulas, perempuan adalah penentu nasib bangsa kedepan. 84 yang silam dalam sejarah perjuangan perempuan diadakan kongres perempuan Indonesia pertama pada 22-25 Desember di Yogyakarta.
Kongres tersebut melahirkan bberapa keputusan penting dalam sejarah perempuan yang ikut andil dalam politik melawan penindasan hingga menuju kemerdekaan. Pada tahun 1950, pertamakalinya perempuan masuk dalam kabinet kementerian.
(rsa)