Jabar terburuk dalam intoleransi beragama
Kamis, 20 Desember 2012 - 14:25 WIB
Jabar terburuk dalam intoleransi beragama
A
A
A
Sindonews.com - Provinsi Jawa Barat (Jabar) dinyatakan sebagai salah satu wilayah terburuk dalam intoleransi agama dan hak-hak keyakinan kaum minoritas.
Hasil ini berdasarkan hasil riset Imparsial mengenai 'Negara di Bawah Bayang Ototitas Agama Kegagalan Negara Melindungi Minoritas Agama'.
"Kita melakukan penelitian mengenai intoleransi dan kami pilih provinsi Jawa Barat. Karena Jawa Barat paling buruk dalam intoleransi agama dan hak keyakinan beragama," jelas Peneliti Imparsial Ghufron Mabruri dalam peluncuran hasil riset Imparsial, di Universitas Paramadina, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Kamis (20/12/2012).
Dia menambahkan, dari penelitian tersebut, Imparsial memilih empat lokasi yang mereka nilai paling tinggi kasus mengenai intoleransi beragama. Lokasi tersebut antara lain Kuningan, Tasikmalaya, Bogor, dan Bekasi. Dia pun bercermin dari beberapa kasus intoleransi di wilayah tersebut untuk melakukan penelitian.
"Ke empat lokasi ini termasuk intensitas kasus intoleransi tinggi, misalnya kasus Ahmadiyah di Tasikmalaya, Kuningan dan Kabupaten Bogor, dan sengketa rumah ibadah di Bekasi seperti pembangunan HKBP Ciketing dan GKI Yasmin di Kota Bogor," tukasnya.
Dia menjelaskan, faktor terjadinya intoleransi di Jabar antara lain karena tingkat kecurigaan dan profesional yang rendah.
"Jadi ada beberapa faktor seperti kecurigaan dari masyarakat setempat, dan profesional aparat dalam memberik sanksi di pimpinan baik Polres, Polsek yang secara faktual gagal. Faktor terakhir kapasitas aparat di daerah," pungkasnya.
Dengan kejadian ini, Imparsial melihat pemerintah masih gagal dalam melindungi kaum minoritas khususnya dalam kepercayaan beragama.
"Negara gagal dalam menghilangkan intoleransi dalam menjalani prinsip kenegaraan yang telah disepakati bersama," tutup dia.
Hasil ini berdasarkan hasil riset Imparsial mengenai 'Negara di Bawah Bayang Ototitas Agama Kegagalan Negara Melindungi Minoritas Agama'.
"Kita melakukan penelitian mengenai intoleransi dan kami pilih provinsi Jawa Barat. Karena Jawa Barat paling buruk dalam intoleransi agama dan hak keyakinan beragama," jelas Peneliti Imparsial Ghufron Mabruri dalam peluncuran hasil riset Imparsial, di Universitas Paramadina, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Kamis (20/12/2012).
Dia menambahkan, dari penelitian tersebut, Imparsial memilih empat lokasi yang mereka nilai paling tinggi kasus mengenai intoleransi beragama. Lokasi tersebut antara lain Kuningan, Tasikmalaya, Bogor, dan Bekasi. Dia pun bercermin dari beberapa kasus intoleransi di wilayah tersebut untuk melakukan penelitian.
"Ke empat lokasi ini termasuk intensitas kasus intoleransi tinggi, misalnya kasus Ahmadiyah di Tasikmalaya, Kuningan dan Kabupaten Bogor, dan sengketa rumah ibadah di Bekasi seperti pembangunan HKBP Ciketing dan GKI Yasmin di Kota Bogor," tukasnya.
Dia menjelaskan, faktor terjadinya intoleransi di Jabar antara lain karena tingkat kecurigaan dan profesional yang rendah.
"Jadi ada beberapa faktor seperti kecurigaan dari masyarakat setempat, dan profesional aparat dalam memberik sanksi di pimpinan baik Polres, Polsek yang secara faktual gagal. Faktor terakhir kapasitas aparat di daerah," pungkasnya.
Dengan kejadian ini, Imparsial melihat pemerintah masih gagal dalam melindungi kaum minoritas khususnya dalam kepercayaan beragama.
"Negara gagal dalam menghilangkan intoleransi dalam menjalani prinsip kenegaraan yang telah disepakati bersama," tutup dia.
(rsa)