Sejarah bisa atasi krisis kepemimpinan
Rabu, 19 Desember 2012 - 18:14 WIB
Sejarah bisa atasi krisis kepemimpinan
A
A
A
Sindonews.com - Indonesia saat ini dinilai tengah mengalami krisis kepemimpinan. Untuk mengatasi krisis kepemimpinan, anak bangsa wajib mempelajari sejarah tokoh-tokoh bangsa ini.
Sosiolog Universitas Indonesia (UI) Tamrin Tomagola mengatakan, dengan mempelajari sejarah pemimpin terdahulu maka akan mengetahui kesalahan dan cara memperbaiki sistem pemerintahan yang salah saat itu.
"Untuk gali akar masalah, lihat perspektif sejarah, pelajari pemimpin dari periode ke periode. Dalam menyelusuri secara periodik dan historical, lihat rahim-rahim kepemimpinan, benih tertanam disana," kata Tamrin dalam diskusi bertema Mencari Pemimpin Alternatif di Hotel Sultan, Jalan Jenderal Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Rabu (19/12/2012).
Dia mengatakan, pemimpin yang dapat mempelajari kesalahan dari pemimpin sebelumnya diyakini mampu untuk memberikan solusi dari permasalahan bangsa.
"Jadi rahim menjadi suatu tempat penanaman, pengembangan, dan pelahiran, dalam metafora. Hal ini dilakukan agar kita melahirkan pemimpin berkarakter dalam jumlah banyak," ucapnya.
Lebih lanjut dia mengatakan, tidak menampik jika cara ini dianggap radikal, karena dirinya menilai bahwa untuk menyelesaikan krisis kepemimpinan di suatu negara dibutuhkan cara yang radikal dan fundamental.
"Diperlukan penyelesaian radikal dan fundamental, tidak bisa lagi penyelesaian tambal sulam, reformasi itu tambal sulam. Harus penyelesaian yang mencari akar masalah dan solusi. Yang saya tawarkan, kuantitatif, sentralisasi, oligarki, dan pemimpin berkarakter," pungkasnya.
Sosiolog Universitas Indonesia (UI) Tamrin Tomagola mengatakan, dengan mempelajari sejarah pemimpin terdahulu maka akan mengetahui kesalahan dan cara memperbaiki sistem pemerintahan yang salah saat itu.
"Untuk gali akar masalah, lihat perspektif sejarah, pelajari pemimpin dari periode ke periode. Dalam menyelusuri secara periodik dan historical, lihat rahim-rahim kepemimpinan, benih tertanam disana," kata Tamrin dalam diskusi bertema Mencari Pemimpin Alternatif di Hotel Sultan, Jalan Jenderal Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Rabu (19/12/2012).
Dia mengatakan, pemimpin yang dapat mempelajari kesalahan dari pemimpin sebelumnya diyakini mampu untuk memberikan solusi dari permasalahan bangsa.
"Jadi rahim menjadi suatu tempat penanaman, pengembangan, dan pelahiran, dalam metafora. Hal ini dilakukan agar kita melahirkan pemimpin berkarakter dalam jumlah banyak," ucapnya.
Lebih lanjut dia mengatakan, tidak menampik jika cara ini dianggap radikal, karena dirinya menilai bahwa untuk menyelesaikan krisis kepemimpinan di suatu negara dibutuhkan cara yang radikal dan fundamental.
"Diperlukan penyelesaian radikal dan fundamental, tidak bisa lagi penyelesaian tambal sulam, reformasi itu tambal sulam. Harus penyelesaian yang mencari akar masalah dan solusi. Yang saya tawarkan, kuantitatif, sentralisasi, oligarki, dan pemimpin berkarakter," pungkasnya.
(maf)