Jelang Natal, harga ayam potong meroket
Selasa, 18 Desember 2012 - 16:37 WIB
Jelang Natal, harga ayam potong meroket
A
A
A
Sindonews.com – Harga ayam potong di Kulonprogo meroket jelang Natal dan Tahun Baru. Saat ini, harga ayam potong di pasaran mencapai Rp26 ribu perkilogram, naik dari semula hanya Rp18 ribu.
Salah satu pedagang ayam potong di Pasar Wates, Yulianti (50) mengatakan harga ayam potong sudah merangkak naik sejak sepekan terakhir. Menurutnya, kenaikan terjadi karena stok di peternakan terbatas.
“Kenaikan harga jadi tren setiap menghadapi hari besar nasional seperti Lebaran, Natal dan Tahun Baru,” kata Yulianti, Selasa (18/12).
Kenaikan harga di pasaran, kata dia, membuat permintaan ayam potong turun hingga 10 persen. Saat harga ayam potong masih di kisaran Rp18 ribu per kilogram, dia mampu menjual hingga 60 kilo dalam sehari. Tapi sekarang, dia hanya mampu menjual 40-50 kilogram saja.
“Harapannya, harga turun lagi agar permintaan stabil,” katanya.
Pedagang lainnya, Sumarni (52), warga Dusun Kalisoko, Desa Margosari, Kecamatan Pengasih menyampaikan keluhan serupa. Akibat kenaikan harga ini, dia terpaksa mengurangi pasokan ayam potong dari semula satu kwintal menjadi 60 kilogram per hari, karena permintaan turun drastis.
“Harga ayam tinggi, jumlah permintaan konsumen menurun cukup drastis. Saat harga masih Rp18 ribu per kilogram bisa menjual sampai satu kwintal, saat ini hanya sekitar 50-60 kilogram saja per hari,” katanya.
Selain karena keterbatasan stok setelah lebaran lalu, nuansa bulan Suro dinilai turut berpengaruh terhadap pembelian karena sebagian masyarakat Jawa tidak menggelar hajatan.
“Sekarang banyak konsumen yang memilih membeli kepala atau ceker,” terangnya.
Purwanto (36), salah satu pembeli mengeluhkan tingginya harga ayam potong. “Kami sangat keberatan dengana kenaikan harga yang sekarang Rp26 ribu perkilo. Kami berharap pemerintah bisa menstabilkan harga di pasaran sehingga masyarakat bisa mengkonsumsi ayam,” harapnya.
Salah satu pedagang ayam potong di Pasar Wates, Yulianti (50) mengatakan harga ayam potong sudah merangkak naik sejak sepekan terakhir. Menurutnya, kenaikan terjadi karena stok di peternakan terbatas.
“Kenaikan harga jadi tren setiap menghadapi hari besar nasional seperti Lebaran, Natal dan Tahun Baru,” kata Yulianti, Selasa (18/12).
Kenaikan harga di pasaran, kata dia, membuat permintaan ayam potong turun hingga 10 persen. Saat harga ayam potong masih di kisaran Rp18 ribu per kilogram, dia mampu menjual hingga 60 kilo dalam sehari. Tapi sekarang, dia hanya mampu menjual 40-50 kilogram saja.
“Harapannya, harga turun lagi agar permintaan stabil,” katanya.
Pedagang lainnya, Sumarni (52), warga Dusun Kalisoko, Desa Margosari, Kecamatan Pengasih menyampaikan keluhan serupa. Akibat kenaikan harga ini, dia terpaksa mengurangi pasokan ayam potong dari semula satu kwintal menjadi 60 kilogram per hari, karena permintaan turun drastis.
“Harga ayam tinggi, jumlah permintaan konsumen menurun cukup drastis. Saat harga masih Rp18 ribu per kilogram bisa menjual sampai satu kwintal, saat ini hanya sekitar 50-60 kilogram saja per hari,” katanya.
Selain karena keterbatasan stok setelah lebaran lalu, nuansa bulan Suro dinilai turut berpengaruh terhadap pembelian karena sebagian masyarakat Jawa tidak menggelar hajatan.
“Sekarang banyak konsumen yang memilih membeli kepala atau ceker,” terangnya.
Purwanto (36), salah satu pembeli mengeluhkan tingginya harga ayam potong. “Kami sangat keberatan dengana kenaikan harga yang sekarang Rp26 ribu perkilo. Kami berharap pemerintah bisa menstabilkan harga di pasaran sehingga masyarakat bisa mengkonsumsi ayam,” harapnya.
(ysw)