Prabowo tak ingin ada 'pemilih hantu' di 2014
Selasa, 18 Desember 2012 - 15:00 WIB
Prabowo tak ingin ada 'pemilih hantu' di 2014
A
A
A
Sindonews.com - Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto meminta agar Daftar Pemilih Tetap (DPT) pada Pemilu 2014 diperbaiki. Hal itu menurutnya perlu ditempuh agar tak terjadi kesalahan yang sama seperti pada Pemilu 2009 lalu.
Menurut dia, keberhasilan demokrasi dalam menjalankan Pemilu ialah ketepatan dalam menghasilkan DPT yang sesuai dengan ketentuan dan jumlah masyarakat yang berhak memilih.
"Siapapun yang ditampilkan (Capres) kita harus terima asal prosesnya benar. Di setiap demokrasi, kuncinya adalah daftar pemilih," jelasnya dalam diskusi Soegeng Sarjadi Syndicate (SSS) bertemakan “Masa Depan Indonesia: Tantangan 20 tahun ke Depan” dan Analisis Politik 2012: “Suara Tuhan: Suara Rakyat Versus Suara Elite”, di Hotel Four Seasons, Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (18/12/2012).
Karena menurut dia, pada Pemilu 2009 lalu banyak nama-nama yang tidak sesuai dengan DPT, dan menjadi pemilih 'hantu' dalam proses Pemilu tersebut.
"Bangsa ini suka lelucon. Kalau di daftar pemilih ada 20 persen ada nama hantu. Kita harus terima bangsa kita bangsa lelucon," tandasnya.
Bahkan menurut Prabowo, di tahun 2009 saja terdapat 20 juta nama fiktif yang semestinya tidak ada dalam DPT, namun nama-nama tersebut justru dapat memberikan suara pada Pemilu lalu.
"Kalau orang itu enggak ada jangan namanya dibikin. Tim kami dari Partai Gerindra mencatat ada 20 juta nama fiktif pada Pemilu 2009," katanya lagi.
Lebih lanjut dia menjelaskan penemuan nama fiktif pada Pemilu sebelumnya juga dirasakan oleh pasangan Jusuf Kalla (JK) dan Wiranto. Oleh karenanya, mantan purnawirawan TNI ini berharap agar kesalahan fatal tersebut tidak terulangi lagi pada Pemilu yang akan datang, sehingga proses demokrasi di Indonesia dapat berjalan sesuai harapan.
"Timnya Pak JK malah lebih menemukan angka fiktif yang lebih besar, itu dari beberapa ahli komputer, dia bisa buka. Ada software cepat yang bisa menghilangkan nama-nama fiktif itu dan terjadi pada Pilkada DKI, mereka bisa menghilangkan," pungkasnya.
Menurut dia, keberhasilan demokrasi dalam menjalankan Pemilu ialah ketepatan dalam menghasilkan DPT yang sesuai dengan ketentuan dan jumlah masyarakat yang berhak memilih.
"Siapapun yang ditampilkan (Capres) kita harus terima asal prosesnya benar. Di setiap demokrasi, kuncinya adalah daftar pemilih," jelasnya dalam diskusi Soegeng Sarjadi Syndicate (SSS) bertemakan “Masa Depan Indonesia: Tantangan 20 tahun ke Depan” dan Analisis Politik 2012: “Suara Tuhan: Suara Rakyat Versus Suara Elite”, di Hotel Four Seasons, Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (18/12/2012).
Karena menurut dia, pada Pemilu 2009 lalu banyak nama-nama yang tidak sesuai dengan DPT, dan menjadi pemilih 'hantu' dalam proses Pemilu tersebut.
"Bangsa ini suka lelucon. Kalau di daftar pemilih ada 20 persen ada nama hantu. Kita harus terima bangsa kita bangsa lelucon," tandasnya.
Bahkan menurut Prabowo, di tahun 2009 saja terdapat 20 juta nama fiktif yang semestinya tidak ada dalam DPT, namun nama-nama tersebut justru dapat memberikan suara pada Pemilu lalu.
"Kalau orang itu enggak ada jangan namanya dibikin. Tim kami dari Partai Gerindra mencatat ada 20 juta nama fiktif pada Pemilu 2009," katanya lagi.
Lebih lanjut dia menjelaskan penemuan nama fiktif pada Pemilu sebelumnya juga dirasakan oleh pasangan Jusuf Kalla (JK) dan Wiranto. Oleh karenanya, mantan purnawirawan TNI ini berharap agar kesalahan fatal tersebut tidak terulangi lagi pada Pemilu yang akan datang, sehingga proses demokrasi di Indonesia dapat berjalan sesuai harapan.
"Timnya Pak JK malah lebih menemukan angka fiktif yang lebih besar, itu dari beberapa ahli komputer, dia bisa buka. Ada software cepat yang bisa menghilangkan nama-nama fiktif itu dan terjadi pada Pilkada DKI, mereka bisa menghilangkan," pungkasnya.
(rsa)