DPR kembali desak hentikan pengiriman PRT
Selasa, 18 Desember 2012 - 12:44 WIB
DPR kembali desak hentikan pengiriman PRT
A
A
A
Sindonews.com - Maraknya penganiayaan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) dan berbagai kasus lainnya di luar negeri membuat Komisi I DPR RI merekomendasikan untuk menghentikan pengiriman TKI sektor non formal ke luar negeri.
"Pemerintah jangan takut berkurangnya remiten atau devisa yang disumbangkan oleh TKI. Kita punya peluang besar untuk mengirim tenaga profesional keluar negeri," ujar anggota Komisi I DPR Muhammad Najib ketika dihubungi dari DPR, Jakarta, Selasa (18/12/2012)
Politikus Partai Amanat Nasional (PAN) ini mencontohkan, kasus Satinah. TKI informal yang bekerja di Saudi Arabia itu hanya bisa pasrah akan nyawanya yang terancam hukuman mati.
"Penyelesaian dengan membayar diat bukanlah jalan keluar karena hanya akan mengundang lebih besar harga diat dan lebih banyak lagi kasus yang muncul," imbuhnya.
Menurutnya, fenomena pengiriman anak-anak dan perempuan ke luar negeri sebagai pembantu rumah tangga (PRT) merupakan pemandangan yang memilukan.
"Selain Indonesia hanya beberapa negara miskin dan terbelakang yang masih mengirim anak-anak perempuannya keluar negeri sebagai PRT. Melihat penderitaan mereka di negeri orang sungguh menyayat hati, memilukan sekaligus memalukan," tutup Najib.
"Pemerintah jangan takut berkurangnya remiten atau devisa yang disumbangkan oleh TKI. Kita punya peluang besar untuk mengirim tenaga profesional keluar negeri," ujar anggota Komisi I DPR Muhammad Najib ketika dihubungi dari DPR, Jakarta, Selasa (18/12/2012)
Politikus Partai Amanat Nasional (PAN) ini mencontohkan, kasus Satinah. TKI informal yang bekerja di Saudi Arabia itu hanya bisa pasrah akan nyawanya yang terancam hukuman mati.
"Penyelesaian dengan membayar diat bukanlah jalan keluar karena hanya akan mengundang lebih besar harga diat dan lebih banyak lagi kasus yang muncul," imbuhnya.
Menurutnya, fenomena pengiriman anak-anak dan perempuan ke luar negeri sebagai pembantu rumah tangga (PRT) merupakan pemandangan yang memilukan.
"Selain Indonesia hanya beberapa negara miskin dan terbelakang yang masih mengirim anak-anak perempuannya keluar negeri sebagai PRT. Melihat penderitaan mereka di negeri orang sungguh menyayat hati, memilukan sekaligus memalukan," tutup Najib.
(kur)