Langkah Dahlan jangan berhenti di DPR
Sabtu, 10 November 2012 - 13:40 WIB
Langkah Dahlan jangan berhenti di DPR
A
A
A
Sindonews.com - Pernyataan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan yang berani mengungkap permainan peras-memeras yang dilakukan oleh oknum DPR terhadap BUMN, ternyata mendapat tantangan dari berbagai pihak agar Dahlan terus menelisik kasus ini hingga tuntas.
Pengamat Parlemen Sebastian Salang mengatakan, agar Dahlan tidak hanya berhenti di DPR, tapi masih ada langkah-langkah yang harus ditempuhnya untuk menguak tuntas kasus itu.
"Permainan anggaran atau cerita minta jatah itu kan bukan cerita baru. Nah, karena itu Pak Dahlan muncul dengan keberanian mengungkap, kalau dia punya motivasi betul-betul murni dan jujur itu harus diapresiasi sebagai upaya untuk menghentikan praktek suap-menyuap dan intervensi yang dilakukan oleh politisi terhadap BUMN. Cuma tidak bisa hanya dengan cara menyampaikan sejumlah nama saja," ujarnya dalam diskusi SINDORadio di Warung Daun Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (10/11/2012)
Dikatakannya pergerakan Dahlan mestinya bisa lebih jauh daripada hanya menyampaikan ke Badan Kehormatan (BK) DPR.
"Misalnya bisa langsung saja ungkap ke KPK. Lalu yang kedua, posisi politisi yang selama ini nitip orang di BUMN itu juga diungkap," tambahnya.
Dia juga menambahkan, sejumlah politikus yang punya kepentingan bisnis terkait dengan energi dan sebagainya juga dibeberkan.
"Hanya dengan cara begitu akhirnya nanti terbuka semua, sebetulnya ada kejadian apa dan intervensi yang konteksnya apa itu harus dibuka," lanjutnya.
Namun terkait dengan hal tersebut, Sebastian menganggap DPR masih punya kesempatan untuk menjelaskan ke publik.
"Tidak semua DPR seperti yang digambarkan (Dahlan Iskan) itu," ujarnya.
Hingga saat ini Dahlan Iskan belum bisa memaparkan bukti-bukti terkait tuduhannya tersebut kepada BK. Surat yang disampaikan Dahlan kepada BK hanya berisi daftar sejumlah nama dan kronologis kejadian yang didengarnya dari Dirut BUMN terkait, itupun belum disertakannya bukti.
Pengamat Parlemen Sebastian Salang mengatakan, agar Dahlan tidak hanya berhenti di DPR, tapi masih ada langkah-langkah yang harus ditempuhnya untuk menguak tuntas kasus itu.
"Permainan anggaran atau cerita minta jatah itu kan bukan cerita baru. Nah, karena itu Pak Dahlan muncul dengan keberanian mengungkap, kalau dia punya motivasi betul-betul murni dan jujur itu harus diapresiasi sebagai upaya untuk menghentikan praktek suap-menyuap dan intervensi yang dilakukan oleh politisi terhadap BUMN. Cuma tidak bisa hanya dengan cara menyampaikan sejumlah nama saja," ujarnya dalam diskusi SINDORadio di Warung Daun Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (10/11/2012)
Dikatakannya pergerakan Dahlan mestinya bisa lebih jauh daripada hanya menyampaikan ke Badan Kehormatan (BK) DPR.
"Misalnya bisa langsung saja ungkap ke KPK. Lalu yang kedua, posisi politisi yang selama ini nitip orang di BUMN itu juga diungkap," tambahnya.
Dia juga menambahkan, sejumlah politikus yang punya kepentingan bisnis terkait dengan energi dan sebagainya juga dibeberkan.
"Hanya dengan cara begitu akhirnya nanti terbuka semua, sebetulnya ada kejadian apa dan intervensi yang konteksnya apa itu harus dibuka," lanjutnya.
Namun terkait dengan hal tersebut, Sebastian menganggap DPR masih punya kesempatan untuk menjelaskan ke publik.
"Tidak semua DPR seperti yang digambarkan (Dahlan Iskan) itu," ujarnya.
Hingga saat ini Dahlan Iskan belum bisa memaparkan bukti-bukti terkait tuduhannya tersebut kepada BK. Surat yang disampaikan Dahlan kepada BK hanya berisi daftar sejumlah nama dan kronologis kejadian yang didengarnya dari Dirut BUMN terkait, itupun belum disertakannya bukti.
(mhd)