Pengamanan terpidana teroris masih rapuh
Jum'at, 09 November 2012 - 08:26 WIB
Pengamanan terpidana teroris masih rapuh
A
A
A
Sindonews.com - Kaburnya terpidana terorisme Rocky Aprisdianto (29), disesalkan banyak pihak. Pasalnya, pengamanan terhadap teroris perlu ditingkatkan.
Anggota Komisi III Martin Hutabarat menilai, kaburnya Rocky dari rumah tahanan (Rutan) Polda Metro menjadi bukti pengamanan terhadap terpidana teroris masih lemah.
"Sistem pengamanan tahanan teroris ternyata rapuh, harus dievaluasi kedepan," ujarnya melalui pesan singkat yang diterima Sindonews, Jumat (9/11/2012).
Politikus Partai Gerindra ini mengatakan, penangkapan para teroris sangat sulit dan membutuhkan keberanian. Maka harus ada penjagaan yang lebih ketat supaya tidak mudah meloloskan diri dari tahanan.
Menurutnya harus ada yang diperbaikin dari sistem pengamanan terpidana teroris. "Kalau tidak masyarakat tidak akan percaya pada keseriusan Polri untuk menangkap para teroris," ujar Ketua DPP Partai Gerindra ini.
Petugas yang berjaga pada waktu itu, imbuh Martin, maka harus diberikan sanksi tegas supaya lebih cermat dalam melakukan penjagaan. Belajar dari kejadian ini, maka perlu kiranya dibangun rutan khusus buat para terpidana terorisme.
"Saya (kira) sudah saatnya dibangun satu tempat penahanan napi khusus teroris. Dalam rutan inilah dikembangkan konsep de radikalisasi itu dengan meminta bantuan ulama untuk berdialog dengan mereka agar terbuka wawasannya, supaya jangan picik memahami agama," pungkasnya.
Anggota Komisi III Martin Hutabarat menilai, kaburnya Rocky dari rumah tahanan (Rutan) Polda Metro menjadi bukti pengamanan terhadap terpidana teroris masih lemah.
"Sistem pengamanan tahanan teroris ternyata rapuh, harus dievaluasi kedepan," ujarnya melalui pesan singkat yang diterima Sindonews, Jumat (9/11/2012).
Politikus Partai Gerindra ini mengatakan, penangkapan para teroris sangat sulit dan membutuhkan keberanian. Maka harus ada penjagaan yang lebih ketat supaya tidak mudah meloloskan diri dari tahanan.
Menurutnya harus ada yang diperbaikin dari sistem pengamanan terpidana teroris. "Kalau tidak masyarakat tidak akan percaya pada keseriusan Polri untuk menangkap para teroris," ujar Ketua DPP Partai Gerindra ini.
Petugas yang berjaga pada waktu itu, imbuh Martin, maka harus diberikan sanksi tegas supaya lebih cermat dalam melakukan penjagaan. Belajar dari kejadian ini, maka perlu kiranya dibangun rutan khusus buat para terpidana terorisme.
"Saya (kira) sudah saatnya dibangun satu tempat penahanan napi khusus teroris. Dalam rutan inilah dikembangkan konsep de radikalisasi itu dengan meminta bantuan ulama untuk berdialog dengan mereka agar terbuka wawasannya, supaya jangan picik memahami agama," pungkasnya.
(mhd)