Jemaah Depok keluhkan pelayanan haji
Senin, 05 November 2012 - 12:05 WIB
Jemaah Depok keluhkan pelayanan haji
A
A
A
Sindonews.com - Para jemaah haji Indonesia yang berasal dari kloter 60 JKS Kota Depok kecewa dengan pelayanan jemaah haji tahun ini. Pasalnya, pelayanan makanan bagi para jemaah dinilai tidak layak.
"Hal ini juga terjadi saat jemaah berada di Mina padahal tahun lalu dengan besar ONH (ongkos naik haji) Rp31 juta pelayanan cukup maksimal, bahkan jemaah tidak mengenal yang namanya ikan teri atau beras raskin. Karena saat itu makanan yang disajikan cukup memanusiakan manusia tidak seperti sekarang ini dengan besaran ONH hampir Rp35 juta tapi makanan yang dikonsumsi tidak sesuai," kata Pimpinan kloter 60 JKS yang juga Ketua Kelompok Bimbingan Ibadah Haji Habib Idrus Al Gadhri dalam rilis kepada wartawan, Senin (5/11/2012).
Saat diprotes ke pihak maktab, kata Idris, mereka berdalih hal itu sudah sesuai dengan keinginan pemerintah RI. Katering yang dibagikan saat di Arafah juga berlogo Departemen Agama Republik Indonesia.
"Kami berharap kepada pihak RI atau pihak terkait memeriksa kasus ini dan memanggil pihak daker Makkah dan kami berharap kepada pemerintah jangan memanfaatkan kalimat sabar untuk jemaah haji. Tapi untuk mendzolimi para calhaj dan ingat mereka adalah tamu-tamu Allah yang harus dihormati dan diperlakukan manusiawi dan jangan selalu disodorkan dikit-dikit sabar dikit-dikit sabar, padahal dari kesabaran mereka hanya untuk meraih keuntungan pribadi," tukasnya.
Lanjutnya, belum lagi kenakalan pihak maktab 27 daerah yang menjual kemah ke jemaah non kuota dan ini hampir terjadi setiap tahun. Jemaah non kuota mendapat fasiltas super mewah dimana mereka berangkat ke Muzdalifah dan Mina lebih awal sekitar jam 1 malam melalui pintu belakang.
"Ini yang dilakukan oleh maktab-maktab nakal, suatu contoh saat kloter kami memasuki kemah Arafah secara diam-diam pada malam harinya mereka memasuki jemaah non kuota untuk menempati kemah yang sudah diatur per kloter. Sementara jamaah haji ONH harus antre panjang sampai pagi dan berebut untuk menaiki mobil yang telah disediakan pihak maktab termasuk jemaah haji kloter 60 JKS yang berasal dari Depok," bebernya.
"Hal ini juga terjadi saat jemaah berada di Mina padahal tahun lalu dengan besar ONH (ongkos naik haji) Rp31 juta pelayanan cukup maksimal, bahkan jemaah tidak mengenal yang namanya ikan teri atau beras raskin. Karena saat itu makanan yang disajikan cukup memanusiakan manusia tidak seperti sekarang ini dengan besaran ONH hampir Rp35 juta tapi makanan yang dikonsumsi tidak sesuai," kata Pimpinan kloter 60 JKS yang juga Ketua Kelompok Bimbingan Ibadah Haji Habib Idrus Al Gadhri dalam rilis kepada wartawan, Senin (5/11/2012).
Saat diprotes ke pihak maktab, kata Idris, mereka berdalih hal itu sudah sesuai dengan keinginan pemerintah RI. Katering yang dibagikan saat di Arafah juga berlogo Departemen Agama Republik Indonesia.
"Kami berharap kepada pihak RI atau pihak terkait memeriksa kasus ini dan memanggil pihak daker Makkah dan kami berharap kepada pemerintah jangan memanfaatkan kalimat sabar untuk jemaah haji. Tapi untuk mendzolimi para calhaj dan ingat mereka adalah tamu-tamu Allah yang harus dihormati dan diperlakukan manusiawi dan jangan selalu disodorkan dikit-dikit sabar dikit-dikit sabar, padahal dari kesabaran mereka hanya untuk meraih keuntungan pribadi," tukasnya.
Lanjutnya, belum lagi kenakalan pihak maktab 27 daerah yang menjual kemah ke jemaah non kuota dan ini hampir terjadi setiap tahun. Jemaah non kuota mendapat fasiltas super mewah dimana mereka berangkat ke Muzdalifah dan Mina lebih awal sekitar jam 1 malam melalui pintu belakang.
"Ini yang dilakukan oleh maktab-maktab nakal, suatu contoh saat kloter kami memasuki kemah Arafah secara diam-diam pada malam harinya mereka memasuki jemaah non kuota untuk menempati kemah yang sudah diatur per kloter. Sementara jamaah haji ONH harus antre panjang sampai pagi dan berebut untuk menaiki mobil yang telah disediakan pihak maktab termasuk jemaah haji kloter 60 JKS yang berasal dari Depok," bebernya.
(mhd)