Sering konflik, kebersamaan warga luntur
Minggu, 04 November 2012 - 12:27 WIB
Sering konflik, kebersamaan warga luntur
A
A
A
Sindonews.com - Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) menilai, beragam konflik horizontal yang belakangan marak terjadi menandakan semangat gotong royong rakyat Indonesia mulai luntur.
Ketua Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (FPKB) di DPR Marwan Ja'far mengatakan, keharmonisan sosial yang selama ini terjalin mulai terkoyak. Ini bisa dilihat dari begitu mudahnya emosi masyarakat tersulut sehingga berujung konflik berdarah.
"Kerusuhan di Poso dan Lampung yang baru saja terjadi menjadi bukti yang amat telanjang akan rapuhnya rajutan kebersamaan dalam masyarakat," ujarnya dalam rilis yang diterima SINDO di Jakarta, Minggu (4/11/2012).
Pertanyaan besarnya, jelas Marwan, mengapa konflik begitu mudah tersulut di masyarakat, bahkan melanda para pelajar dan mahasiswa. Khusus untuk pelajar dan mahasiswa, maraknya tawuran antar pelajar menunjukkan institusi pendidikan lupa mengajarkan akan visi dasar pendidikan.
"Pendidikan yang hanya mengajarkan pengetahuan semata hanya akan menciptakan manusia yang tercabut dari lingkungan sosialnya dan melupakan nilai-nilai kemanusiaan," jelasnya.
Sementara untuk beberapa kasus konflik masyarakat seperti di Poso, Palu, Lampung, dan daerah lain, ungkap Ketua DPP PKB ini, negara harus mampu melihat ke akar masalah sehingga penyelesaiannya pun tidak hanya pada permukaan dan parsial.
"Sistem deteksi dini tampaknya harus benar-benar diterapkan negara untuk daerah-daerah yang rawan konflik dan punya sejarah konflik," ungkapnya.
Anggota komisi V DPR ini menambahkan, konflik sosial dan konflik horizontal harus dihilangkan agar tidak timbul anomali-anomali sosial yang bisa merusak stabilitas bangsa dan negara.
"Melihat keadaan yang makin hari makin meresahkan ini, masyarakat perlu gelorakan Indonesia tanpa konflik serta mari kita tumbuhkan rasa saling percaya dan saling menghormati antar sesama anak bangsa," tandasnya.
Ketua Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (FPKB) di DPR Marwan Ja'far mengatakan, keharmonisan sosial yang selama ini terjalin mulai terkoyak. Ini bisa dilihat dari begitu mudahnya emosi masyarakat tersulut sehingga berujung konflik berdarah.
"Kerusuhan di Poso dan Lampung yang baru saja terjadi menjadi bukti yang amat telanjang akan rapuhnya rajutan kebersamaan dalam masyarakat," ujarnya dalam rilis yang diterima SINDO di Jakarta, Minggu (4/11/2012).
Pertanyaan besarnya, jelas Marwan, mengapa konflik begitu mudah tersulut di masyarakat, bahkan melanda para pelajar dan mahasiswa. Khusus untuk pelajar dan mahasiswa, maraknya tawuran antar pelajar menunjukkan institusi pendidikan lupa mengajarkan akan visi dasar pendidikan.
"Pendidikan yang hanya mengajarkan pengetahuan semata hanya akan menciptakan manusia yang tercabut dari lingkungan sosialnya dan melupakan nilai-nilai kemanusiaan," jelasnya.
Sementara untuk beberapa kasus konflik masyarakat seperti di Poso, Palu, Lampung, dan daerah lain, ungkap Ketua DPP PKB ini, negara harus mampu melihat ke akar masalah sehingga penyelesaiannya pun tidak hanya pada permukaan dan parsial.
"Sistem deteksi dini tampaknya harus benar-benar diterapkan negara untuk daerah-daerah yang rawan konflik dan punya sejarah konflik," ungkapnya.
Anggota komisi V DPR ini menambahkan, konflik sosial dan konflik horizontal harus dihilangkan agar tidak timbul anomali-anomali sosial yang bisa merusak stabilitas bangsa dan negara.
"Melihat keadaan yang makin hari makin meresahkan ini, masyarakat perlu gelorakan Indonesia tanpa konflik serta mari kita tumbuhkan rasa saling percaya dan saling menghormati antar sesama anak bangsa," tandasnya.
(ysw)