Perkembangan mental bangsa Indonesia semakin kuat
Sabtu, 03 November 2012 - 15:17 WIB
Perkembangan mental bangsa Indonesia semakin kuat
A
A
A
Sindonews.com - Penghargaan yang diberikan Ratu Elizabeth II kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), akan berdampak positif bagi perkembangan mental (inlander) bangsa Indonesia.
"Sebab, gelar Knight Grand Cross in the Order of Bath (Ksatria Palang Pintu Kamar Mandi) yang diberikan kepada SBY dengan alasan yang tidak jelas, dan dalam waktu yang tidak tepat karena di tanah air sedang terjadi konflik horizontal berdarah-darah, membuat masyarakat Indonesia tidak memberikan apresiasi sama sekali," ujar Koordinator Gerakan Indonesia Bersih (GIB) Adhie M Massardi di Jakarta, Sabtu (3/11/2012).
Menurutnya, kini rakyat Indonesia menjadi terbuka matanya, ternyata gelar dari luar negeri yang semula dianggap prestisius, ternyata bagian dari pola pendekatan negara asing ke Indonesia.
Seperti diakui Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi dan Pembangunan Firmanzah, usai pemberian gelar "Knight" oleh Ratu Elizabeth II, Presiden SBY kemudian menandatangani perjanjian konsesi tambang Tangguh Train 3 senilai USD 12 M (Rp113 T) untuk British Petroleum, perusahaan minyak Inggris.
"Selain tidak ada manfaatnya, gelar yang diterima SBY berbau tukar-guling dengan ijin eksploitasi kekayaan alam kita," katanya.
Adhie menambahkan, bangsa Indonesia memang menjadi tidak respek lagi terhadap gelar yang aneh-aneh dari luar negeri, karena selalu ada "udang di balik gelar".
"Sehingga kepercayaan diri bangsa Indonesia pun kini meningkat dan jadi lebih mantap," tandasnya.
"Sebab, gelar Knight Grand Cross in the Order of Bath (Ksatria Palang Pintu Kamar Mandi) yang diberikan kepada SBY dengan alasan yang tidak jelas, dan dalam waktu yang tidak tepat karena di tanah air sedang terjadi konflik horizontal berdarah-darah, membuat masyarakat Indonesia tidak memberikan apresiasi sama sekali," ujar Koordinator Gerakan Indonesia Bersih (GIB) Adhie M Massardi di Jakarta, Sabtu (3/11/2012).
Menurutnya, kini rakyat Indonesia menjadi terbuka matanya, ternyata gelar dari luar negeri yang semula dianggap prestisius, ternyata bagian dari pola pendekatan negara asing ke Indonesia.
Seperti diakui Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi dan Pembangunan Firmanzah, usai pemberian gelar "Knight" oleh Ratu Elizabeth II, Presiden SBY kemudian menandatangani perjanjian konsesi tambang Tangguh Train 3 senilai USD 12 M (Rp113 T) untuk British Petroleum, perusahaan minyak Inggris.
"Selain tidak ada manfaatnya, gelar yang diterima SBY berbau tukar-guling dengan ijin eksploitasi kekayaan alam kita," katanya.
Adhie menambahkan, bangsa Indonesia memang menjadi tidak respek lagi terhadap gelar yang aneh-aneh dari luar negeri, karena selalu ada "udang di balik gelar".
"Sehingga kepercayaan diri bangsa Indonesia pun kini meningkat dan jadi lebih mantap," tandasnya.
(mhd)