Hewan kurban ditemukan tak layak dikonsumsi
Jum'at, 26 Oktober 2012 - 19:12 WIB
Hewan kurban ditemukan tak layak dikonsumsi
A
A
A
Sindonews.com - Hasil pemeriksaan gabungan oleh Dinas Peternakan dan Perikanan (Distanak), Ditjen peternakan dan Kesehatan Kementerian Pertanian RI, dan tim Pemeriksaan Hewan Kurban menemukan hewan kurban yang tak layak konsumsi.
"Kita menemukan satu ekor kambing kurban di Pesantren Al-Hamidiyah yang keracunan dengan cirri-ciri seluruh daging dan lainnya berwarna hijau, hati sudah tidak merah," ujar Tim Pemeriksaan Hewan Depok Aepul, di Depok, Jumat (26/10/2012).
Atas kondisi itu, dirinya meminta kepada panitia kurban untuk memisahkan dan menunggu hasil penelitian dari Distanak Depok. Sehari sebelumnya, ditemukan juga sebanyak tiga ekor kambing dengan mulut keropeng. Dia menyarankan, seusai menyembelih agar dimulut kambing yang keropeng agar dibersihkan.
"Kalau yang lain tidak ada, paling cuma kambingnya banyak yang kena sakit flu. Ya maklum, mungkin habis perjalanan jauh dan menyesuaikan tempat baru," terangnya.
Selain itu, dirinya juga menemukan dua ekor sapi dengan kondisi hati yang penuh cacing di tempat pemotongan kurban RT 2/2 Rangkapan Jaya.
Menurutnya, hati sapi tersebut tidak bisa dikonsumsi. “Di tempat lain kita menemukan adanya dua ekor sapi yang di hatinya terdapat cacing. Cuma, satunya hatinya mengeras dan penuh dengan telor cacing. Kita sarankan agar tidak konsumsi pada bagian hatinya,” paparnya.
Kepala Seksi Kesehatan Hewan dan Masyarakat Distanak Kota Depok Aresa Setiawati membenarkan, adanya kambing yang mengalami keracunan. Menurutnya, keracunan tersebut disebabkan karena kambing itu mengkonsumsi tumbuh-tumbuhan dan dalam waktu yang lama.
"Jadi, kambing kurban yang keracunan itu sudah lama di dalam tubuhnya dan bukan sebelum disembelih. Atas kondisi itu, kita minta agar tidak mengkonsumsinya dan menanamnya dalam tanah. Semuanya tidak bisa dikonsumsi dan harus dikubur agar kuman maupun bakterinya menyebar," ujarnya.
Sementara itu, Ketua Panitia Kurban Pesantren Al-Hamidiyah Fahmi Azizudin mengaku pihaknya hanya menerima hewan kurban.
Menurutnya, sebelum disembelih kambing tersebut menunjukkan adanya tanda-tanda sakit parah. Namun, setelah penyembelihan baru diketahui oleh tim pemeriksaan
hewan.
"Kita menemukan satu ekor kambing kurban di Pesantren Al-Hamidiyah yang keracunan dengan cirri-ciri seluruh daging dan lainnya berwarna hijau, hati sudah tidak merah," ujar Tim Pemeriksaan Hewan Depok Aepul, di Depok, Jumat (26/10/2012).
Atas kondisi itu, dirinya meminta kepada panitia kurban untuk memisahkan dan menunggu hasil penelitian dari Distanak Depok. Sehari sebelumnya, ditemukan juga sebanyak tiga ekor kambing dengan mulut keropeng. Dia menyarankan, seusai menyembelih agar dimulut kambing yang keropeng agar dibersihkan.
"Kalau yang lain tidak ada, paling cuma kambingnya banyak yang kena sakit flu. Ya maklum, mungkin habis perjalanan jauh dan menyesuaikan tempat baru," terangnya.
Selain itu, dirinya juga menemukan dua ekor sapi dengan kondisi hati yang penuh cacing di tempat pemotongan kurban RT 2/2 Rangkapan Jaya.
Menurutnya, hati sapi tersebut tidak bisa dikonsumsi. “Di tempat lain kita menemukan adanya dua ekor sapi yang di hatinya terdapat cacing. Cuma, satunya hatinya mengeras dan penuh dengan telor cacing. Kita sarankan agar tidak konsumsi pada bagian hatinya,” paparnya.
Kepala Seksi Kesehatan Hewan dan Masyarakat Distanak Kota Depok Aresa Setiawati membenarkan, adanya kambing yang mengalami keracunan. Menurutnya, keracunan tersebut disebabkan karena kambing itu mengkonsumsi tumbuh-tumbuhan dan dalam waktu yang lama.
"Jadi, kambing kurban yang keracunan itu sudah lama di dalam tubuhnya dan bukan sebelum disembelih. Atas kondisi itu, kita minta agar tidak mengkonsumsinya dan menanamnya dalam tanah. Semuanya tidak bisa dikonsumsi dan harus dikubur agar kuman maupun bakterinya menyebar," ujarnya.
Sementara itu, Ketua Panitia Kurban Pesantren Al-Hamidiyah Fahmi Azizudin mengaku pihaknya hanya menerima hewan kurban.
Menurutnya, sebelum disembelih kambing tersebut menunjukkan adanya tanda-tanda sakit parah. Namun, setelah penyembelihan baru diketahui oleh tim pemeriksaan
hewan.
(mhd)