Ridwan Saidi: Partai Islam tak cerminkan Islam
Sabtu, 20 Oktober 2012 - 15:28 WIB
Ridwan Saidi: Partai Islam tak cerminkan Islam
A
A
A
Sindonews.com - Pengamat partai Islam Ridwan Saidi menduga hasil survei yang menyebutkan merosotnya partai Islam pada Pemilu 2014 mendatang terjadi karena sosok partai dan para tokohnya yang tidak mencerminkan Islam.
"Sejak tahun 1982 hingga sekarang, disebut kafir orang yang enggak milih partai Islam. Namun, justru banyak tokohnya yang terlibat korupsi seperti data yang didata KPK. Nah masyarakat jadi tidak simpatik. Hal itu belum ditambah jumlah istri yang banyak," tutur Ridwan dalam diskusi "Partai Islam Melorot", di Warung Daun, Jakarta, Sabtu (20/10/2012).
Dengan pengamatan seperti ini agaknya berat untuk Partai Islam menjaga reputasinya. Menurut Ridwan, orang lebih baik berislam dengan jalur dia sendiri lalu sedangkan untuk segi politiknya dia memilih kebebasan.
"Seperti pilkada kemarin, ngumpul semua partai Islam tapi pada kalah. Malah kalau lihat dari hasil verifikasi, drop semua kecuali PAN," katanya.
Menurut budayawan Betawi yang juga mantan anggota Partai Persatuan Pembangunan (PPP) ini menilai, ketokohan, program, dan perilaku yang harus disadari dan dikoreksi jika suara partai islam ini merosot. Kehadiran tokoh nasional dalam partai Islam pun dianggapnya penting.
Sedangkan Adji Al Faraby, peneliti dari Lingkaran Survei Indonesia (LSI) yang ikut terlibat dalam diskusi itu mengatakan, faktor yang paling terpenting diperhatikan partai demi citranya adalah pendanaannya.
"Finansial Partai itu cukup penting sehingga mendukung partai itu sendiri untuk bisa lebih bebas melakukan sosialisasi, mengekspose di media dan melakukan kerja-kerja politik di lapangan," kata Adji.
"Sejak tahun 1982 hingga sekarang, disebut kafir orang yang enggak milih partai Islam. Namun, justru banyak tokohnya yang terlibat korupsi seperti data yang didata KPK. Nah masyarakat jadi tidak simpatik. Hal itu belum ditambah jumlah istri yang banyak," tutur Ridwan dalam diskusi "Partai Islam Melorot", di Warung Daun, Jakarta, Sabtu (20/10/2012).
Dengan pengamatan seperti ini agaknya berat untuk Partai Islam menjaga reputasinya. Menurut Ridwan, orang lebih baik berislam dengan jalur dia sendiri lalu sedangkan untuk segi politiknya dia memilih kebebasan.
"Seperti pilkada kemarin, ngumpul semua partai Islam tapi pada kalah. Malah kalau lihat dari hasil verifikasi, drop semua kecuali PAN," katanya.
Menurut budayawan Betawi yang juga mantan anggota Partai Persatuan Pembangunan (PPP) ini menilai, ketokohan, program, dan perilaku yang harus disadari dan dikoreksi jika suara partai islam ini merosot. Kehadiran tokoh nasional dalam partai Islam pun dianggapnya penting.
Sedangkan Adji Al Faraby, peneliti dari Lingkaran Survei Indonesia (LSI) yang ikut terlibat dalam diskusi itu mengatakan, faktor yang paling terpenting diperhatikan partai demi citranya adalah pendanaannya.
"Finansial Partai itu cukup penting sehingga mendukung partai itu sendiri untuk bisa lebih bebas melakukan sosialisasi, mengekspose di media dan melakukan kerja-kerja politik di lapangan," kata Adji.
(rsa)