Patung Jenderal Sudirman akan dibangun di Mabes TNI
Selasa, 09 Oktober 2012 - 10:32 WIB
Patung Jenderal Sudirman akan dibangun di Mabes TNI
A
A
A
Sindonews.com - Dalam waktu dekat pemerintah berencana akan membangun monumen perjuangan di halaman pintu masuk Markas Besar Tentara Nasional Indonesia (TNI) di Cilangkap, Jakarta Timur. Menindaklanjuti rencana itu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pagi ini, Selasa (9/10/2012) meninjau lokasi tersebut.
Kepala Pusat Sejarah TNI, Brigadir Jenderal Rusdi Zaini kepada Presiden SBY mengatakan, diperkirakan membutuhkan waktu sekira enam hingga delapan bulan untuk membangun monumen tersebut.
Monumen yang dipilih adalah sosok Panglima Besar TNI Jenderal Sudirman. Patung Jenderal Sudirman akan dibuat dari tembaga.
"Rencana pembangunan monumen perjuangan akan kita bangun tepat di halaman depan. Ditengahnya monumen Panglima Jenderal Sudirman pada saat sedang bergerilya di tandu," kata Rusdi di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur, Selasa (9/10/2012).
Rusdi menambahkan bahwa selain monumen perjuangan, pihaknya juga akan membuat relief sejarah perjuangan Jenderal Sudirman.
"Dibawahnya dibuat relief sejarah perjuangan beliau (Sudirman). Dari mulai izin ke Presiden Soekarno untuk gerilya, Ibu Sudirman (istri) menjual emas untuk biaya gerilya, hingga prosesi wafat dan pemakaman," paparnya.
Rudi berharap dengan adanya monumen tersebut diharapkan dapat menumbuhkan jiwa patriotisme bangsa Indonesia dan sebagai wujud penghargaan kepada tokoh pendiri bangsa.
Rusdi menjelaskan, tak jauh dari monumen tersebut juga akan dibangun sebanyak 21 relief sejarah perjuangan Indonesia mulai dari kebangkitan nasional hingga kembali dasar negara ke UUD 1945.
Sementara itu, Presiden SBY dalam sambutanya menjelaskan ide dasar pembangunan monumen perjuangan tersebut guna mengabadikan perjuangan operasi militer 1945-1949 sampai awal tahun 1960 sebelum momentum Dwikora berkobar.
"Dua tahun lalu kami tentu tidak lengkap kalau ada Trikora-Dwikora dan Seroja, tetapi awal perjuangan tidak diabadikan. Mengabadikan operasi mliter 1945-1949 sampai awal tahun 1960-an sebelum Dwikora. Tanpa gerilya pak Dirman tidak mungkin berdiri. Berterima kasih juga kepada Bung Karno dan Hatta. Tapi jangan lupa panglima," papar SBY.
SBY juga meminta agar monumen yang menggambarkan perjuangan para tokoh tersebut bisa dijaga dan dipelihara. "Pesan saya betul-betul dipelihara dengan baik," katanya.
Kepala Pusat Sejarah TNI, Brigadir Jenderal Rusdi Zaini kepada Presiden SBY mengatakan, diperkirakan membutuhkan waktu sekira enam hingga delapan bulan untuk membangun monumen tersebut.
Monumen yang dipilih adalah sosok Panglima Besar TNI Jenderal Sudirman. Patung Jenderal Sudirman akan dibuat dari tembaga.
"Rencana pembangunan monumen perjuangan akan kita bangun tepat di halaman depan. Ditengahnya monumen Panglima Jenderal Sudirman pada saat sedang bergerilya di tandu," kata Rusdi di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur, Selasa (9/10/2012).
Rusdi menambahkan bahwa selain monumen perjuangan, pihaknya juga akan membuat relief sejarah perjuangan Jenderal Sudirman.
"Dibawahnya dibuat relief sejarah perjuangan beliau (Sudirman). Dari mulai izin ke Presiden Soekarno untuk gerilya, Ibu Sudirman (istri) menjual emas untuk biaya gerilya, hingga prosesi wafat dan pemakaman," paparnya.
Rudi berharap dengan adanya monumen tersebut diharapkan dapat menumbuhkan jiwa patriotisme bangsa Indonesia dan sebagai wujud penghargaan kepada tokoh pendiri bangsa.
Rusdi menjelaskan, tak jauh dari monumen tersebut juga akan dibangun sebanyak 21 relief sejarah perjuangan Indonesia mulai dari kebangkitan nasional hingga kembali dasar negara ke UUD 1945.
Sementara itu, Presiden SBY dalam sambutanya menjelaskan ide dasar pembangunan monumen perjuangan tersebut guna mengabadikan perjuangan operasi militer 1945-1949 sampai awal tahun 1960 sebelum momentum Dwikora berkobar.
"Dua tahun lalu kami tentu tidak lengkap kalau ada Trikora-Dwikora dan Seroja, tetapi awal perjuangan tidak diabadikan. Mengabadikan operasi mliter 1945-1949 sampai awal tahun 1960-an sebelum Dwikora. Tanpa gerilya pak Dirman tidak mungkin berdiri. Berterima kasih juga kepada Bung Karno dan Hatta. Tapi jangan lupa panglima," papar SBY.
SBY juga meminta agar monumen yang menggambarkan perjuangan para tokoh tersebut bisa dijaga dan dipelihara. "Pesan saya betul-betul dipelihara dengan baik," katanya.
(rsa)