Jabal Uhud di bawah sengatan sejarah
Sabtu, 06 Oktober 2012 - 21:16 WIB
Jabal Uhud di bawah sengatan sejarah
A
A
A
Sindonews.com - Matahari kian meninggi dan suhu terus memanas, tak menurunkan niat para peziarah-calon jemaah haji dari lintas benua, untuk melakukan napak tilas perjuangan Islam. Disela-sela kesibukan dalam menunaikan salat dan ziarah di Masjid Nabawi Madinah, mereka mendatangi Jabal Uhud atau Bukit Uhud.
Menurut pantauan di lokasi, Sabtu (6/10/2012), calon jemaah Indonesia dan jemaah lintas benua sangat antusias dan mendalami peristiwa di Jabal Uhud. Puluhan bahkan ribuan jemaah selalu memadati tempat yang menyimpan torehan tetesan darah dan pengorbanan perjuangan permulaan sejarah Islam.
Siapa yang tidak kenal Jabal Uhud? Jabal Uhud atau Bukit Uhud terletak sekitar lima kilometer sebelah barat laut Madinah Arab Saudi. Bukit ini memanjang dari timur ke barat sepanjang sekitar 10 kilometer.
Di bawah Jabal Uhud ini ada sebuah bukit yang di beri nama bukit Ar Rumah yang artinya pemanah. Di bukit itulah Nabi Muhammad SAW pernah menempatkan 50 orang pemanah yang dipimpin oleh Abdullah bin Jubair al Anshir.
Jabal Uhud memang menjadi saksi bisu atas peristiwa peperangan yang dahsyat dan tak seimbang pada 15 Syawal Tahun Ke-3 Hijroyah atau 625 Masehi.
Kaum muslimin yang dipimpin oleh Nabi Muhammad sebanyak 1.000 orang melawan kaum Quraish yang terdiri dari 3.000 pasukan berkuda dan onta.
Kekalahan terjadi menimpa kaum muslimin. Meski kemenangan sebenarnya diperoleh, namun akibat ketidak-patuhan regu pemanah di atas bukit membuat pasukan kaum muslimin dapat didesak mundur oleh pasukan kafir.
Dalam perang ini, sekitar 70 pasukan kaum muslimin gugur sebegai suhada termasuk paman nabi Hamzah bin Abdul mutholib.
Saat ini, Jabal Uhud telah menjadi tonggak sejarah yang hidup sepanjang masa di hati umat Islam. Para peziarah dan kaum muslimin seluruh dunia terus mengenang peristiwa yang terjadi di Jabal Uhud.
Bagi para peziarah yang datang, mereka tampak khusu' memberikan doa kepada para suhada yang tewas dalam peperangan di Uhud. Tak jarang dari mereka meneteskan air mata dan merasa terharu atas perjuangan para suhada.
Namun, berdasarkan saksi para peziarah yang telah mengunjungi, Jabal Uhud terus mengalami perubahan. Erosi akibat gugurnya bebatuan membuat Bukit Ar Rumah, di tempatkannya pasukan pemanah semakin rendah. Di bukit Ar Rumah, masih dapat terlihat jelas, pemandangan tempat peperangan termasuk makam para suhada uhud.
Untuk makam para suhada Uhud, juga sudah di pagari oleh pemerintah Arab Saudi dengan ketinggian mencapai tiga meter. Namun, jemaah dapat melihat melalui celah pagar, sekumpulan batu yang menjadi simbol atau nisan makam para suhada.
Selain itu, perubahan juga terjadi di sekitar bukit Uhud. Selain sudah dicor dengan semen, saat ini juga sudah di penuhi para pedagang. Mereka menjajakan barang dagangannya sebagai oleh-oleh dari tasbih, hingga buah kurma dan pakaian.
Para peziarah, umumnya tak melepaskan begitu saja ke Jabal Uhud dengan tangan hampa. Mereka tentu membeli buah tangan atau oleh-oleh sebagai kenang-kenangan termasuk berphoto bersama teman-teman atau keluarga.
Moga dengan bertambahnya zaman, Jabal Uhud tetap menjadi momentum nilai bahwa umat Islam harus tetap bersatu dengan memperkuat tali silahturahmi. Sebab dengan kesatuan dan kekompakan, Islam akan tetap jaya sepanjang masa sebagai agama Rahmatan Lil 'Alamin.
Menurut pantauan di lokasi, Sabtu (6/10/2012), calon jemaah Indonesia dan jemaah lintas benua sangat antusias dan mendalami peristiwa di Jabal Uhud. Puluhan bahkan ribuan jemaah selalu memadati tempat yang menyimpan torehan tetesan darah dan pengorbanan perjuangan permulaan sejarah Islam.
Siapa yang tidak kenal Jabal Uhud? Jabal Uhud atau Bukit Uhud terletak sekitar lima kilometer sebelah barat laut Madinah Arab Saudi. Bukit ini memanjang dari timur ke barat sepanjang sekitar 10 kilometer.
Di bawah Jabal Uhud ini ada sebuah bukit yang di beri nama bukit Ar Rumah yang artinya pemanah. Di bukit itulah Nabi Muhammad SAW pernah menempatkan 50 orang pemanah yang dipimpin oleh Abdullah bin Jubair al Anshir.
Jabal Uhud memang menjadi saksi bisu atas peristiwa peperangan yang dahsyat dan tak seimbang pada 15 Syawal Tahun Ke-3 Hijroyah atau 625 Masehi.
Kaum muslimin yang dipimpin oleh Nabi Muhammad sebanyak 1.000 orang melawan kaum Quraish yang terdiri dari 3.000 pasukan berkuda dan onta.
Kekalahan terjadi menimpa kaum muslimin. Meski kemenangan sebenarnya diperoleh, namun akibat ketidak-patuhan regu pemanah di atas bukit membuat pasukan kaum muslimin dapat didesak mundur oleh pasukan kafir.
Dalam perang ini, sekitar 70 pasukan kaum muslimin gugur sebegai suhada termasuk paman nabi Hamzah bin Abdul mutholib.
Saat ini, Jabal Uhud telah menjadi tonggak sejarah yang hidup sepanjang masa di hati umat Islam. Para peziarah dan kaum muslimin seluruh dunia terus mengenang peristiwa yang terjadi di Jabal Uhud.
Bagi para peziarah yang datang, mereka tampak khusu' memberikan doa kepada para suhada yang tewas dalam peperangan di Uhud. Tak jarang dari mereka meneteskan air mata dan merasa terharu atas perjuangan para suhada.
Namun, berdasarkan saksi para peziarah yang telah mengunjungi, Jabal Uhud terus mengalami perubahan. Erosi akibat gugurnya bebatuan membuat Bukit Ar Rumah, di tempatkannya pasukan pemanah semakin rendah. Di bukit Ar Rumah, masih dapat terlihat jelas, pemandangan tempat peperangan termasuk makam para suhada uhud.
Untuk makam para suhada Uhud, juga sudah di pagari oleh pemerintah Arab Saudi dengan ketinggian mencapai tiga meter. Namun, jemaah dapat melihat melalui celah pagar, sekumpulan batu yang menjadi simbol atau nisan makam para suhada.
Selain itu, perubahan juga terjadi di sekitar bukit Uhud. Selain sudah dicor dengan semen, saat ini juga sudah di penuhi para pedagang. Mereka menjajakan barang dagangannya sebagai oleh-oleh dari tasbih, hingga buah kurma dan pakaian.
Para peziarah, umumnya tak melepaskan begitu saja ke Jabal Uhud dengan tangan hampa. Mereka tentu membeli buah tangan atau oleh-oleh sebagai kenang-kenangan termasuk berphoto bersama teman-teman atau keluarga.
Moga dengan bertambahnya zaman, Jabal Uhud tetap menjadi momentum nilai bahwa umat Islam harus tetap bersatu dengan memperkuat tali silahturahmi. Sebab dengan kesatuan dan kekompakan, Islam akan tetap jaya sepanjang masa sebagai agama Rahmatan Lil 'Alamin.
(mhd)