Penggunaan mesin absen sidik jari tidak efektif
Selasa, 02 Oktober 2012 - 11:00 WIB
Penggunaan mesin absen sidik jari tidak efektif
A
A
A
Sindonews.com - Penggunaan mesin absensi dengan rekam sidik jari dinilai tidak akan efektif mengatasi banyaknya anggota DPR yang bolos mengikuti sidang. Pasalnya, tidak ada efek jera yang ditimbulkan dari penggunaan mesin absensi tersebut kepada anggota DPR yang datang terlambat, dan bolos.
Wakil Ketua Komisi I DPR TB Hasanuddin mengatakan, dirinya sejak awal sangat tidak menyetujui penggunaan mesin absensi dengan rekam sidik jari, karena terkesan memaksa anggota DPR untuk melakukan hal yang sebenarnya sudah kewajibannya.
"Di militer, pangkat kapten saja sudah enggak pernah diabsen. Tapi kalau ini adalah jalan terakhir supaya tidak ada lagi yang nitip absen, ya apa boleh buat," katanya di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (2/10/2012).
Dia mengungkapkan, seharusnya nama-nama anggota DPR yang tidak mengikuti sidang paripurna atau rapat lainnya dipamerkan di sebuah papan pengumuman. Dengan begitu, akan memunculkan efek jera bagi anggota yang tetap membolos.
Sebelumnya, Ketua Badan Kehormatan (BK) DPR M Prakosa mengatakan, DPR mulai menggunakan absensi dengan rekam sidik jari pada paripurna kali ini. Perekaman sidik jari dilakukan sesaat sebelum sidang paripurna dimulai, untuk memastikan kehadiran para anggota dewan.
DPR sendiri menyediakan setidaknya 14 mesin absen dengan rekam sidik jari, dan sebuah mesin handprint yang menghabiskan anggaran Rp290 juta. Mesin absensi tersebut rencananya akan diletakkan di setiap pintu ruang sidang pari purna DPR.
Wakil Ketua Komisi I DPR TB Hasanuddin mengatakan, dirinya sejak awal sangat tidak menyetujui penggunaan mesin absensi dengan rekam sidik jari, karena terkesan memaksa anggota DPR untuk melakukan hal yang sebenarnya sudah kewajibannya.
"Di militer, pangkat kapten saja sudah enggak pernah diabsen. Tapi kalau ini adalah jalan terakhir supaya tidak ada lagi yang nitip absen, ya apa boleh buat," katanya di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (2/10/2012).
Dia mengungkapkan, seharusnya nama-nama anggota DPR yang tidak mengikuti sidang paripurna atau rapat lainnya dipamerkan di sebuah papan pengumuman. Dengan begitu, akan memunculkan efek jera bagi anggota yang tetap membolos.
Sebelumnya, Ketua Badan Kehormatan (BK) DPR M Prakosa mengatakan, DPR mulai menggunakan absensi dengan rekam sidik jari pada paripurna kali ini. Perekaman sidik jari dilakukan sesaat sebelum sidang paripurna dimulai, untuk memastikan kehadiran para anggota dewan.
DPR sendiri menyediakan setidaknya 14 mesin absen dengan rekam sidik jari, dan sebuah mesin handprint yang menghabiskan anggaran Rp290 juta. Mesin absensi tersebut rencananya akan diletakkan di setiap pintu ruang sidang pari purna DPR.
(lil)