Menghamba kapitalisme global, SBY kurang cerdas
Senin, 01 Oktober 2012 - 12:11 WIB
Menghamba kapitalisme global, SBY kurang cerdas
A
A
A
Sindonews.com - Kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ke New York, Amerika Serikat (AS), mendapat sorotan tajam pakar hukum tata negara Yusril Ihza Mahendra. Kerja sama di bidang perekonomian, mulai investasi, perdagangan, hingga energi, dianggap menghamba terhadap kepentingan negara super power tersebut.
"Pemimpin harus cerdas, tegas dan berani merumuskan konsep baru yang berakar pada budaya dan tradisi kita sendiri, agar kita tidak dikalahkan dan dikuasai," ujar Yusril dalam akun twitternya @Yusrilihza_Mhd, Senin (1/10/2012).
Ditambahkan dia, selama ini Indonesia kurang percaya diri dengan kemampuan sumber daya alam (SDA) yang dimilikinya hingga terus menjadi hamba bagi AS. Indonesia, sudah terlalu lama terjebak dengan sistem kapitalisme global yang selama ini menjeratnya.
"Sebagai bangsa, kita harus bangkit dengan kekuatan kita sendiri. Dayagunakan kekuatan itu untuk bangkit dan melawan. Jangan tunduk pada kapitalisme global," terangnya.
Lebih lanjut, Yusril melihat kedatangan Menteri Luar Negeri (Menlu) AS Hillary Clinton ke Indonesia dan menyampaikan pujian-pujian atas keberhasilan Indonesia dalam meningkatkan ekonomi masyarakat dan peran bangsa ini dalam percaturan politik dunia, khususnya Asia, dianggap sebagai jebakan.
"Kapitalisme global dengan berbagai cara mempengaruhi kita agar sesuaikan diri dengan sistem global yang membuat kita terjebak. Diperlukan kajian mendalam untuk bangun sistem bernegara yang diangkat dari kebudayaan dan kearifan kita sendiri, agar kita jadi bangsa yang kuat," terangnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, dalam situs resmi Kepresidenan, Presiden bersama rombongan memperdalam kerja sama di bidang perkonomian dan non ekonomi, serta di bidang politik guna memperkuat posisi Indonesia dalam percaturan politik dunia.
Dalam kunjungan kerja itu, Presiden ditemani Ibu Negara Ani Bambang Yudhoyono, Mensesneg Sudi Silalahi, Menlu Marty Natalegawa, Menperin MS Hidayat, Ketua UKP4 Kuntoro Mangkusubroto, dan Wantimpres Hassan Wirajuda.
Selain itu, tampak menemani Presiden, Ketua Kadin Suryo Bambang Sulisto, Utusan Khusus Presiden untuk MDGS Nila Moeloek, Duta Besar Indonesia untuk AS Dino Patti Djalal, dan Wakil Tetap RI untuk PBB Desra Percaya.
"Pemimpin harus cerdas, tegas dan berani merumuskan konsep baru yang berakar pada budaya dan tradisi kita sendiri, agar kita tidak dikalahkan dan dikuasai," ujar Yusril dalam akun twitternya @Yusrilihza_Mhd, Senin (1/10/2012).
Ditambahkan dia, selama ini Indonesia kurang percaya diri dengan kemampuan sumber daya alam (SDA) yang dimilikinya hingga terus menjadi hamba bagi AS. Indonesia, sudah terlalu lama terjebak dengan sistem kapitalisme global yang selama ini menjeratnya.
"Sebagai bangsa, kita harus bangkit dengan kekuatan kita sendiri. Dayagunakan kekuatan itu untuk bangkit dan melawan. Jangan tunduk pada kapitalisme global," terangnya.
Lebih lanjut, Yusril melihat kedatangan Menteri Luar Negeri (Menlu) AS Hillary Clinton ke Indonesia dan menyampaikan pujian-pujian atas keberhasilan Indonesia dalam meningkatkan ekonomi masyarakat dan peran bangsa ini dalam percaturan politik dunia, khususnya Asia, dianggap sebagai jebakan.
"Kapitalisme global dengan berbagai cara mempengaruhi kita agar sesuaikan diri dengan sistem global yang membuat kita terjebak. Diperlukan kajian mendalam untuk bangun sistem bernegara yang diangkat dari kebudayaan dan kearifan kita sendiri, agar kita jadi bangsa yang kuat," terangnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, dalam situs resmi Kepresidenan, Presiden bersama rombongan memperdalam kerja sama di bidang perkonomian dan non ekonomi, serta di bidang politik guna memperkuat posisi Indonesia dalam percaturan politik dunia.
Dalam kunjungan kerja itu, Presiden ditemani Ibu Negara Ani Bambang Yudhoyono, Mensesneg Sudi Silalahi, Menlu Marty Natalegawa, Menperin MS Hidayat, Ketua UKP4 Kuntoro Mangkusubroto, dan Wantimpres Hassan Wirajuda.
Selain itu, tampak menemani Presiden, Ketua Kadin Suryo Bambang Sulisto, Utusan Khusus Presiden untuk MDGS Nila Moeloek, Duta Besar Indonesia untuk AS Dino Patti Djalal, dan Wakil Tetap RI untuk PBB Desra Percaya.
(san)