Ironis, 1,7 juta anak jadi pekerja
Jum'at, 28 September 2012 - 11:03 WIB
Ironis, 1,7 juta anak jadi pekerja
A
A
A
Sindonews.com - Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Kemenakertrans) mencatat ada 1,7 juta anak yang masih dipekerjakan. Ironisnya, pemerintah baru bisa menangani sekira 20 ribu anak tersebut.
“Dari 1,7 juta ini baru sekitar 20 ribu yang berhasil kita tangani,” jelas Direktur Pengawasan Norma Kerja, Perempuan dan Anak Kemenakertrans Adji Dharma di sela penyerahan bantuan kepada anak-anak sekolah melalui program keluarga harapan di Pemkab Kulonprogo, Jumat
(28/9/2012).
Tingginya kasus ini tidak lepas dari kondisi sosial ekonomi masyarakat yang sebagian besar berasal dari keluarga kurang mampu. Anak-anak inilah, yang secara tidak sadar dieksploitasi keluarganya untuk menjadi pekerja anak.
Terkadang mereka menjadi tulang punggung keluarga, untuk mencari nafkah demi menghidupi keluarganya.
“Mestinya mereka ini berada di sekolah namun karena ketidakmampuan keluarganya, mereka ikut menanggung beban ekonomi keluarga,” terangnya.
Bupati Kulonprogo Hasto Wardoyo mengatakan, pihaknya baru saja melakukan survei dan pendataan terhadap anak-anak yang masih bekerja. Dari hasil inilah mereka dikumpulkan dan dikembalikan kepada orangtuanya untuk menjalani masa pendidikan. Biayanya ditanggung pemerintah melalui bantuan program harapan.
“Harapan kita bantuan tersebut bisa memacu mereka untuk giat belajar dan kelak lebih mandiri,”tutur Hasto.
“Dari 1,7 juta ini baru sekitar 20 ribu yang berhasil kita tangani,” jelas Direktur Pengawasan Norma Kerja, Perempuan dan Anak Kemenakertrans Adji Dharma di sela penyerahan bantuan kepada anak-anak sekolah melalui program keluarga harapan di Pemkab Kulonprogo, Jumat
(28/9/2012).
Tingginya kasus ini tidak lepas dari kondisi sosial ekonomi masyarakat yang sebagian besar berasal dari keluarga kurang mampu. Anak-anak inilah, yang secara tidak sadar dieksploitasi keluarganya untuk menjadi pekerja anak.
Terkadang mereka menjadi tulang punggung keluarga, untuk mencari nafkah demi menghidupi keluarganya.
“Mestinya mereka ini berada di sekolah namun karena ketidakmampuan keluarganya, mereka ikut menanggung beban ekonomi keluarga,” terangnya.
Bupati Kulonprogo Hasto Wardoyo mengatakan, pihaknya baru saja melakukan survei dan pendataan terhadap anak-anak yang masih bekerja. Dari hasil inilah mereka dikumpulkan dan dikembalikan kepada orangtuanya untuk menjalani masa pendidikan. Biayanya ditanggung pemerintah melalui bantuan program harapan.
“Harapan kita bantuan tersebut bisa memacu mereka untuk giat belajar dan kelak lebih mandiri,”tutur Hasto.
(ysw)