Remaja rentan termakan doktrin radikalisme
Minggu, 23 September 2012 - 15:40 WIB
Remaja rentan termakan doktrin radikalisme
A
A
A
Sindonews.com - Terduga teroris yang tertangkap aparat kepolisian belakangan ini banyak berusia remaja. Penelitian yang dilakukan Lazuardi Birru menyebut remaja yang berusia di bawah 25 tahun memang rentan termakan doktrin radikalisme.
"Penelitian kita di 2010 dan 2011 itu yang paling rentan adalah anak-anak muda. Kalau dari responden kita di survei nasional itu yang paling rentan adalah remaja di bawah usia 25 tahun," kata Ketua Lazuardi Birru Dhyah Madya Ruth pelatihan kepemudaan Birru Youth Training : Inspiring Future Leader for Peace di Cibubur, Jakarta Timur, Minggu (23/9/2012).
Untuk menanggulangi terorisme dan radikalisme, Lazuardi Birru sebuah yayasan yang berusaha mewujudkan Indonesia yang damai, membuat sejumlah program dengan melibatkan remaja di Jabodetabek dan Solo.
"Kita coba melibatkan mereka sehingga membuat program sesuai kemauan mereka seperti membuat komik hingga tiga seri terkait pengalaman-pengalaman eks pelaku terorisme yang bisa diambil kisah hidupnya untuk remaja-remaja, itu ide-ide anak-anak Solo," terangnya.
Terkait penangkapan terduga teroris yang terjadi kemarin, Dhyah mengharapkan kedepannya tidak ada lagi kasus-kasus terorisme.
"Kita harapkan jangan ada lagi, kita merasa mereka bukan pelaku. Remaja-remaja ini korban ideologi kekerasan yang mereka juga tak paham itu apa," sebutnya.
Sedangkan mengenai Rohis sebagai tempat perekrutan pelaku terorisme, Dhyah tidak menyetujuinya.
"Kita tidak bisa generalisir Rohis menjadi sarang teroris, itu tidak bisa karena tidak semua Rohis seperti itu," pungkasnya.
"Penelitian kita di 2010 dan 2011 itu yang paling rentan adalah anak-anak muda. Kalau dari responden kita di survei nasional itu yang paling rentan adalah remaja di bawah usia 25 tahun," kata Ketua Lazuardi Birru Dhyah Madya Ruth pelatihan kepemudaan Birru Youth Training : Inspiring Future Leader for Peace di Cibubur, Jakarta Timur, Minggu (23/9/2012).
Untuk menanggulangi terorisme dan radikalisme, Lazuardi Birru sebuah yayasan yang berusaha mewujudkan Indonesia yang damai, membuat sejumlah program dengan melibatkan remaja di Jabodetabek dan Solo.
"Kita coba melibatkan mereka sehingga membuat program sesuai kemauan mereka seperti membuat komik hingga tiga seri terkait pengalaman-pengalaman eks pelaku terorisme yang bisa diambil kisah hidupnya untuk remaja-remaja, itu ide-ide anak-anak Solo," terangnya.
Terkait penangkapan terduga teroris yang terjadi kemarin, Dhyah mengharapkan kedepannya tidak ada lagi kasus-kasus terorisme.
"Kita harapkan jangan ada lagi, kita merasa mereka bukan pelaku. Remaja-remaja ini korban ideologi kekerasan yang mereka juga tak paham itu apa," sebutnya.
Sedangkan mengenai Rohis sebagai tempat perekrutan pelaku terorisme, Dhyah tidak menyetujuinya.
"Kita tidak bisa generalisir Rohis menjadi sarang teroris, itu tidak bisa karena tidak semua Rohis seperti itu," pungkasnya.
(ysw)