Golkar tutup peluang konvensi
Kamis, 06 September 2012 - 22:35 WIB
Golkar tutup peluang konvensi
A
A
A
Sindonews.com - Kendati elektibilitas capres dari Partai Golkar Aburizal Bakrie jauh dari capres lain, Partai Golkar tampaknya tetap kekeuh mengusung ketua umum mereka. Penjaringan capres Partai Golkar dianggap sudah final dalam Rapimnas sehingga menutup kemungkinan melakukan konvensi.
Ketua DPP Partai Golkar Hadjriyanto T Thohari menegaskan, Partai Golkar tidak akan mengevaluasi bahkan memakai mekanisme konvensi untuk penetapan capres partai Golkar.
Keputusan Rapimnas bahwa Ical ditetapkan sebagai capres Golkar tidak dapat diganggu gugat dan dalam Rapimnas tersebut tidak ada klasual dari kader Golkar bahwa ke depannya pencapresan Ical akan di evaluasi maupun akan memakai mekanisme konvensi.
"Putusan Rapimnas merupakan keputusan tertinggi partai Golkar setelah Munas. Jadi tidak ada mekanisme lain yang akan digunakan untuk meninjau ulang pencapresan Ical, walaupun survei-survei selama ini elektabilitas Ical rendah. Dan survei itu juga tidak benar," kata Wakil Ketua MPR ini, Kamis (6/9/2012).
Sementara itu, mayoritas pengamat menyatakan penetapan capres partai Golkar melalui Rapimnas dinilai tidak tepat. Sebab itu, mekanisme konvensi dinilai lebih demokratis untuk partai berlambang pohon beringin tersebut.
Pengamat Politik dari Universitas Indonesia (UI) Boni Hargens mengatakan, kapabilitas, integritas, dan elektabilitas, Aburizal Bakrie (Ical) dinilai mempunyai seluruhnya.
"Dalam konteks ini, saya sarankan Golkar memakai mekanisme konvensi untuk menetapkan capresnya di 2014," ujarnya di Jakarta.
Dia melanjutkan, dengan masalah kasus tersebut, konsekuensinya, elektabilitas Ical akan berada jauh dibanding dibawah capres-capres yang akan maju dalam pilpres 2014 seperti Prabowo Subianto dari Gerindra, Megawati Soekarno Putri dari PDIP, atau Hary Tanoe dari NasDem, dan Pramono Edie dari Partai Demokrat yang kemungkinan akan diusung partainya.
Dia menjelaskan, penetapan Ical sebagai capres Golkar tersebut dinilai tidak menyalahi aturan, karena memang dia Ketua Umum (Ketum) Partai Golkar yang mempunyai kehendak dan kekuasaan di partai.
Sebab itu, mekanisme konvensi tidak dibuka oleh Golkar, karena apabila dibuka pencapresan Ical dapat dijegal kader lain seperti Jusuf Kalla, Sultan Hamengkubuwono X, Akbar Tanjung, maupun kader Golkar lainnya.
"Konvensi akan lebih demokratis buat internal Golkar. Tidak perlu menyebut kesimpulan bahwa konvensi dapat menjegal Ical. Yang jelas akan tampak kader menginginkan siapa," jelasnya.
Dia menambahkan, hal yang dijalankan Golkar saat ini, memang memperlihatkan politik transaksional dan pragmatis yang sudah melekat di dunia politik di Indonesia.
Logikanya, penguasaan politik disusul penguasaan ekonomi itu sudah satu paket yang dinilai dari materi menentukan posisi dalam parpol. Dalam artian, semakin capres mempunyai modal materi, semakin besar peluang memenangkan kompetisi.
"Namun, apabila Ical mengandalkan hal itu, maka Ical adalah kandidat capres 2014 yang maju untuk kalah," tandasnya.
Ketua DPP Partai Golkar Hadjriyanto T Thohari menegaskan, Partai Golkar tidak akan mengevaluasi bahkan memakai mekanisme konvensi untuk penetapan capres partai Golkar.
Keputusan Rapimnas bahwa Ical ditetapkan sebagai capres Golkar tidak dapat diganggu gugat dan dalam Rapimnas tersebut tidak ada klasual dari kader Golkar bahwa ke depannya pencapresan Ical akan di evaluasi maupun akan memakai mekanisme konvensi.
"Putusan Rapimnas merupakan keputusan tertinggi partai Golkar setelah Munas. Jadi tidak ada mekanisme lain yang akan digunakan untuk meninjau ulang pencapresan Ical, walaupun survei-survei selama ini elektabilitas Ical rendah. Dan survei itu juga tidak benar," kata Wakil Ketua MPR ini, Kamis (6/9/2012).
Sementara itu, mayoritas pengamat menyatakan penetapan capres partai Golkar melalui Rapimnas dinilai tidak tepat. Sebab itu, mekanisme konvensi dinilai lebih demokratis untuk partai berlambang pohon beringin tersebut.
Pengamat Politik dari Universitas Indonesia (UI) Boni Hargens mengatakan, kapabilitas, integritas, dan elektabilitas, Aburizal Bakrie (Ical) dinilai mempunyai seluruhnya.
"Dalam konteks ini, saya sarankan Golkar memakai mekanisme konvensi untuk menetapkan capresnya di 2014," ujarnya di Jakarta.
Dia melanjutkan, dengan masalah kasus tersebut, konsekuensinya, elektabilitas Ical akan berada jauh dibanding dibawah capres-capres yang akan maju dalam pilpres 2014 seperti Prabowo Subianto dari Gerindra, Megawati Soekarno Putri dari PDIP, atau Hary Tanoe dari NasDem, dan Pramono Edie dari Partai Demokrat yang kemungkinan akan diusung partainya.
Dia menjelaskan, penetapan Ical sebagai capres Golkar tersebut dinilai tidak menyalahi aturan, karena memang dia Ketua Umum (Ketum) Partai Golkar yang mempunyai kehendak dan kekuasaan di partai.
Sebab itu, mekanisme konvensi tidak dibuka oleh Golkar, karena apabila dibuka pencapresan Ical dapat dijegal kader lain seperti Jusuf Kalla, Sultan Hamengkubuwono X, Akbar Tanjung, maupun kader Golkar lainnya.
"Konvensi akan lebih demokratis buat internal Golkar. Tidak perlu menyebut kesimpulan bahwa konvensi dapat menjegal Ical. Yang jelas akan tampak kader menginginkan siapa," jelasnya.
Dia menambahkan, hal yang dijalankan Golkar saat ini, memang memperlihatkan politik transaksional dan pragmatis yang sudah melekat di dunia politik di Indonesia.
Logikanya, penguasaan politik disusul penguasaan ekonomi itu sudah satu paket yang dinilai dari materi menentukan posisi dalam parpol. Dalam artian, semakin capres mempunyai modal materi, semakin besar peluang memenangkan kompetisi.
"Namun, apabila Ical mengandalkan hal itu, maka Ical adalah kandidat capres 2014 yang maju untuk kalah," tandasnya.
(ysw)