Komisi IX 'curigai' hibah dari Amerika
Rabu, 05 September 2012 - 21:48 WIB
Komisi IX 'curigai' hibah dari Amerika
A
A
A
Sindonews.com - Anggota Komisi IX DPR Zuber Safawi mengingatkan, agar Indonesia berhati-hati dalam menerima hibah dari Amerika Serikat. Harus dipastikan hibah tersebut tanpa ada permintaan apapun dari pemerintah Amerika.
Belum lama ini, United States Agency for International Development (USAID) menghibahkan Indonesia berupa program Expanding Maternal and Neonatal Survival senilai Rp266 miliar.
Namun hibah ini diminta tanpa syarat. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) diminta mengawasinya agar sejalan dengan program kesehatan pemerintah.
"Hibah dari Amerika Serikat (AS) ini harus tanpa syarat apapun, tidak perlu pengiriman data-data kesehatan ke AS atau semacam ‘bargaining’ politik lainnya," kata Zuber di Jakarta, Rabu (5/9/2012).
Dia mengatakan, sebaiknya perlu bersikap hati-hati dalam menerima bantuan asing. Zuber mencontohkan, Program NavalMedical Research Unit 2 (Namru 2) yang berlangsung selama 39 tahun di Indonesia itu dinilainya sebagai instrumen kepentingan Amerika.
Kendati demikian, politikus PKS itu tidak menampik hibah berupa Program Emas dari Amerika tersebut menunjukkan perhatian dunia terhadap masalah kematian ibu di Indonesia.
Hal tersebut sejalan dengan capaian tujuan pembangunan millenium atau Millenium Development Goals (MDGs) yang targetnya pada 2015.
"Tingkat Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia masih mencapai 228 per 100 ribu kelahiran hidup, jauh di atas target MDGs nasional yang hanya 102 per 100 ribu kelahiran hidup," tandasnya.
Sebelumnya, Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi menjelaskan hibah USAID sebesar USD28 juta atau setara Rp266 miliar (kurs Rp9.500) akan dialirkan langsung kepada lembaga-lembaga mitra pelaksana proyek EMAS, antara lain JHPIEGO, Research Triangle Instite, Save the Children, Lembaga Kesehatan Budi Kemuliaan, dan Muhammadiyah.
Entah kebetulan atau tidak, bantuan ini diberikan bertepatan dengan kunjungan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Hillary Clinton, ke Indonesia pada 3 September 2012.
Belum lama ini, United States Agency for International Development (USAID) menghibahkan Indonesia berupa program Expanding Maternal and Neonatal Survival senilai Rp266 miliar.
Namun hibah ini diminta tanpa syarat. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) diminta mengawasinya agar sejalan dengan program kesehatan pemerintah.
"Hibah dari Amerika Serikat (AS) ini harus tanpa syarat apapun, tidak perlu pengiriman data-data kesehatan ke AS atau semacam ‘bargaining’ politik lainnya," kata Zuber di Jakarta, Rabu (5/9/2012).
Dia mengatakan, sebaiknya perlu bersikap hati-hati dalam menerima bantuan asing. Zuber mencontohkan, Program NavalMedical Research Unit 2 (Namru 2) yang berlangsung selama 39 tahun di Indonesia itu dinilainya sebagai instrumen kepentingan Amerika.
Kendati demikian, politikus PKS itu tidak menampik hibah berupa Program Emas dari Amerika tersebut menunjukkan perhatian dunia terhadap masalah kematian ibu di Indonesia.
Hal tersebut sejalan dengan capaian tujuan pembangunan millenium atau Millenium Development Goals (MDGs) yang targetnya pada 2015.
"Tingkat Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia masih mencapai 228 per 100 ribu kelahiran hidup, jauh di atas target MDGs nasional yang hanya 102 per 100 ribu kelahiran hidup," tandasnya.
Sebelumnya, Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi menjelaskan hibah USAID sebesar USD28 juta atau setara Rp266 miliar (kurs Rp9.500) akan dialirkan langsung kepada lembaga-lembaga mitra pelaksana proyek EMAS, antara lain JHPIEGO, Research Triangle Instite, Save the Children, Lembaga Kesehatan Budi Kemuliaan, dan Muhammadiyah.
Entah kebetulan atau tidak, bantuan ini diberikan bertepatan dengan kunjungan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Hillary Clinton, ke Indonesia pada 3 September 2012.
(ysw)