Yusril: Waspada pujian negara asing
Rabu, 05 September 2012 - 03:16 WIB
Yusril: Waspada pujian negara asing
A
A
A
Sindonews.com - Kedatangan Menteri Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Hillary Clinton ke Indonesia bertemu dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) terus mendapat sorotan. Diantaranya datang dari Yusril Ihza Mahendra, mantan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM).
Kendati tidak menyebut langsung Hillary, dalam akun twitternya, Yusril mengkritik sikap pemerintah yang mudah terlena dengan pujian negara-negara asing. Yusril mengatakan, pujian negara-negara asing sangat berbahaya, untuk itu pemerintah harus waspada.
"Kalo IMF, WTO, WB dan negara asing memuji2 negara kita, harus hati2. Zaman Orba dulu hal yg sama terjadi. Akhirnya kita babak belur," tulis Yusril dalam akun twitternya, Rabu (5/9/2012) dini hari.
Tulisan pakar hukum tata negara tersebut, langsung mendapatkan reaksi dari sejumlah pengguna twitter. Diantaranya datang dari pemilik akun @ariebw. Dia mengatakan, pandangan Yusril yang terlalu memandang curiga dunia asing dapat mengakibatkan bangsa ini jauh dari peradaban.
"Waduh prof kalo kita selalu curiga dgn asing kapan majunya?" Sy belajar dr sejarah dan pengalaman. Jangan terlena," balas pemilik akun @ariebw kepada Yusril.
Menanggapi hal itu, Yusril memberikan penjelasan lebih lanjut. Dia mengatakan, kerjasama dengan bangsa asing memang perlu dan harus dilakukan. Namun, tetap harus mengedepankan independensi sebagai suatu bangsa dan bukan menggantungkan setiap langkah kepada asing.
"Kerjasama dgnegara2 lain memang harus, karena ada interdependensi. Namun akhirnya ktlah yg harus tentukan nasib kita sendiri, bkn bngsa lain," jelas Yusril beberapa menit kemudian.
Lebih lanjut, Yusril mengingatkan, dalam peta politik global, setiap bangsa memiliki kepentingan masing-masing yang harus saling menguntungkan. Untuk itu, dia berpesan kepada generasi muda dan pemerintah untuk terus mempertahankan rasa nasionalisme dan sikap independensi.
"Jiwa nasionalisme atau kebangsaan tetap hrs dijaga dan dipelihara. Kalo tdk, kita hanya jadi antek dan mainan asing. Kadang2 kita bgt keras dan kejam kpd bangsa kt sendiri, tp kpd bangsa asing kita manggut2. Ini mental bangsa terjajah yg hrs dibasmi," terang Yusril.
Kendati tidak menyebut langsung Hillary, dalam akun twitternya, Yusril mengkritik sikap pemerintah yang mudah terlena dengan pujian negara-negara asing. Yusril mengatakan, pujian negara-negara asing sangat berbahaya, untuk itu pemerintah harus waspada.
"Kalo IMF, WTO, WB dan negara asing memuji2 negara kita, harus hati2. Zaman Orba dulu hal yg sama terjadi. Akhirnya kita babak belur," tulis Yusril dalam akun twitternya, Rabu (5/9/2012) dini hari.
Tulisan pakar hukum tata negara tersebut, langsung mendapatkan reaksi dari sejumlah pengguna twitter. Diantaranya datang dari pemilik akun @ariebw. Dia mengatakan, pandangan Yusril yang terlalu memandang curiga dunia asing dapat mengakibatkan bangsa ini jauh dari peradaban.
"Waduh prof kalo kita selalu curiga dgn asing kapan majunya?" Sy belajar dr sejarah dan pengalaman. Jangan terlena," balas pemilik akun @ariebw kepada Yusril.
Menanggapi hal itu, Yusril memberikan penjelasan lebih lanjut. Dia mengatakan, kerjasama dengan bangsa asing memang perlu dan harus dilakukan. Namun, tetap harus mengedepankan independensi sebagai suatu bangsa dan bukan menggantungkan setiap langkah kepada asing.
"Kerjasama dgnegara2 lain memang harus, karena ada interdependensi. Namun akhirnya ktlah yg harus tentukan nasib kita sendiri, bkn bngsa lain," jelas Yusril beberapa menit kemudian.
Lebih lanjut, Yusril mengingatkan, dalam peta politik global, setiap bangsa memiliki kepentingan masing-masing yang harus saling menguntungkan. Untuk itu, dia berpesan kepada generasi muda dan pemerintah untuk terus mempertahankan rasa nasionalisme dan sikap independensi.
"Jiwa nasionalisme atau kebangsaan tetap hrs dijaga dan dipelihara. Kalo tdk, kita hanya jadi antek dan mainan asing. Kadang2 kita bgt keras dan kejam kpd bangsa kt sendiri, tp kpd bangsa asing kita manggut2. Ini mental bangsa terjajah yg hrs dibasmi," terang Yusril.
(san)