Kerusuhan Sampang buat psikologi anak tertekan
Rabu, 29 Agustus 2012 - 01:09 WIB
Kerusuhan Sampang buat psikologi anak tertekan
A
A
A
Sindonews.com - Buntut kerusuhan yang berdasarkan perbedaan keyakinan di Desa Karanggayam, Kecamatan Omben, Kabupaten Bangkalan, Sampang, Madura, Jawa Timur, tidak hanya menyebabkan kerugian jiwa dan materiil saja. Namun, hampir separuh lebih anak yang masih di bawah umur juga menjadi korban, terancam pertumbuhannya secara psikoligis akibat konflik tersebut.
Data yang berhasil dihimpun relawan Centre for Marginalized Community Studies (CMARs) menyatakan, jumlah pengungsi yang ada di GOR Wijaya Kusuma Kota Sampang, hingga saat ini ada sebanyak 237 orang. Di mana, dari jumlah tersebut hampir sekira 50 persen merupakan kategori anak-anak.
Adapun rincianya, sebanyak 29 orang merupakan bayi di bawah umur lima tahun (Balita), 90 anak-anak, 63 dewasa laki-laki dan 55 dewasa perempuan. Mereka jadi satu di pengungsian, dengan beralas karpet dan tikar seadanya, berbaur dari dusun yang satu dengan dusun lain.
Besar kemungkinan, jumlah pengungsi tersebut semakin bertambah, karena informasi yang diperoleh dari relawan CMARs menyebutkan, petugas masih terus melakukan evakuasi terhadap beberapa korban yang ada di Dusun Nangkernang dan Blu'uran, Desa Karanggayam.
"Satu hal yang perlu diketahui, yang jadi korban dalam konflik tersebut berimbas pada anak. Kini, mereka berada di pengungsian dengan kondisi yang cukup apa adanya," ujar Direktur Eksekutif CMARs, Wahyuni Widiyaningsih, di Jawa Timur, Selasa 28 Agustus 2012.
Wahyuni menjelaskan, pihaknya bersama puluhan relawan akan memberikan perhatian khusus pada anak, namun tidak juga mengeyampingkan pengungsi yang lain. Alasannya, anak yang tidak paham akan konflik tersebut, dipaksa untuk hidup ditempat pengungsian, berkumpul dengan orang-orang dewasa yang bukan dari keluarganya.
Di sisi lain, dia juga akan memperhatikan psikologi anak yang ada di pengungsian, karena akan berpengaruh pada tumbuh kembang dari anak tersebut. Tak lupa pula, dia juga akan memasok kebutuhan khusus bagi anak, yang dibutuhkan dalam waktu dekat.
"Selain makanan dan minuman, kami juga memberi bantuan yang berasal dari masyarakat untuk kebutuhan anak, seperti pampers dan susu buat balita," imbuhnya.
Wahyuni menambahkan, tidak hanya kebutuhan pokok anak saja yang menjadi perhatian. Saat ini, dia bersama seluruh relawan CMARs, lagi memikirikan hak dasar anak berupa pendidikan. Sebab, hampir sebagian besar anak yang ada di pengungsian berstatus masih sekolah.
"Dengan adanya konflik tersebut, jelas mereka tidak masuk sekolah. Ini yang masih kami pikirkan solusinya seperti apa," ujarnya.
Senada dengan Wahyuni, Ketua Komite Anak Sampang (KAS) Untung Rifai mengatakan, puluhan anak yang ada di penampungan, tepatnya di lapangan tenis indor banyak yang terlihat murung dan melamun. Di mana, secara psikoligis mereka dalam kondisi bermasalah.
Dia bersama dengan relawan lain, memberi bantuan berupa bimbingan belajar dengan lebih banyak mengunakan sistem pendekatan dan pemulihan mental, seperti diminta untuk menulis harapan yang kemudian ditempelkan ke gambar yang berupa pohon ranting.
"Yang jelas, kami memahami anak-anak pengungsi saat ini. Secara psikisnya lebih parah dari pada saat kerusuhan pertama yang terjadi Desember 2011 lalu. Mereka nampak lebih murung dan kurang ceria," ucapnya.
Data yang berhasil dihimpun relawan Centre for Marginalized Community Studies (CMARs) menyatakan, jumlah pengungsi yang ada di GOR Wijaya Kusuma Kota Sampang, hingga saat ini ada sebanyak 237 orang. Di mana, dari jumlah tersebut hampir sekira 50 persen merupakan kategori anak-anak.
Adapun rincianya, sebanyak 29 orang merupakan bayi di bawah umur lima tahun (Balita), 90 anak-anak, 63 dewasa laki-laki dan 55 dewasa perempuan. Mereka jadi satu di pengungsian, dengan beralas karpet dan tikar seadanya, berbaur dari dusun yang satu dengan dusun lain.
Besar kemungkinan, jumlah pengungsi tersebut semakin bertambah, karena informasi yang diperoleh dari relawan CMARs menyebutkan, petugas masih terus melakukan evakuasi terhadap beberapa korban yang ada di Dusun Nangkernang dan Blu'uran, Desa Karanggayam.
"Satu hal yang perlu diketahui, yang jadi korban dalam konflik tersebut berimbas pada anak. Kini, mereka berada di pengungsian dengan kondisi yang cukup apa adanya," ujar Direktur Eksekutif CMARs, Wahyuni Widiyaningsih, di Jawa Timur, Selasa 28 Agustus 2012.
Wahyuni menjelaskan, pihaknya bersama puluhan relawan akan memberikan perhatian khusus pada anak, namun tidak juga mengeyampingkan pengungsi yang lain. Alasannya, anak yang tidak paham akan konflik tersebut, dipaksa untuk hidup ditempat pengungsian, berkumpul dengan orang-orang dewasa yang bukan dari keluarganya.
Di sisi lain, dia juga akan memperhatikan psikologi anak yang ada di pengungsian, karena akan berpengaruh pada tumbuh kembang dari anak tersebut. Tak lupa pula, dia juga akan memasok kebutuhan khusus bagi anak, yang dibutuhkan dalam waktu dekat.
"Selain makanan dan minuman, kami juga memberi bantuan yang berasal dari masyarakat untuk kebutuhan anak, seperti pampers dan susu buat balita," imbuhnya.
Wahyuni menambahkan, tidak hanya kebutuhan pokok anak saja yang menjadi perhatian. Saat ini, dia bersama seluruh relawan CMARs, lagi memikirikan hak dasar anak berupa pendidikan. Sebab, hampir sebagian besar anak yang ada di pengungsian berstatus masih sekolah.
"Dengan adanya konflik tersebut, jelas mereka tidak masuk sekolah. Ini yang masih kami pikirkan solusinya seperti apa," ujarnya.
Senada dengan Wahyuni, Ketua Komite Anak Sampang (KAS) Untung Rifai mengatakan, puluhan anak yang ada di penampungan, tepatnya di lapangan tenis indor banyak yang terlihat murung dan melamun. Di mana, secara psikoligis mereka dalam kondisi bermasalah.
Dia bersama dengan relawan lain, memberi bantuan berupa bimbingan belajar dengan lebih banyak mengunakan sistem pendekatan dan pemulihan mental, seperti diminta untuk menulis harapan yang kemudian ditempelkan ke gambar yang berupa pohon ranting.
"Yang jelas, kami memahami anak-anak pengungsi saat ini. Secara psikisnya lebih parah dari pada saat kerusuhan pertama yang terjadi Desember 2011 lalu. Mereka nampak lebih murung dan kurang ceria," ucapnya.
(mhd)