Intelijen lemah, negara dalam bahaya
Selasa, 28 Agustus 2012 - 20:10 WIB
Intelijen lemah, negara dalam bahaya
A
A
A
Sindonews.com - Anggota Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Tjahjo Kumolo menilai, pernyataan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bahwa intelijen lemah dalam mendeteksi kasus di Sampang cukup mengejutkan, sekaligus menyedihkan.
"Pernyataan Presiden SBY mengejutkan, karena seorang Presiden sampai membuat peryataan 'Intelejen lemah'. Berarti ini masalah serius yang bisa membahayakan negara dan rakyat, sehingga menurut saya sangat disayangkan pernyataan tersebut keluar dari Presiden," kata Tjahjo Kumolo, di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (28/8/2012).
Apa yang diungkapkan Presiden mau tak mau, telah menimbulkan kecemasan. Sebab ungkapan itu menunjukkan bahwa tingkat kinerja intelejen negara dan tingkat koordinasi jaringan intelejen kita lemah dan tidak berjalan.
Tidak hanya itu, bentuk kemarahan dan kekecewaan Presiden kepada jajaran intelijen negara juga menunjukkan bahwa tata kelola penyelenggaraan pemerintahan sudah pada posisi carut marut.
Padahal kunci sebuah keberhasilan pengambilan keputusan politik baik pusat maupun daerah, dan khususnya aparatur keamanan adalah pada hasil telaahan strategis dari intelijen untuk deteksi dini setiap gelagat dinamika yang berkembang di masyarakat.
"Kalau sampai sinyalemen Presiden tersebut benar, berarti sudah pada posisi yang membahayakan pemerintahan ini," terangnya.
"Pernyataan Presiden SBY mengejutkan, karena seorang Presiden sampai membuat peryataan 'Intelejen lemah'. Berarti ini masalah serius yang bisa membahayakan negara dan rakyat, sehingga menurut saya sangat disayangkan pernyataan tersebut keluar dari Presiden," kata Tjahjo Kumolo, di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (28/8/2012).
Apa yang diungkapkan Presiden mau tak mau, telah menimbulkan kecemasan. Sebab ungkapan itu menunjukkan bahwa tingkat kinerja intelejen negara dan tingkat koordinasi jaringan intelejen kita lemah dan tidak berjalan.
Tidak hanya itu, bentuk kemarahan dan kekecewaan Presiden kepada jajaran intelijen negara juga menunjukkan bahwa tata kelola penyelenggaraan pemerintahan sudah pada posisi carut marut.
Padahal kunci sebuah keberhasilan pengambilan keputusan politik baik pusat maupun daerah, dan khususnya aparatur keamanan adalah pada hasil telaahan strategis dari intelijen untuk deteksi dini setiap gelagat dinamika yang berkembang di masyarakat.
"Kalau sampai sinyalemen Presiden tersebut benar, berarti sudah pada posisi yang membahayakan pemerintahan ini," terangnya.
(san)