Polda Jatim gagal jaga keamanan di Sampang
Senin, 27 Agustus 2012 - 15:38 WIB
Polda Jatim gagal jaga keamanan di Sampang
A
A
A
Sindonews.com - Penyerangan antar dua kubu berbeda keyakinan terjadi di Sampang bukan pertama kalinya. Dengan akar masalah yang sama, peristiwa itu terus saja terjadi berulang-ulang.
Ketua Setara Institute Hendardi mengatakan penyerangan terhadap kelompok pemeluk Islam Syiah di Sampang sudah menjurus pada penyerangan sistematis dan terencana. Sebab, kejadiannya berulang-ulang kali muncul.
"Peristiwa Sampang merupakan potret terburuk jaminan kebebasan warga untuk beragama dan berkeyakinan di tahun 2012. Peristiwa tersebut sudah terjadi berulang kali dengan korban sama, yakni pemeluk Islam Syiah," ujar Hendardi, Senin (27/8/2012).
Keberulangan itu, lanjut Hendardi, terjadi karena kekerasan terus dibiarkan tanpa penegakan hukum.
"Kapolri harus turun tangan mengatasi serangan kelompok massa yang berulangkali," ujarnya, kepada wartawan di Jakarta.
Hendardi menilai, Polda Jatim gagal dalam menjaga keamanan dan melindungi warganya. Karena itu, sudah sepantasnya Kapolda Jatim dicopot dari jabatannya.
Begitu kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga harus menyikapi kekerasan itu sebagai kondisi darurat kebebasan beragama, yang tidak cukup diatasi dengan ceramah dan seruan untuk bertoleransi.
"Tindakan nyata Presiden yang bisa menghentikan persekusi atas mereka yang berbeda," imbuh Hendardi.
Ketua Setara Institute Hendardi mengatakan penyerangan terhadap kelompok pemeluk Islam Syiah di Sampang sudah menjurus pada penyerangan sistematis dan terencana. Sebab, kejadiannya berulang-ulang kali muncul.
"Peristiwa Sampang merupakan potret terburuk jaminan kebebasan warga untuk beragama dan berkeyakinan di tahun 2012. Peristiwa tersebut sudah terjadi berulang kali dengan korban sama, yakni pemeluk Islam Syiah," ujar Hendardi, Senin (27/8/2012).
Keberulangan itu, lanjut Hendardi, terjadi karena kekerasan terus dibiarkan tanpa penegakan hukum.
"Kapolri harus turun tangan mengatasi serangan kelompok massa yang berulangkali," ujarnya, kepada wartawan di Jakarta.
Hendardi menilai, Polda Jatim gagal dalam menjaga keamanan dan melindungi warganya. Karena itu, sudah sepantasnya Kapolda Jatim dicopot dari jabatannya.
Begitu kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga harus menyikapi kekerasan itu sebagai kondisi darurat kebebasan beragama, yang tidak cukup diatasi dengan ceramah dan seruan untuk bertoleransi.
"Tindakan nyata Presiden yang bisa menghentikan persekusi atas mereka yang berbeda," imbuh Hendardi.
(lns)