Hanura sayangkan kepemimpinan dengan hawa nafsu
Kamis, 09 Agustus 2012 - 18:21 WIB
Hanura sayangkan kepemimpinan dengan hawa nafsu
A
A
A
Sindonews.com - Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) mengaku prihatin atas kondisi kepemimpinan bangsa yang dijalankan dengan hawa nafsu dan ego kelompok.
"Sungguh disayangkan. Karena, sistem bernegara yang dikendalikan hawa nafsu akan menimbulkan kegamangan, bahkan keresahan di tengah masyarakat. Bahkan konflik terjadi begitu mudah antar sesama kita," ujar Ketua DPP Partai Hanura Kosuma Soekasah saat buka puasa bersama di Jakarta, Kamis (9/8/2012).
Dia menjelaskan, jalannya reformasi di Indonesia ternyata masih jauh dari harapan. Karena korupsi, kolusi, dan nepotisme masih tetap marak di Indonesia. Supremasi hukum juga jauh dari harapan karena tebang pilih, bahkan sandiwara hukum menjadi kenyataan yang terjadi.
"Bahkan dalam hal sosial budaya, era reformasi justru membuat kita mundur. Tak ada lagi sistem musyawarah mufakat, gotong royong, maupun keguyuban di mmasyarakat. Sekarang semua cenderung individualistik. Karena tergerus gaya hidup konsumtif yang justru seolah diajarkan pemerintah kepada rakyatnya," tegasnya.
Berangkat dari kegelisahan ini, Ketua Umum Kesatuan Buruh Hanura ini mengatakan bahwa Hanura ingin menggerakkan kembali hati nurani para elit bangsa agar sadar. Baik atau terpuruknya Indonesia tergantung kelakuan para elit.
"Jika kepemimpinan dan segala sendi bernegara dijalankan dengan nafsu dan ego, maka Indonesia seperti digalikan kubur menuju kegaduhan," terangnya.
"Sungguh disayangkan. Karena, sistem bernegara yang dikendalikan hawa nafsu akan menimbulkan kegamangan, bahkan keresahan di tengah masyarakat. Bahkan konflik terjadi begitu mudah antar sesama kita," ujar Ketua DPP Partai Hanura Kosuma Soekasah saat buka puasa bersama di Jakarta, Kamis (9/8/2012).
Dia menjelaskan, jalannya reformasi di Indonesia ternyata masih jauh dari harapan. Karena korupsi, kolusi, dan nepotisme masih tetap marak di Indonesia. Supremasi hukum juga jauh dari harapan karena tebang pilih, bahkan sandiwara hukum menjadi kenyataan yang terjadi.
"Bahkan dalam hal sosial budaya, era reformasi justru membuat kita mundur. Tak ada lagi sistem musyawarah mufakat, gotong royong, maupun keguyuban di mmasyarakat. Sekarang semua cenderung individualistik. Karena tergerus gaya hidup konsumtif yang justru seolah diajarkan pemerintah kepada rakyatnya," tegasnya.
Berangkat dari kegelisahan ini, Ketua Umum Kesatuan Buruh Hanura ini mengatakan bahwa Hanura ingin menggerakkan kembali hati nurani para elit bangsa agar sadar. Baik atau terpuruknya Indonesia tergantung kelakuan para elit.
"Jika kepemimpinan dan segala sendi bernegara dijalankan dengan nafsu dan ego, maka Indonesia seperti digalikan kubur menuju kegaduhan," terangnya.
(mhd)