Hartati Rayu Bupati Buol untuk amankan perusahaannya
Senin, 06 Agustus 2012 - 23:11 WIB
Hartati Rayu Bupati Buol untuk amankan perusahaannya
A
A
A
Sindonews.com - Pemilik perkebunan Kelapa Sawit Hartati Murdaya diketahui sempat melakukan pendekatan ke Bupati Buol Amran Batalipu. Pendekatan itu sendiri dimaksudkan untuk membujuk bupati non aktif tersebut untuk bisa mengamankan perusahaan Kelapa Sawit yang ada di Buol, Sulawesi Tengah.
Menurut kuasa hukum Amran, Amat Entedaim, kepercayaan masyarakat terhadap penegak hukum di Buol sangatlah rendah. Karena mereka lebih tunduk kepada kepala daerah. Hal tersebutlah yang akhirnya membuat Hartati merasa perlu untuk merayu Amran untuk dapat memberikan instruksi untuk pengamanan perusahaannya tersebut.
"Itu karena Bu Hartati punya kepentingan perusahaan di daerah itu. Karena menyangkut kondisi daerah buol, kalau bisa saya gambarkan di daerah buol itu polisi gak terlalu di dengar oleh masyarakat, yang didengar masyakat adalah pimpinan daerah. Makanya Ibu (Hartati meminta Amran) untuk ngamanin lokasi dia ada di sana, perkebunan dia ada disana, dia harus bermitra juga dengan penguasa daerah tak semata-mata hanya satpam polisi, gak bisa," kata Amat usai mendampingi kliennya menjalani pemeriksaan di kantor KPK, Jakarta, Senin (6/8/2012).
Amat melanjutkan, sebagai upaya untuk merayu Amran, Hartati kemudian melakukan perjanjian bisnis dengan Amran yang saat ini sudah ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK itu. Salah satunya adalah dengan memberi bantuan pada saat Amran kembali mencalonkan diri sebagai Bupati Buol pada pemilihan umum kepala daerah (Pilkada) Buol 2012 kemarin. Saking ngototnya Hartati agar mendapatkan simpati Amran, Hartati sampai memaksa agar Amran menemui dirinya.
Hartati pun diketahui memerintahkan anak buahnya Gondo Sudjono dan Yani Anshori meloby Amran. Namun, hal tersebut, menurut Amat, selalu di tolak.
Meski terus menolak, akhirnya Amran bertemu dengan Hartati. Namun, pertemuan tersebut, kata Amat, tak membahas soal permasalahan Hak Guna Usaha (HGU) perkebunan Hartati yang dikabarkan bersengketa dengan perusahaan kelapa sawit milih Artalita Suryani yakni PT Sonokeling Buana.
Menurut Amat, pertemuan tersebut hanya membahas soal rencana Amran maju sebagai calon incumbent dalam Pemilukada Buol. Singkat cerita, Hartai pun memberikan uang Rp3 Miliar untuk Amran. Uang tersebut diberikan jelang pelaksaan Pilkada Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah, pada bulan Juli 2012 lalu.
Uang itu diberikan saat Hartati mengundang Amran untuk bertemu di salah satu kantornya di Jakarta. Dikatakan Amat, jika bantuan yang diberikan saat itu berkaitan dengan kepentingan Pilkada Buol.
"Pak Amran diundang bertemu Ibu Hartati di kantornya. Beliau (Amran Batalipu) dijemput oleh stafnya di Bandara menuju ke kantornya," katanya.
Besaran sumbangan hingga Rp3 Miliar disebabkan anggota Dewan Pembina Partai Demokrat itu memiliki dua perusahaan yang bekerja di Buol, yaitu PT Cakra Cipta Murdaya dan PT Hardaya Inti Plantations.
Amat menegaskan jika itu murni bantuan Pilkada dan kontestan lain pun turut kecipratan bantuan dari pemilik Berca Group itu. "Kami punya fakta dan data-data soal itu. Semua akan kami beberkan di persidangan nantinya," pungkasnya.
Menurut kuasa hukum Amran, Amat Entedaim, kepercayaan masyarakat terhadap penegak hukum di Buol sangatlah rendah. Karena mereka lebih tunduk kepada kepala daerah. Hal tersebutlah yang akhirnya membuat Hartati merasa perlu untuk merayu Amran untuk dapat memberikan instruksi untuk pengamanan perusahaannya tersebut.
"Itu karena Bu Hartati punya kepentingan perusahaan di daerah itu. Karena menyangkut kondisi daerah buol, kalau bisa saya gambarkan di daerah buol itu polisi gak terlalu di dengar oleh masyarakat, yang didengar masyakat adalah pimpinan daerah. Makanya Ibu (Hartati meminta Amran) untuk ngamanin lokasi dia ada di sana, perkebunan dia ada disana, dia harus bermitra juga dengan penguasa daerah tak semata-mata hanya satpam polisi, gak bisa," kata Amat usai mendampingi kliennya menjalani pemeriksaan di kantor KPK, Jakarta, Senin (6/8/2012).
Amat melanjutkan, sebagai upaya untuk merayu Amran, Hartati kemudian melakukan perjanjian bisnis dengan Amran yang saat ini sudah ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK itu. Salah satunya adalah dengan memberi bantuan pada saat Amran kembali mencalonkan diri sebagai Bupati Buol pada pemilihan umum kepala daerah (Pilkada) Buol 2012 kemarin. Saking ngototnya Hartati agar mendapatkan simpati Amran, Hartati sampai memaksa agar Amran menemui dirinya.
Hartati pun diketahui memerintahkan anak buahnya Gondo Sudjono dan Yani Anshori meloby Amran. Namun, hal tersebut, menurut Amat, selalu di tolak.
Meski terus menolak, akhirnya Amran bertemu dengan Hartati. Namun, pertemuan tersebut, kata Amat, tak membahas soal permasalahan Hak Guna Usaha (HGU) perkebunan Hartati yang dikabarkan bersengketa dengan perusahaan kelapa sawit milih Artalita Suryani yakni PT Sonokeling Buana.
Menurut Amat, pertemuan tersebut hanya membahas soal rencana Amran maju sebagai calon incumbent dalam Pemilukada Buol. Singkat cerita, Hartai pun memberikan uang Rp3 Miliar untuk Amran. Uang tersebut diberikan jelang pelaksaan Pilkada Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah, pada bulan Juli 2012 lalu.
Uang itu diberikan saat Hartati mengundang Amran untuk bertemu di salah satu kantornya di Jakarta. Dikatakan Amat, jika bantuan yang diberikan saat itu berkaitan dengan kepentingan Pilkada Buol.
"Pak Amran diundang bertemu Ibu Hartati di kantornya. Beliau (Amran Batalipu) dijemput oleh stafnya di Bandara menuju ke kantornya," katanya.
Besaran sumbangan hingga Rp3 Miliar disebabkan anggota Dewan Pembina Partai Demokrat itu memiliki dua perusahaan yang bekerja di Buol, yaitu PT Cakra Cipta Murdaya dan PT Hardaya Inti Plantations.
Amat menegaskan jika itu murni bantuan Pilkada dan kontestan lain pun turut kecipratan bantuan dari pemilik Berca Group itu. "Kami punya fakta dan data-data soal itu. Semua akan kami beberkan di persidangan nantinya," pungkasnya.
(mhd)