Uji Kompetensi Guru dihentikan sementara
Jum'at, 03 Agustus 2012 - 08:54 WIB
Uji Kompetensi Guru dihentikan sementara
A
A
A
Sindonews.com - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menghentikan uji kompetensi guru (UKG) di lokasi yang bermasalah dan menundanya hingga Oktober nanti.
Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Penjaminan Mutu Pendidik (Kepala BPSDMP dan PMP) Kemendikbud Syawal Gultom mengatakan, pelaksanaan UKG yang 100 persen berhasil ada di Bangka Belitung (Babel), Sulawesi Selatan (Sulsel) dan Kalimantan Selatan (Kalsel).
Namun, dia tidak menampik masih banyak yang bermasalah sehingga sedianya UKG gelombang pertama ini dilaksanakan pada 30 Juli hingga 12 Agustus untuk sementara UKG dihentikan dulu sambil menunggu proses perbaikan.
Dia juga ingin memastikan bahwa para guru sudah tidak perlu datang ke tempat uji kompetensi (TUK) hingga 2 Oktober nanti. Kementerian juga sudah mengeluarkan pengumuman akan hal ini ke daerah dan meminta pemerintah daerah untuk meneruskannya ke setiap guru yang mengikuti UKG.
“Semua TUK yang lancar harus lanjut karena kenyataannya ada beberapa provinsi yang TUK-nya berjalan 100 persen apa harus dihentikan. Kecuali yang bermasalah ditunda hingga Oktober,” katanya kepada wartawan kemarin.
Mantan Rektor Universitas Medan (Unimed) ini menjelaskan, persoalan yang terjadi masih pada perubahan data dan gangguan jaringan internet. Namun, dia menegaskan, pada Oktober nanti tidak akan terulang lagi data yang berbeda dan kegagalan koneksi karena yang mengikuti ujian hanyalah guru yang sudah terdata sebelumnya.
Para teknisi dan operator juga akan dilatih kembali untuk menyukseskan UKG tahap kedua yang dijadwalkan pada 2 Oktober hingga 2 November nanti.
Sekretaris Jenderal Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) Retno Listyarti mengungkapkan, daerah yang koneksi servernya rusak pada hari kedua UKG seperti di Bandung.
Di sini juga data peserta tes tidak terverifikasi sehingga nama peserta tidak sinkron dengan soal. Dari gelombang pertama hingga ketiga untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia, Bahasa Jepang, Bimbingan Konseling, dan Pendidikan Kewarganegaraan tidak terkoneksi internet sehingga mereka dipulangkan.
Kegagalan juga terjadi di Indragiri Hilir. Para peserta hanya absen dan pulang. Yang disesalkan adalah para peserta di daerah kepulauan ini rata-rata berasal dari daerah jauh dan harus menginap semalam.
Kegagalan juga terjadi di Brebes, Slawi,Tegal, Purbalingga, Medan, Purwakarta,Bogor,Garut, Jakarta, Sumatera Selatan, Semarang, Boyolali, dan Bekasi.
Ketua Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PB PGRI) Sulistiyo menegaskan, UKG harus dihentikan. Kalaupun ada daerah yang terhubung oleh server, hasilnya tidak akan menggambarkan kompetensi yang dapat dijadikan pertimbangan dalam melaksanakan pembinaan guru.
Bahkan kemungkinan dapat kontraproduktif dengan upaya peningkatan mutu pendidikan. Dia meminta, kalaupun ada guru yang sudah mengerjakan UKG, sebaiknya hasil UKG tidak dianalisis dulu.
“Digitalisasi soal tidak benar. Sistem yang belum profesional atau rapuh jika dipaksa untuk dipetakan tidak akan mampu menghasilkan analisis yang tepat,” lugasnya.
Sulistiyo meminta Kemendikbud jangan membuat kebohongan publik dengan menyalahkan operator dan guru karena kegagalan UKG.
Dia mengingatkan, petugas operator komputer sudah bekerja dengan keras untuk UKG ini. Para guru bahkan satu minggu terakhir ini sudah membedah kisi-kisi soal, belajar bahan uji, dan berlatih memakai komputer hingga waktu mengajarnya kurang maksimal.
Karena itu, Kemendikbud harus berani jujur dan introspeksi diri untuk mengakui mutu sistem dan data guru serta digitalisasi soal yang buruk yang menyebabkan kegagalan ini.
Anggota DPD ini menerangkan, UKG memang sepatutnya dihentikan. Kemendikbud saat ini harus fokus melakukan perbaikan. Setelah yakin perbaikan selesai, diuji coba dulu sebelum UKG gelombang kedua dipaksakan kembali.
“Guru yang sudah datang ke TUK sudah meninggalkan tugas mengajarnya selama berhari-hari dan dengan biaya sendiri. Jadi tidak hanya siswa yang dirugikan namun guru juga dirugikan akan keadaan ini. ini semua terjadi karena persiapan yang minim,” ungkapnya.
Sebagaimana diketahui, mulai 30 Juli kemarin Kemendikbud menggelar uji kompetensi guru (UKG). Ujian yang diikuti oleh 1 juta lebih guru tersertifikasi tersebut untuk memetakan mutu para pengajar.
Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Penjaminan Mutu Pendidik (Kepala BPSDMP dan PMP) Kemendikbud Syawal Gultom mengatakan, pelaksanaan UKG yang 100 persen berhasil ada di Bangka Belitung (Babel), Sulawesi Selatan (Sulsel) dan Kalimantan Selatan (Kalsel).
Namun, dia tidak menampik masih banyak yang bermasalah sehingga sedianya UKG gelombang pertama ini dilaksanakan pada 30 Juli hingga 12 Agustus untuk sementara UKG dihentikan dulu sambil menunggu proses perbaikan.
Dia juga ingin memastikan bahwa para guru sudah tidak perlu datang ke tempat uji kompetensi (TUK) hingga 2 Oktober nanti. Kementerian juga sudah mengeluarkan pengumuman akan hal ini ke daerah dan meminta pemerintah daerah untuk meneruskannya ke setiap guru yang mengikuti UKG.
“Semua TUK yang lancar harus lanjut karena kenyataannya ada beberapa provinsi yang TUK-nya berjalan 100 persen apa harus dihentikan. Kecuali yang bermasalah ditunda hingga Oktober,” katanya kepada wartawan kemarin.
Mantan Rektor Universitas Medan (Unimed) ini menjelaskan, persoalan yang terjadi masih pada perubahan data dan gangguan jaringan internet. Namun, dia menegaskan, pada Oktober nanti tidak akan terulang lagi data yang berbeda dan kegagalan koneksi karena yang mengikuti ujian hanyalah guru yang sudah terdata sebelumnya.
Para teknisi dan operator juga akan dilatih kembali untuk menyukseskan UKG tahap kedua yang dijadwalkan pada 2 Oktober hingga 2 November nanti.
Sekretaris Jenderal Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) Retno Listyarti mengungkapkan, daerah yang koneksi servernya rusak pada hari kedua UKG seperti di Bandung.
Di sini juga data peserta tes tidak terverifikasi sehingga nama peserta tidak sinkron dengan soal. Dari gelombang pertama hingga ketiga untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia, Bahasa Jepang, Bimbingan Konseling, dan Pendidikan Kewarganegaraan tidak terkoneksi internet sehingga mereka dipulangkan.
Kegagalan juga terjadi di Indragiri Hilir. Para peserta hanya absen dan pulang. Yang disesalkan adalah para peserta di daerah kepulauan ini rata-rata berasal dari daerah jauh dan harus menginap semalam.
Kegagalan juga terjadi di Brebes, Slawi,Tegal, Purbalingga, Medan, Purwakarta,Bogor,Garut, Jakarta, Sumatera Selatan, Semarang, Boyolali, dan Bekasi.
Ketua Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PB PGRI) Sulistiyo menegaskan, UKG harus dihentikan. Kalaupun ada daerah yang terhubung oleh server, hasilnya tidak akan menggambarkan kompetensi yang dapat dijadikan pertimbangan dalam melaksanakan pembinaan guru.
Bahkan kemungkinan dapat kontraproduktif dengan upaya peningkatan mutu pendidikan. Dia meminta, kalaupun ada guru yang sudah mengerjakan UKG, sebaiknya hasil UKG tidak dianalisis dulu.
“Digitalisasi soal tidak benar. Sistem yang belum profesional atau rapuh jika dipaksa untuk dipetakan tidak akan mampu menghasilkan analisis yang tepat,” lugasnya.
Sulistiyo meminta Kemendikbud jangan membuat kebohongan publik dengan menyalahkan operator dan guru karena kegagalan UKG.
Dia mengingatkan, petugas operator komputer sudah bekerja dengan keras untuk UKG ini. Para guru bahkan satu minggu terakhir ini sudah membedah kisi-kisi soal, belajar bahan uji, dan berlatih memakai komputer hingga waktu mengajarnya kurang maksimal.
Karena itu, Kemendikbud harus berani jujur dan introspeksi diri untuk mengakui mutu sistem dan data guru serta digitalisasi soal yang buruk yang menyebabkan kegagalan ini.
Anggota DPD ini menerangkan, UKG memang sepatutnya dihentikan. Kemendikbud saat ini harus fokus melakukan perbaikan. Setelah yakin perbaikan selesai, diuji coba dulu sebelum UKG gelombang kedua dipaksakan kembali.
“Guru yang sudah datang ke TUK sudah meninggalkan tugas mengajarnya selama berhari-hari dan dengan biaya sendiri. Jadi tidak hanya siswa yang dirugikan namun guru juga dirugikan akan keadaan ini. ini semua terjadi karena persiapan yang minim,” ungkapnya.
Sebagaimana diketahui, mulai 30 Juli kemarin Kemendikbud menggelar uji kompetensi guru (UKG). Ujian yang diikuti oleh 1 juta lebih guru tersertifikasi tersebut untuk memetakan mutu para pengajar.
(lns)