Insiden Limbangan, IPW desak Kapolda Sumsel diperiksa
Minggu, 29 Juli 2012 - 11:48 WIB
Insiden Limbangan, IPW desak Kapolda Sumsel diperiksa
A
A
A
Sindonews.com - Penyerbuan pasukan Brimob ke Desa Limbangan Jaya, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan terkait pencurian pupuk milik Perkebunan Tebu Cinta Manis PTPN VII saat ini sedang ditangani Propam Polda Sumsel. 10 anggota Brimob diperiksa terkait penyerangan itu.
Namun langkah pihak kepolisian memeriksa 10 orang bawahan tersebut dinilai Indonesia Police Watch (IPW) tidak adil.
"Ini jelas tidak adil. Sebab mereka turun ke Desa Limbangan Jaya adalah atas perintah atasannya. Seharusnya lima perwira atasan mereka juga harus diperiksa. Seperti Kapolda Sumsel, Direktur Operasi, Kasat Brimob Sumsel, Kapolres Ogan Ilir dan perwira pemimpin penyerbuan," ujar Ketua Presidium Indonesia Police Watch Neta S Pane melalui rilis kepada Sindonews, Minggu (29/7/2012).
Selain itu, pemeriksaan harus dilakukan di Mabes Polri, Komnas HAM dan Kompolnas.
"Jika tidak, maka pemeriksaan hanya menyentuh polisi kelas bawah, sementara atasannya enak-enakan dan tidak tersentuh," tukasnya.
Menurut Neta, terdapat lima keanehan di balik penyerbuan polisi ke Limbangan Jaya tersebut. "Pertama, benarkah telah terjadi pencurian pupuk milik PTPN? Jika pun benar, apakah semua warga Limbang Jaya terlibat pencurian sehingga desa itu harus diserbu Brimob," tukas Neta lagi.
Kedua, apa dasar hukumnya pasukan Brimob dilibatkan untuk mencari pencuri pupuk. Karena tugas tersebut merupakan kewenangan reserse.
Ketiga, IPW menilai apa yang terjadi di Limbangan Jaya adalah penyerbuan dan bukan patroli dialogis seperti yang dikatakan polisi selama ini.
Sejauh yang diketahui Neta, di kepolisian tidak mengenal patroli dialogis. Kalau pun ada operasi dialogis sifatnya tertutup, dengan cara melakukan pendekatan kepada tokoh-tokoh masyarakat agar membantu menyerahkan pelaku pencurian pupuk.
Keempat, kasus ini bermula saat puluhan truk yang mengangkut Brimob bersenjata lengkap melintas di Limbangan Jaya. "Lalu siapa yang mmerintahkan operasi tersebut, dan sangat mustahil Kapolda, Dir operasi dan Kasat Brimob tidak tahu dengan penyerbuan itu," tukasnya.
Kelima, siapa yang membiayai operasi penyerbuan tersebut. Adakah pihak PTPN membantu dana operasinya? Jika ada, kata Neta ini merupakan gratifikasi dan suap untuk memperalat polisi dalam menzalimi rakyat Limbangan Jaya, sehingga para pejabat PTPN yang memberi bantuan harus diperiksa.
"Kami IPW menyayangkan terjadinya penyerbuan itu, dan mengingatkan Polri adalah alat negara yang senantiasa harus melindungi rakyat. Jika terjadi pelanggaran hukum di masyarakat, Polri harus profesional dan bukan memihak, apalagi diperalat untuk menzalimi rakyat," tambahnya
Sebelumnya, bentrok antara warga desa Limbangan Jaya dengan polisi terjadi ketika akan digelar olah TKP terkait laporan perusahaan perkebunan tebu Cinta Manis PTPN VII yang kehilangan pupuk sebanyak 127 ton di Rayon tiga pada 17 Juli 2012.
Selain olah TKP, saat itu personel Polda Sumsel dan Polres Ogan Ilir juga mengadakan patroli dan dialog dengan warga. Namun kemudian terjadi bentrok. Pihak kepolisian sendiri mengaku pihaknya diserang lebih dulu oleh warga. Iring-iringan anggota Polres yang terdiri atas penyidik, intel, Sabhara dan Brimob tiba-tiba diserang warga.
Namun langkah pihak kepolisian memeriksa 10 orang bawahan tersebut dinilai Indonesia Police Watch (IPW) tidak adil.
"Ini jelas tidak adil. Sebab mereka turun ke Desa Limbangan Jaya adalah atas perintah atasannya. Seharusnya lima perwira atasan mereka juga harus diperiksa. Seperti Kapolda Sumsel, Direktur Operasi, Kasat Brimob Sumsel, Kapolres Ogan Ilir dan perwira pemimpin penyerbuan," ujar Ketua Presidium Indonesia Police Watch Neta S Pane melalui rilis kepada Sindonews, Minggu (29/7/2012).
Selain itu, pemeriksaan harus dilakukan di Mabes Polri, Komnas HAM dan Kompolnas.
"Jika tidak, maka pemeriksaan hanya menyentuh polisi kelas bawah, sementara atasannya enak-enakan dan tidak tersentuh," tukasnya.
Menurut Neta, terdapat lima keanehan di balik penyerbuan polisi ke Limbangan Jaya tersebut. "Pertama, benarkah telah terjadi pencurian pupuk milik PTPN? Jika pun benar, apakah semua warga Limbang Jaya terlibat pencurian sehingga desa itu harus diserbu Brimob," tukas Neta lagi.
Kedua, apa dasar hukumnya pasukan Brimob dilibatkan untuk mencari pencuri pupuk. Karena tugas tersebut merupakan kewenangan reserse.
Ketiga, IPW menilai apa yang terjadi di Limbangan Jaya adalah penyerbuan dan bukan patroli dialogis seperti yang dikatakan polisi selama ini.
Sejauh yang diketahui Neta, di kepolisian tidak mengenal patroli dialogis. Kalau pun ada operasi dialogis sifatnya tertutup, dengan cara melakukan pendekatan kepada tokoh-tokoh masyarakat agar membantu menyerahkan pelaku pencurian pupuk.
Keempat, kasus ini bermula saat puluhan truk yang mengangkut Brimob bersenjata lengkap melintas di Limbangan Jaya. "Lalu siapa yang mmerintahkan operasi tersebut, dan sangat mustahil Kapolda, Dir operasi dan Kasat Brimob tidak tahu dengan penyerbuan itu," tukasnya.
Kelima, siapa yang membiayai operasi penyerbuan tersebut. Adakah pihak PTPN membantu dana operasinya? Jika ada, kata Neta ini merupakan gratifikasi dan suap untuk memperalat polisi dalam menzalimi rakyat Limbangan Jaya, sehingga para pejabat PTPN yang memberi bantuan harus diperiksa.
"Kami IPW menyayangkan terjadinya penyerbuan itu, dan mengingatkan Polri adalah alat negara yang senantiasa harus melindungi rakyat. Jika terjadi pelanggaran hukum di masyarakat, Polri harus profesional dan bukan memihak, apalagi diperalat untuk menzalimi rakyat," tambahnya
Sebelumnya, bentrok antara warga desa Limbangan Jaya dengan polisi terjadi ketika akan digelar olah TKP terkait laporan perusahaan perkebunan tebu Cinta Manis PTPN VII yang kehilangan pupuk sebanyak 127 ton di Rayon tiga pada 17 Juli 2012.
Selain olah TKP, saat itu personel Polda Sumsel dan Polres Ogan Ilir juga mengadakan patroli dan dialog dengan warga. Namun kemudian terjadi bentrok. Pihak kepolisian sendiri mengaku pihaknya diserang lebih dulu oleh warga. Iring-iringan anggota Polres yang terdiri atas penyidik, intel, Sabhara dan Brimob tiba-tiba diserang warga.
(lns)