Jangan abaikan ideologi kandidat
Rabu, 18 Juli 2012 - 09:01 WIB
Jangan abaikan ideologi kandidat
A
A
A
Sindonews.com - Ketua MPR Taufiq Kiemas mengingatkan agar masyarakat tidak terjebak semata pada aspek figur atau ketokohan saat menentukan pilihannya pada Pemilu 2014. Faktor ideologi tak kalah penting.
Taufiq mengaku tidak setuju jika peta perpolitikan Indonesia di masa mendatang hanya menjadi ajang pertarungan figur belaka.
Menurut suami Ketua DPP PDIP Megawati Soekarnoputri ini, agar masyarakat calon pemilih tidak cenderung mengarah pada aspek figur ketika menentukan pilihannya, parpol perlu lebih menekankan aspek ideologi dari figur yang hendak diusungnya.
Taufiq menegaskan, ideologi sangat penting untuk memastikan orientasi pengelolaan negara ini jelas arahnya.
“Baik itu di pilkada (pemilihan kepala daerah), pemilu legislatif maupun pemilihan presiden, harus ada ideologi yang dipertimbangkan pemilih. Kalau capres tidak punya ideologi, nanti seperti zombi,” kata Ketua Dewan Pertimbangan Pusat PDIP ini di Gedung MPR, Jakarta, kemarin.
Dia menegaskan, demi kejelasan orientasi pengelolaan negara, demokrasi di Indonesia jangan sampai terjebak pada standar figur yang hanya mengandalkan popularitas.
Taufiq menekankan bahwa kemenangan Wali Kota Solo Joko Widodo (Jokowi) di putaran pertama Pilkada DKI Jakarta yang menjadi fenomena bukan sekadar didukung popularitas.
Rakyat sebagai pemilih sudah bisa melihat bagaimana ideologi yang diaplikasikan Jokowi dalam mengelola daerahnya. “Kalau tidak punya ideologi, tidak mungkin Jokowi bisa memimpin Solo seperti sekarang. Bagaimana menerapkan konsep ekonomi kerakyatan, soal kebinekaan, dan lainnya. Itu kan jelas ideologinya,” ungkap Taufiq.
Dia juga yakin bahwa rakyat sebagai pemilih saat ini tetap memegang pentingnya ideologi. Karena itu,isu suku, agama, ras, dan agama (SARA) tidak akan laku lagi dijadikan strategi mengarahkan suara rakyat.
“Karena bicara Indonesia itu kansoal kemajemukan, keragaman. Kalau tidak jelas ideologinya, mau bagaimana memimpin bangsa ini?” tandasnya.
Pandangan senada diungkapkan mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK). Menurut dia, popularitas figur tidak cukup untuk meyakinkan masyarakat sebagai pemilih.
Masyarakat akan lebih melihat rekam jejak dan prestasi kandidat yang tidak lepas dari latar belakang ideologinya.
“Apakah calon-calon itu yang punya track record dan dosa, itulah yang dilihat masyarakat,” ujarnya.
Politikus muda PDIP Budiman Sudjatmiko mengatakan, pemimpin itu adalah penuntun bagi rakyat yang dipimpinnya. Karena itu, ideologi menjadi penting karena dengan ideologi sang pemimpin bisa diukur visinya, cita-citanya, integritas, komitmen, dan bahkan moralitas politiknya.
“Karena dari si pemimpin akan lahir keputusan-keputusan yang berdampak kepada rakyat dan bangsa yang dipimpinnya,” kata anggota Komisi II DPR ini.
Pemimpin ideologis, lanjut dia, bukan berarti memahami berbagai teori dan konsep politik. Lebih dari itu, idealnya, kehidupan pemimpin mencerminkan ideologi yang dianutnya.
“Jadi kalau ada pemimpin yang karakter dan nilai hidupnya hanya memperkaya diri sendiri, dia tidak bisa dipercaya untuk memajukan kesejahteraan umum. Jika si pemimpinnya dari pemikiran dan caranya berbicara malah membodohi rakyat secara politik, artinya dia tidak mencerdaskan kehidupan bangsa,” ungkapnya.
Politikus muda Partai Amanat Nasional (PAN) Teguh Juwarno mengatakan, dalam demokrasi sekarang ini penting untuk menelanjangi rekam jejak seorang calon pemimpin. “Media bisa punya peran besar di sini,” katanya.
Dia juga tidak sependapat jika calon pemimpin hanya mengandalkan popularitas kefiguran. Menurut Teguh, kekuatan figur harus berangkat dari ideologi, visi yang jelas, dan pemihakan pada rakyat.
Taufiq mengaku tidak setuju jika peta perpolitikan Indonesia di masa mendatang hanya menjadi ajang pertarungan figur belaka.
Menurut suami Ketua DPP PDIP Megawati Soekarnoputri ini, agar masyarakat calon pemilih tidak cenderung mengarah pada aspek figur ketika menentukan pilihannya, parpol perlu lebih menekankan aspek ideologi dari figur yang hendak diusungnya.
Taufiq menegaskan, ideologi sangat penting untuk memastikan orientasi pengelolaan negara ini jelas arahnya.
“Baik itu di pilkada (pemilihan kepala daerah), pemilu legislatif maupun pemilihan presiden, harus ada ideologi yang dipertimbangkan pemilih. Kalau capres tidak punya ideologi, nanti seperti zombi,” kata Ketua Dewan Pertimbangan Pusat PDIP ini di Gedung MPR, Jakarta, kemarin.
Dia menegaskan, demi kejelasan orientasi pengelolaan negara, demokrasi di Indonesia jangan sampai terjebak pada standar figur yang hanya mengandalkan popularitas.
Taufiq menekankan bahwa kemenangan Wali Kota Solo Joko Widodo (Jokowi) di putaran pertama Pilkada DKI Jakarta yang menjadi fenomena bukan sekadar didukung popularitas.
Rakyat sebagai pemilih sudah bisa melihat bagaimana ideologi yang diaplikasikan Jokowi dalam mengelola daerahnya. “Kalau tidak punya ideologi, tidak mungkin Jokowi bisa memimpin Solo seperti sekarang. Bagaimana menerapkan konsep ekonomi kerakyatan, soal kebinekaan, dan lainnya. Itu kan jelas ideologinya,” ungkap Taufiq.
Dia juga yakin bahwa rakyat sebagai pemilih saat ini tetap memegang pentingnya ideologi. Karena itu,isu suku, agama, ras, dan agama (SARA) tidak akan laku lagi dijadikan strategi mengarahkan suara rakyat.
“Karena bicara Indonesia itu kansoal kemajemukan, keragaman. Kalau tidak jelas ideologinya, mau bagaimana memimpin bangsa ini?” tandasnya.
Pandangan senada diungkapkan mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK). Menurut dia, popularitas figur tidak cukup untuk meyakinkan masyarakat sebagai pemilih.
Masyarakat akan lebih melihat rekam jejak dan prestasi kandidat yang tidak lepas dari latar belakang ideologinya.
“Apakah calon-calon itu yang punya track record dan dosa, itulah yang dilihat masyarakat,” ujarnya.
Politikus muda PDIP Budiman Sudjatmiko mengatakan, pemimpin itu adalah penuntun bagi rakyat yang dipimpinnya. Karena itu, ideologi menjadi penting karena dengan ideologi sang pemimpin bisa diukur visinya, cita-citanya, integritas, komitmen, dan bahkan moralitas politiknya.
“Karena dari si pemimpin akan lahir keputusan-keputusan yang berdampak kepada rakyat dan bangsa yang dipimpinnya,” kata anggota Komisi II DPR ini.
Pemimpin ideologis, lanjut dia, bukan berarti memahami berbagai teori dan konsep politik. Lebih dari itu, idealnya, kehidupan pemimpin mencerminkan ideologi yang dianutnya.
“Jadi kalau ada pemimpin yang karakter dan nilai hidupnya hanya memperkaya diri sendiri, dia tidak bisa dipercaya untuk memajukan kesejahteraan umum. Jika si pemimpinnya dari pemikiran dan caranya berbicara malah membodohi rakyat secara politik, artinya dia tidak mencerdaskan kehidupan bangsa,” ungkapnya.
Politikus muda Partai Amanat Nasional (PAN) Teguh Juwarno mengatakan, dalam demokrasi sekarang ini penting untuk menelanjangi rekam jejak seorang calon pemimpin. “Media bisa punya peran besar di sini,” katanya.
Dia juga tidak sependapat jika calon pemimpin hanya mengandalkan popularitas kefiguran. Menurut Teguh, kekuatan figur harus berangkat dari ideologi, visi yang jelas, dan pemihakan pada rakyat.
(lns)