Peluang figur alternatif terbuka
Minggu, 15 Juli 2012 - 10:48 WIB
Peluang figur alternatif terbuka
A
A
A
Sindonews.com – Waktu sekira dua tahun menuju Pilpres 2014 dinilai menjadi momentum tepat bagi publik untuk mulai menyodorkan figur alternatif. Momentum saat ini juga tepat karena saat ini tidak ada satu pun calon dari partai politik yang mendapatkan dukungan kuat publik.
“Sampai saat ini sebanyak 60% pemilih berdasarkan polling terbuka belum menentukan pilihannya dan masih mencari capres yang ideal. Masih ada kesempatan rakyat menyodorkan namanama capres alternatif,” kata CEO Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) Grace Natalie di Jakarta, Sabtu 14 Juli 2012.
Dia mengungkapkan, peluang munculnya figur alternatif masih terbuka lebar karena selain tokoh politik yang ada saat ini elektabilitasnya tidak signifikan, juga karena tiap calon punya kelemahan dalam hal kriteria.
Menurut Grace, tokoh dari parpol yang sudah muncul sekaranginitidakmemenuhikriteria harapanpublik, yaknibisadipercaya, lebih tegas dalam memimpin, lebih punya empati kepada rakyat,dan lebih kompeten.
“Karena itulah tingkat akseptabilitas atau penerimaan publik terhadap tokoh yang disebut potensial maju sebagai capres ternyata tidak setinggi popularitas mereka,” ujarnya.
Dia lalu menyebut Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie yang telah dideklarasikan sebagai capres, tetapi di mata publik dinilai lemah di semua kualitas personal. Lalu ada Ketua Umum DPP PDIP Megawati Soekarnoputri yang cukup populer,tetapi dianggap lemah dalam kompetensi dan ketegasan. Kemudian Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto dinilai lemah dalam integritas dan empati.
Wakil Ketua Umum DPP Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Lukman Hakim Saifuddin mengatakan, lemahnya tingkat akseptabilitas dan elektabilitas figur yang sudah muncul sekarang ini karena masyarakat merasa bahwa calon-calon yang ada merupakan figur lama yang tidak cukup menjanjikan. Olehkarena itu,publik melalui media harus dibantu untuk mulai menyaring tokoh-tokoh potensial dari berbagai bidang dan latar belakang agar bisa dinilai.
”Sekaranglah waktunya karena masih dua tahun sehingga publik lebih punya waktu untuk melihat rekam jejak dan bagaimana kapasitas serta integritasnya,” jelasnya.
Menurut dia, jika figur yang kriterianya diharapkan publik tidak diberi ruang oleh media, figur itu juga tidak akan dilihat potensinya olehpublik.”Darimana pun asalnya, latar belakangnya, bidangnya asalkan punya potensi,mari media sodorkan itu ke publik agar publik juga kaya dengan referensi figur,” ungkap Wakil Ketua MPR tersebut.
Sementara itu,Ketua DPP Partai Amanat Nasional (PAN) Viva Yoga Mauladi mengatakan, mendorong munculnya figur alternatif bukan harus diartikan membatasi figurfigur dari parpol.
Sebab,setiap partai tentu punya target untuk bisa mengusung kader terbaiknya di bursa pilpres. Karena itu, jika yang diharapkan adalah munculnya figur alternatif, yang perlu dibenahi adalah regulasi, yakni UU Pilpres, dengan tidak melakukan pembatasan presidential threshold yang terlalu tinggi.
“Sampai saat ini sebanyak 60% pemilih berdasarkan polling terbuka belum menentukan pilihannya dan masih mencari capres yang ideal. Masih ada kesempatan rakyat menyodorkan namanama capres alternatif,” kata CEO Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) Grace Natalie di Jakarta, Sabtu 14 Juli 2012.
Dia mengungkapkan, peluang munculnya figur alternatif masih terbuka lebar karena selain tokoh politik yang ada saat ini elektabilitasnya tidak signifikan, juga karena tiap calon punya kelemahan dalam hal kriteria.
Menurut Grace, tokoh dari parpol yang sudah muncul sekaranginitidakmemenuhikriteria harapanpublik, yaknibisadipercaya, lebih tegas dalam memimpin, lebih punya empati kepada rakyat,dan lebih kompeten.
“Karena itulah tingkat akseptabilitas atau penerimaan publik terhadap tokoh yang disebut potensial maju sebagai capres ternyata tidak setinggi popularitas mereka,” ujarnya.
Dia lalu menyebut Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie yang telah dideklarasikan sebagai capres, tetapi di mata publik dinilai lemah di semua kualitas personal. Lalu ada Ketua Umum DPP PDIP Megawati Soekarnoputri yang cukup populer,tetapi dianggap lemah dalam kompetensi dan ketegasan. Kemudian Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto dinilai lemah dalam integritas dan empati.
Wakil Ketua Umum DPP Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Lukman Hakim Saifuddin mengatakan, lemahnya tingkat akseptabilitas dan elektabilitas figur yang sudah muncul sekarang ini karena masyarakat merasa bahwa calon-calon yang ada merupakan figur lama yang tidak cukup menjanjikan. Olehkarena itu,publik melalui media harus dibantu untuk mulai menyaring tokoh-tokoh potensial dari berbagai bidang dan latar belakang agar bisa dinilai.
”Sekaranglah waktunya karena masih dua tahun sehingga publik lebih punya waktu untuk melihat rekam jejak dan bagaimana kapasitas serta integritasnya,” jelasnya.
Menurut dia, jika figur yang kriterianya diharapkan publik tidak diberi ruang oleh media, figur itu juga tidak akan dilihat potensinya olehpublik.”Darimana pun asalnya, latar belakangnya, bidangnya asalkan punya potensi,mari media sodorkan itu ke publik agar publik juga kaya dengan referensi figur,” ungkap Wakil Ketua MPR tersebut.
Sementara itu,Ketua DPP Partai Amanat Nasional (PAN) Viva Yoga Mauladi mengatakan, mendorong munculnya figur alternatif bukan harus diartikan membatasi figurfigur dari parpol.
Sebab,setiap partai tentu punya target untuk bisa mengusung kader terbaiknya di bursa pilpres. Karena itu, jika yang diharapkan adalah munculnya figur alternatif, yang perlu dibenahi adalah regulasi, yakni UU Pilpres, dengan tidak melakukan pembatasan presidential threshold yang terlalu tinggi.
(kur)