Golkar ngotot Presidential Threshold 35%
Kamis, 12 Juli 2012 - 08:56 WIB
Golkar ngotot Presidential Threshold 35%
A
A
A
Sindonews.com – Partai Golkar tetap bersikukuh pada angka presidential threshold 35 persen agar jumlah calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) di Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014 bisa minimal.
Anggota Fraksi Partai Golkar DPR Agun Gunanjar Sudarsa menyatakan, Golkar sejak awal sudah mematok angka 35 persen. Dengan angka ini, bisa jadi kandidat Pilpres 2014 menjadi hanya dua pasang.
“Dengan begitu, nantinya yang menang akan menjalankan kekuasaan, sementara yang kalah akan jadi oposisi di parlemen,” katanya saat dihubungi di Jakarta, Rabu 11 Juli 2012.
Pengamat politik dari Charta Politica Yunarto Wijaya menilai, ambang batas parpol, atau koalisi parpol untuk mengusung capres dan cawapres sebaiknya dipertahankan di angka 25%. “Jangan sampai diturunkan hanya dengan alasan klise, yakni kita butuh regenerasi capres atau butuh capres alternatif. Ingat, penurunan angka ambang batas tidak menjamin terjadinya regenerasi capres. Permasalahannya kan ada pada cara rekrutmen setiap partai,” terangnya.
Dia menyatakan, regenerasi kepemimpinan nasional hanya akan terjadi bila sistem penjaringan capres di semua parpol adalah konvensi.
Anggota Fraksi Partai Golkar DPR Agun Gunanjar Sudarsa menyatakan, Golkar sejak awal sudah mematok angka 35 persen. Dengan angka ini, bisa jadi kandidat Pilpres 2014 menjadi hanya dua pasang.
“Dengan begitu, nantinya yang menang akan menjalankan kekuasaan, sementara yang kalah akan jadi oposisi di parlemen,” katanya saat dihubungi di Jakarta, Rabu 11 Juli 2012.
Pengamat politik dari Charta Politica Yunarto Wijaya menilai, ambang batas parpol, atau koalisi parpol untuk mengusung capres dan cawapres sebaiknya dipertahankan di angka 25%. “Jangan sampai diturunkan hanya dengan alasan klise, yakni kita butuh regenerasi capres atau butuh capres alternatif. Ingat, penurunan angka ambang batas tidak menjamin terjadinya regenerasi capres. Permasalahannya kan ada pada cara rekrutmen setiap partai,” terangnya.
Dia menyatakan, regenerasi kepemimpinan nasional hanya akan terjadi bila sistem penjaringan capres di semua parpol adalah konvensi.
(lil)