Sudikah SBY temui Hari Suwandi?
Senin, 09 Juli 2012 - 17:05 WIB
Sudikah SBY temui Hari Suwandi?
A
A
A
Sindonews.com - Dua korban semburan lumpur Lapindo Sidoarjo, Jawa Timur, Hari Suwandi dan Haryowiyono berniat bertemu dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Istana Negara, Jakarta.
Warga desa Kedung Bendo Porong yang nekat berjalan kaki selama 25 hari dari Jawa Timur ke Jakarta itu, berharap Presiden dapat membantu mereka mendapatkan hak-haknya.
Dalam aksinya, korban lumpur itu Lapindo itu bekerja sama dengan Wahana Lingkungan Hidup (Walhi), Lembaga Bantuan Hukum (LBH) dan Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS).
"Kedatangan saya ke Jakarta untuk menyampaikan fakta-fakta yang berkembang di lapangan dan bagaimana Lapindo menggunakan politik pecah belah antar warga korban," ujar Hari saat ditemui di kantor Walhi, Jakarta Selatan (9/7/2012).
Hari mengungkapkan, aksi jalan kaki yang dilakukannya merupakan protes atas siasat pelepasan tanggung jawab yang dilakukan oleh perusahaan PT Lapindo Minarak Jaya dan bobroknya kinerja pemerintah dalam menyelesaikan kasus Lapindo. Dia berharap Presiden berkenan menemuinya.
"Saya ingin bertemu Presiden seperti anak menemui ayahnya. Seharusnya dia mau bertemu dengan saya. Seorang ayah harusnya menemui anaknya. Ini sudah 6 tahun saya memperjuangkan hak-hak kami," terangnya.
Dia mengaku, masih belum tahu kapan akan menemui Presiden, dan berharap secepatnya agar bisa membawa kabar baik untuk warga di kampungnya. "Jika Presiden tidak mau menemui saya, saya tetap akan bertahan di sana. Sampai beliau mau menemui saya," tegas Hari.
Sementara itu, Sinung Karto dari KontraS menambahkan, persoalan Lapindo telah berlarut-larut dan tak kunjung usai. Dia menyatakan pemerintah harus tegas soal hak warga Porong yang belum terpenuhi. Jangan sampai, pemerintah lebih membela perusahaan Lapindo, dibanding warga Porong.
"Persoalan ganti rugi tidaklah cukup dengan membayar seharga fisik bangunan, tapi bagaimana juga memenuhi tanggung jawab hak ekonomi sosial dan budaya yang telah hancur akibat lumpur Lapindo," tandas Sinung.
Warga desa Kedung Bendo Porong yang nekat berjalan kaki selama 25 hari dari Jawa Timur ke Jakarta itu, berharap Presiden dapat membantu mereka mendapatkan hak-haknya.
Dalam aksinya, korban lumpur itu Lapindo itu bekerja sama dengan Wahana Lingkungan Hidup (Walhi), Lembaga Bantuan Hukum (LBH) dan Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS).
"Kedatangan saya ke Jakarta untuk menyampaikan fakta-fakta yang berkembang di lapangan dan bagaimana Lapindo menggunakan politik pecah belah antar warga korban," ujar Hari saat ditemui di kantor Walhi, Jakarta Selatan (9/7/2012).
Hari mengungkapkan, aksi jalan kaki yang dilakukannya merupakan protes atas siasat pelepasan tanggung jawab yang dilakukan oleh perusahaan PT Lapindo Minarak Jaya dan bobroknya kinerja pemerintah dalam menyelesaikan kasus Lapindo. Dia berharap Presiden berkenan menemuinya.
"Saya ingin bertemu Presiden seperti anak menemui ayahnya. Seharusnya dia mau bertemu dengan saya. Seorang ayah harusnya menemui anaknya. Ini sudah 6 tahun saya memperjuangkan hak-hak kami," terangnya.
Dia mengaku, masih belum tahu kapan akan menemui Presiden, dan berharap secepatnya agar bisa membawa kabar baik untuk warga di kampungnya. "Jika Presiden tidak mau menemui saya, saya tetap akan bertahan di sana. Sampai beliau mau menemui saya," tegas Hari.
Sementara itu, Sinung Karto dari KontraS menambahkan, persoalan Lapindo telah berlarut-larut dan tak kunjung usai. Dia menyatakan pemerintah harus tegas soal hak warga Porong yang belum terpenuhi. Jangan sampai, pemerintah lebih membela perusahaan Lapindo, dibanding warga Porong.
"Persoalan ganti rugi tidaklah cukup dengan membayar seharga fisik bangunan, tapi bagaimana juga memenuhi tanggung jawab hak ekonomi sosial dan budaya yang telah hancur akibat lumpur Lapindo," tandas Sinung.
(san)