Ical tak miliki rekam jejak politisi

Jum'at, 06 Juli 2012 - 09:20 WIB
Ical tak miliki rekam...
Ical tak miliki rekam jejak politisi
A A A
Sindonews.com - Publik diminta mengkritisi rekam jejak Aburizal Bakrie (Ical) setelah pendeklarasiannya sebagai calon presiden 2014. Sikap tersebut sebagai penguatan partisipasi pemilih dalam sistem demokrasi.

Pengamat politik Universitas Indonesia (UI) Donny Gahral Adian menilai adanya sejumlah kasus yang menjerat Ical, seperti lumpur Lapindo dan pajak, menjadi ganjalan buat Ical untuk maju sebagai capres pada Pilpres 2014 mendatang.

"Ical tidak memiliki rekam jejak sebagai politisi. Dia adalah pengusaha yang bermanuver ke politik. Kasus yang melekat padanya juga banyak seperti (lumpur) Lapindo dan pajak," kata Donny di Jakarta kemarin.

Menurut Donny, selain rekam jejak yang tidak baik, Ical juga dikenal sangat transaksional. Hal ini dibuktikan Ical dalam kasus bailout Century yang berakhir dengan mundurnya Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati ke Bank Dunia.

Itu sebabnya, jika pada akhirnya dalam pemilu legislatif Golkar memperoleh suara 20%, nantinya suara Ical pada pilpres pun akan tidak jauh dari perolehan partai. Bahkan bisa berkurang.

"Apalagi Ical harus menghadapi politisi berpengalaman seperti Megawati dan mantan jenderal Prabowo Subianto. Kalaupun hasil survei saat ini menyebut Golkar mendapat 20%, suara untuk Ical tidak jauh dari angka itu," bkatanya.

Hal senada dikatakan analis politik Point Indonesia Karel Harto Susetyo. Menurut dia, meskipun Ical berkiprah sejak lama di Golkar, figurnya sebagai pebisnis lebih dominan dibandingkan sebagai politikus. Latar belakangnya sebagai pebisnis mendukung segala gerak politiknya di Golkar.

Oleh karenanya, lanjut Karel, tidak aneh bila masuknya Ical di Golkar menjadikan parpol tersebut lebih mengedepankan pragmatisme sebagai ideologi politiknya sehingga tidak bisa dihindari, sebagai pebisnis yang terjun ke dunia politik, Ical selalu menyandarkan dirinya pada kekuatan kapital.

Karel menambahkan, kelemahan pebisnis yang menjadi politisi adalah ketika modal atau kapitalnya melemah, seketika itu juga manuver politiknya menurun. Terkait pencapresan Ical, dukungan penuh mesin politik Golkar akan ditentukan keuangan Ical.

"Faktanya itu nanti yang terjadi. Selain beban sejarah kasus Lapindo, memburuknya keuangan Grup Bakrie juga akan mempersulit langkah Ical dalam pencapresan 2014. Dua titik krusial inilah yang menyebabkan dukungan internal Golkar terhadap Ical tidak solid," katanya.

Menurut Karel, meskipun figur pebisnis lebih dominan ketimbang politisi, Ical sepertinya tetap serius berjuang menjadi capres. Ical tidak akan mungkin menjual tiket capres yang sudah dikantonginya untuk diberikan kepada calon lain. Dia juga meyakini jika dilihat dari ngotot-nya Ical hingga saat ini, sulit kiranya Ical melakukan tindakan strategi jual tiket.

Pada kesempatan tersebut, Karel juga meyakini peluang Ical untuk menjadi presiden akan sulit terwujud. Ical sudah seharusnya belajar dari pengalaman Wiranto dan Jusuf Kalla saat menjadi capres partai Golkar pada Pilpres 2004 dan 2009.
Karel menjelaskan, kecilnya peluang Ical saat pencapresan nanti karena mesin Partai Golkar lebih efektif manakala menghadapi pemilihan legislatif (pilleg) ketimbang pemilihan presiden (pilpres).

"Saya kira peluang Ical (untuk menang pilpres) tidak akan besar. Ini kejadiannya persis sebagaimana juga terjadi pada capres Golkar sebelumnya seperti Wiranto pada Pilpres 2004 dan Jusuf Kalla pada Pilpres 2009," katanya.

Menurut dia, selain secara personal tidak memungkinkan untuk menjadi capres, Ical juga memiliki citra buruk terkait kasus lumpur Lapindo yang secara kebetulan kasus tersebut berada di wilayah Jawa Timur. Untuk diketahui, Jawa Timur merupakan potensi pemilih terbesar di Indonesia.

Menurut dia, cacat politik ini juga diikuti fakta bahwa bisnis Bakrie Group sedang mengalami penurunan drastis sehingga motif bisnis dalam pencapresan Ical juga semakin memperburuk citra dirinya. "Deklarasi pencapresan Ical kemarin menjadi bentuk kepanikan dirinya dalam menghadapi kompetisi pemunculan para tokoh pesaing dirinya di tubuh Golkar," katanya.

Sementara itu, Ketua DPP Partai Golkar Fuad Hasan Masyhur mengaku tidak terpengaruh dengan penilaian miring dari berbagai kalangan terkait peluang Ical bakal memenangi Pilpres. Menurut dia, Ical hingga saat ini terus bekerja dengan cara turun ke berbagai daerah.

"Pak Ical dan Golkar terus bekerja. Biarkan saja mereka menilai seperti apa. Yang pasti, ketika Pak Ical turun menemui rakyat, mereka justru sangat antusias menerima kehadiran Pak Ical," katanya.
(san)
Berita Terkait
Demokrat Gabung KIM,...
Demokrat Gabung KIM, Politikus PDIP: Mengingatkan Pilpres 2014
SMRC Prediksi Elektabilitas...
SMRC Prediksi Elektabilitas Ganjar Bisa Lampaui Jokowi saat Pilpres 2014
Gerindra Masih Berusaha...
Gerindra Masih Berusaha Rayu PAN, Ingatkan Pilpres 2014 dan 2019
Hasto Optimistis Sejarah...
Hasto Optimistis Sejarah Tradisi Kemenangan 2014 dan 2019 Kembali Terukir di Pilpres 2024
Inflasi Terendah Sejak...
Inflasi Terendah Sejak 2014, Ini Faktor Utamanya
Swiss vs Argentina:...
Swiss vs Argentina: Bayangan Hantu Trauma 2014
Berita Terkini
30 Pati TNI AU Naik...
30 Pati TNI AU Naik Pangkat, Danlanud Sultan Hasanuddin Pecah Bintang
Kejagung Janji Profesional...
Kejagung Janji Profesional Usut Kasus Dugaan Korupsi Febrie Adriansyah
BMKG Prediksi Curah...
BMKG Prediksi Curah Hujan Tetap Rendah di Wilayah Indonesia pada Pertengahan Juli 2026
Prabowo Panggil Menhan,...
Prabowo Panggil Menhan, Kapolri, hingga Jaksa Agung di Istana Malam Ini, Ada Apa?
Kasus Febrie Adriansyah...
Kasus Febrie Adriansyah Dilimpahkan ke Kejagung, Pakar: Proses Hukum Harus Transparan
Polri Limpahkan Kasus...
Polri Limpahkan Kasus Febrie Adriansyah ke Kejagung, KPK: Kami Yakin Ditangani Profesional
Infografis
Skuad Timnas Inggris...
Skuad Timnas Inggris di Piala Dunia 2026, Tak Ada Pemain Liverpool
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved