Langkah Anas harus didukung penuh

Senin, 25 Juni 2012 - 08:23 WIB
Langkah Anas harus didukung...
Langkah Anas harus didukung penuh
A A A
Sindonews.com – Para kader dan elite Partai Demokrat diharapkan mendukung penuh langkah serta terobosan politik yang sedang dan akan dijalankan ketua umumnya, Anas Urbaningrum, untuk menyelamatkan partai dari keterpurukan.

Pengamat politik dari The Indonesian Institute Hanta Yuda mengatakan, komitmen dari para pengurus daerah Demokrat untuk solid mendukung kepemimpinan Anas hingga 2015 merupakan modal nyata agenda pembenahan parpol berlambang mercy tersebut. Dia juga mengapresiasi langkah Anas yang telah mengantongi sejumlah strategi dan upaya untuk mendongkrak lagi elektabilitas partai.

Dengan soliditas kader, legitimasi yang kuat, dan tindakan pemimpin seperti ini, kata dia, optimisme Anas bahwa Demokrat akan kembali menduduki posisi puncak pada Pemilu 2014 bukanlah sesuatu yang mustahil. “Kalau mau selamat dan tetap eksis di jajaran papan atas, Demokrat memang harus segera melakukan langkah-langkah politik luar biasa dan spektakuler. Kalau tidak ada langkah nyata dari pimpinan yang diikuti para kader, elektabilitas Partai Demokrat akan semakin tergerus,” ujar Hanta di Jakarta, Minggu 24 Juni 2012.

Diberitakan sebelumnya, berdasarkan hasil survei terbaru Lingkaran Survei Indonesia (LSI) pada 2 JUni 2012 hingga 11 Juni 2012, elektabilitas Demokrat hanya 11,3%. Padahal, berdasarkan hasil survei per Januari 2012, elektabilitas Demokrat masih 13,7%, bahkan per Oktober 2011, angkanya 16,5%. Saat ini elektabilitas Demokrat berada di posisi ketiga di bawah PDIP dan Partai Golkar.

Sebagaimana dipaparkan LSI, salah satu penyebab menurunnya elektabilitas Demokrat adalah kinerja Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang gagal menjalankan pemerintahan efektif.

Anas pada akhir pekan lalu mengaku memiliki beberapa jurus jitu untuk mendongkrak kembali kejayaan Demokrat yang merosot lantaran rendahnya performa pemerintahan saat ini. Dia enggan memaparkan secara gamblang agenda pembenahan partai yang dimaksudnya.

Namun, intinya, para kader perlu memastikan berbagai program institusionalisasi, konsolidasi,dan pengakaran partai berjalan on the track. Menurut Anas, Demokrat dapat memenangi lagi pemilu bila langkah-langkah yang disiapkannya bisa berjalan baik didukung soliditas dan kinerja seluruh elemen partai.

Pengabdian dan kerja produktif para kader harus mendatangkan manfaat bagi masyarakat. Hanta Yuda melanjutkan, elektabilitas Partai Demokrat bisa kian merosot di bawah 10% bila konflik internal terus berkepanjangan, sehingga para kader tidak sempat lagi melakukan kerja-kerja politik secara maksimal. “Para simpatisan bisa saja mencari wadah lain yang dinilai lebih pas dan lebih dipercaya,” ujarnya.

Selain akibat hilangnya kekuatan magnet elektoral Demokrat, yaitu SBY, dan persepsi negatif publik terhadap kinerja pemerintah, persepsi bahwa Demokrat adalah partai paling bersih pun mulai pudar.

Padahal citra ini menjadi faktor yang membuat Demokrat 2009 mendapat suara terbanyak pada 2009. Pengamat politik dari Soegeng Sarjadi Syndicate (SSS) Sukardi Rinakit mengatakan, adanya saling serang pernyataan di publik antarkader serta persepsi bahwa SBY ingin menggulingkan Anas dari posisi ketua umum menjadikan publik melihat Demokrat hanya sibuk dengan urusan internal. Padahal, kepercayaan publik terhadap parpol bisa ditingkatkan ketika energi dan soliditasnya digunakan untuk membantu permasalahan masyarakat.

“Turunnya Demokrat menunjukkan ada komunikasi dan citra yang berubah di masyarakat. Hal ini diperparah dengan persepsi adanya perang dingin antara Anas sebagai ketua umum dan SBY sebagai ketua Dewan Pembina,” terang Sunardi.

Solusinya, ujar dia, semua pihak di kalangan internal Demokrat harus berkaca dan melakukan introspeksi, kemudian melakukan penyelesaian bersama secara politik. “Sederhana kan. Demokrat cukup melakukan konsolidasi internal,” jelasnya.

Pengamat hukum tata negara Irman Putra Sidin menilai figur SBY cukup menentukan faktor merosotnya suara atau dukungan terhadap Demokrat. Sebagai presiden, SBY yang merupakan simbol utama Demokrat terlalu jauh masuk dalam urusan partai. “Energi kekuasaan pemerintahan akhirnya terserap ke partai. Wajar publik kecewa,” katanya. (lil)

()
Berita Terkini
Desak DPR Segera Bahas...
Desak DPR Segera Bahas Revisi UU Pemilu, Perindo: Libatkan Partai Nonparlemen
Prediksi Ada Reshuffle,...
Prediksi Ada Reshuffle, Pengamat: Prabowo Butuh Menteri Eksekutor dan Komunikator Ulung
Revisi UU Pemilu Belum...
Revisi UU Pemilu Belum Dibahas, Golkar Usul Prabowo Kumpulkan Ketum Parpol
Refleksikan Cita-cita...
Refleksikan Cita-cita Bung Karno, PDIP Minta Pemerintah Wujudkan Keadilan Hukum dan Ekonomi
Darunnajah Gelar 4th...
Darunnajah Gelar 4th ICOP Bersama Menteri ATR/BPN, Siap Optimalisasi Wakaf Nasional
Terbukti Selingkuh dan...
Terbukti Selingkuh dan Pungli, Anggota KPU OKU Timur Dipecat
Infografis
Negara-negara Arab Kutuk...
Negara-negara Arab Kutuk Langkah Israel Blokir Bantuan ke Gaza
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved