DPR curigai SBY dapat tekanan dari Australia

Selasa, 29 Mei 2012 - 19:22 WIB
DPR curigai SBY dapat...
DPR curigai SBY dapat tekanan dari Australia
A A A
Sindonews.com - Pemberian grasi terpidana kasus narkoba Schapelle Leigh Corby mencurigakan. Diduga, pemberian itu terpaksa dilakukan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), karena adanya tekanan dari pihak Australia.

Wakil Ketua Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Nasir Djamil mengaku, interpelasi terhadap kebijakan Presiden memberikan grasi atau keringanan hukuman terhadap Corby perlu dipertanyakan.

"Kalau menurut saya sepertinya itu, rasanya sulit bagi SBY mau memberikan grasi kalau tidak ada tekanan dari Australia," ujar Nasir di Geudng DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (29/5/2012).

Untuk itu, pihaknya akan segera mengajukan interpelasi guna mengetahui alasan SBY yang sebenarnya. Karena informasi yang beredar hingga saat ini masih simpang siur dan belum diketahui kebenarannya.

"Denny bilang begini, Amir bilang begini, Ibas lain lagi. Denny bilang ini masalah kemanusiaan, Amir bilang supaya Australia jangan mengobok-obok Papua. Interpelasi ini dimaksudkan untuk menjawab teka-teki itu," ungkapnya.

Rencananya, Rabu 30 Mei 2012 besok, Komisi III akan bertemu dengan Mahkamah Agung (MA). "Biar tahu penjelasan di balik pemberian grasi ini," tukas Nasir. (san)
()
Berita Terkini
Pengalihan Kasus Febrie...
Pengalihan Kasus Febrie Adriansyah ke Kejagung, YLBHI Desak KPK Ambil Alih Penyidikan
Kemenhut: 107.465 Hektare...
Kemenhut: 107.465 Hektare Hutan dan Lahan Ludes Terbakar Sepanjang 2026
Pakar: Penempatan Dana...
Pakar: Penempatan Dana SAL Sesuai UU APBN 2026, Kebijakan Purbaya Dinilai Tepat
Kejagung: Febrie Adriansyah...
Kejagung: Febrie Adriansyah Baru Tersangka Dugaan Korupsi dan TPPU Asabri
Daftar 25 Perwira TNI...
Daftar 25 Perwira TNI AL Pecah Bintang usai Upacara Kenaikan Pangkat Juli 2026
Tersangka Kuota Haji...
Tersangka Kuota Haji Ajukan Praperadilan, KPK Tegaskan Penggeledahan Berdasarkan Aturan
Infografis
4 Pemicu PM Inggris...
4 Pemicu PM Inggris Mundur, dari Pemberontakan Internal hingga Terlalu Banyak Janji
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved