Protes kenaikan BBM bukan ancaman nasional
Jum'at, 23 Maret 2012 - 17:12 WIB
Protes kenaikan BBM bukan ancaman nasional
A
A
A
Sindonews.com - Eskalasi aksi unjuk rasa belakangan ini meningkat. Namun, aksi tersebut masih dalam kondisi normal, pasalnya dapat berjalan dengan lancar hingga selesai.
Berdasarkan catatan Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) dari 128 aksi unjuk rasa kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi, hanya 38 aksi unjuk rasa yang dibubarkan paksa atau bentrok dengan aparat keamanan.
Sebanyak 98 aksi unjuk rasa berjalan damai dan terkendali."Monitoring KontraS menunjukkan, sejak Januari hingga Maret 2012 terdapat 128 aksi anti kenaikan BBM diberbagai daerah dan kota di Indonesia,"ujar aktivis Kontras, Usman Hamid di kantornya, jalan Borobudur, Jakarta Pusat, Jumat (23/3/2012).
Kendati demikian, ia menyayangkan dengan pengerahan kekuatan aparat keamanan yang berlebihan, dalam menghadapi aksi unjuk rasa menolak rencana kenaikan BBM bersubsidi yang akan diterapkan pada 1 April 2012.
Apa lagi, kata mantan Koordinator Kontras ini, dalam pengamanan ini melibatkan aparat Tentara Nasional Indonesia (TNI). Padahal, aksi penolakan kenaikan harga BBM bukan sebagai ancaman nasional.
"Ini yang terjadi adalah ancaman kepemimpinan nasional, bukan ancaman keamanan nasional. Ini bukan ingin menjatuhkan , tapi mengkritik kebijakan presiden,"pungkasnya.
Berdasarkan catatan Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) dari 128 aksi unjuk rasa kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi, hanya 38 aksi unjuk rasa yang dibubarkan paksa atau bentrok dengan aparat keamanan.
Sebanyak 98 aksi unjuk rasa berjalan damai dan terkendali."Monitoring KontraS menunjukkan, sejak Januari hingga Maret 2012 terdapat 128 aksi anti kenaikan BBM diberbagai daerah dan kota di Indonesia,"ujar aktivis Kontras, Usman Hamid di kantornya, jalan Borobudur, Jakarta Pusat, Jumat (23/3/2012).
Kendati demikian, ia menyayangkan dengan pengerahan kekuatan aparat keamanan yang berlebihan, dalam menghadapi aksi unjuk rasa menolak rencana kenaikan BBM bersubsidi yang akan diterapkan pada 1 April 2012.
Apa lagi, kata mantan Koordinator Kontras ini, dalam pengamanan ini melibatkan aparat Tentara Nasional Indonesia (TNI). Padahal, aksi penolakan kenaikan harga BBM bukan sebagai ancaman nasional.
"Ini yang terjadi adalah ancaman kepemimpinan nasional, bukan ancaman keamanan nasional. Ini bukan ingin menjatuhkan , tapi mengkritik kebijakan presiden,"pungkasnya.
()