Ical minta kadernya tak bikin gaduh politik
Minggu, 15 Januari 2012 - 18:20 WIB
Ical minta kadernya tak bikin gaduh politik
A
A
A
Sindonews.com - Ketua Umum Partai Golkar, Aburizal Bakrie, meminta kadernya di DPR tak lagi membuat kegaduhan politik. Kegaduhan elite politik, kata Ical, justru kontraproduktif dan menurunkan citra partai.
"Saya telah menginstruksikan kader Golkar untuk tidak terlibat pola komunikasi sindir menyindir dan menghindarkan diri dari perilaku tidak produktif," kata Ical dalam sambutan peringatan HUT ke-52 Ormas MKGR di Jakarta, Minggu (15/1/2012).
Ical menyesalkan tindakan sejumlah politikus yang melempar istilah Ikan Salmon. Ikan Salmon merupakan singkatan dari Intelektual Kagetan Asal Ngomong yang dilontarkan politikus Partai Demokrat, Sutan Bhatoegana.
"Istilah ikan salmon, ikan teri, ikan tongkol, dan ikan paus hal itu bukan hanya membuat tergerusnya konstektual politik tetapi kegaduhan politik yang tidak produktif," sebutnya.
Dia meminta persaingan politik dilakukan dengan tindakan etika dan mengedepankan perdebatan konseptual. "Instruksi ini penting agar pola seperti itu berakhir karena masyarakat tidak mendapat apa-apa dari kegaduhan itu. Pola komunikasi seperti itu sama sekali tidak menyelesaikan masalah bangsa," pungkasnya.
"Saya telah menginstruksikan kader Golkar untuk tidak terlibat pola komunikasi sindir menyindir dan menghindarkan diri dari perilaku tidak produktif," kata Ical dalam sambutan peringatan HUT ke-52 Ormas MKGR di Jakarta, Minggu (15/1/2012).
Ical menyesalkan tindakan sejumlah politikus yang melempar istilah Ikan Salmon. Ikan Salmon merupakan singkatan dari Intelektual Kagetan Asal Ngomong yang dilontarkan politikus Partai Demokrat, Sutan Bhatoegana.
"Istilah ikan salmon, ikan teri, ikan tongkol, dan ikan paus hal itu bukan hanya membuat tergerusnya konstektual politik tetapi kegaduhan politik yang tidak produktif," sebutnya.
Dia meminta persaingan politik dilakukan dengan tindakan etika dan mengedepankan perdebatan konseptual. "Instruksi ini penting agar pola seperti itu berakhir karena masyarakat tidak mendapat apa-apa dari kegaduhan itu. Pola komunikasi seperti itu sama sekali tidak menyelesaikan masalah bangsa," pungkasnya.
()