alexametrics

Cegah Sebaran Virus Corona, Wapres Diminta Pimpin Munajat Nasional

loading...
A+ A-
JAKARTA - Wacana kegiatan munajat dan zikir nasional dalam menghadapi wabah corona (Covid-19) terus bergulir. Bahkan Wakil Presiden Ma’ruf Amin diminta memimpin langsung kegiatan keagamaan tersebut.

Hal itu disampaikan Anggota Komisi VIII DPR dari Fraksi PKS Buchori saat menggelar rapat kerja virtual dengan Kepala Satgas Percepatan Penanggulangan Covid-19 Doni Munardo, kemarin. “Terkait tadi bapak sampaikan bahwa menarik sekali bahwa persoalan Covid-19 ini bukan hanya persoalan kesehatan, tapi persoalan psikologi. Sebenarnya, kita sebagau umat beragama memiliki satu obat internal yang begitu dahsyat, tapi belum didayagunakan, yaitu masalah zikir,” kata Buchori.

Dia menjelaskan pemerintah harusnya tidak hanya melakukan pendekatan kesehatan tetapi, juga pendekatan psikologi dengan melakukan zikir dan taubat secara nasional. Menurutnya potensi itu yang belum didayagunakan Indonesia sebagai bangsa beragama. “Tidak ada salahnya kita mengadakan semacam satu taubat nasional dan zikir nasional. Kalau perlu dipimpin oleh bapak Wakil Presiden yang merupakan ulama kita,” usul Buchori.



Buchori berpandangan dengan melakukan zikir bersama ini bisa melahirkan kekuatan psikologis yang sangat dahsyat dan insya Allah menjadi nutrisi yang dahsyat juga bagi masyarakat dalam menghadapi pandemi ini. “Saya yakin lebih dahsyat daripada makanan-makanan bergizi. Karena makanan selain nutrisi, di sini nutrisi yang bersifat spritual ini sangat penting,” tandasnya.

Sementara itu Kepala Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Doni Monardo menyambut baik usulan Anggota Komisi VIII DPR dari Fraksi PKS Buchori yang meminta agar Pemerintah melakukan pendekatan psikologis dalam penanganan pandemi Covid-19, yakni dengan zikir dan taubat nasional. “Saya setuju usulan untuk zikir dan doa walaupun dari rumah,” katanya. (Baca: Hentikan Wabah Corona, Saat Taubat dan Bermunajat)

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) ini menuturkan bahwa ia akan mencoba menyampaikan usulan tersebut kepada staf Wakil Presiden (Wapres) Maruf Amin untuk bisa memimpin zikir dan doa nasional ini. “Nanti dalam kesempatan yang ada kami coba akan sampaikan ke staf bapak Wakil Presiden,” ujarnya.

Doni pun berharao bahwa dengan zikir dan doa bersama jni bisa membantu membangkitkan kekuatan moriil dan imunitas bangsa Indonesia dalam menghadapi wabah ini. “Dan mudah-mudahan ini semoga menjadi upaya untuk membangkitkan moriil membangkitkan imunitas bangsa kita lewat doa dan zikir,” harap Doni.

PWNU Jatim Gelar Istigasah Kubro

Sementara itu Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur akan menggelar istighotsah kubra dalam jaringan (daring) pada malam Nisfu Sya'ban, Rabu (8/4). Doa bersama ini akan dimulai pukul 19.30 WIB. Istighotsah akan dipimpin 19 kiai sepuh yang akan dibagi dua, yaitu 11 kiai di kantor PWNU Jatim dan 8 kiai di pondok Lirboyo.

"Kita sudah melakukan ikhtiar lahir yakni para dokter telah berupaya secara maksimal, bahkan banyak dokter yang meninggal dunia. PWNU Jatim bersama Pemprov Jatim berikhtiar secara batin dengan gerakan batin istighotsah kubra dari rumah masing-masing," Ketua PWNU Jatim, KH Marzuki Mustamar.

Kegiatan hasil kerja sama dengan Pemprov Jatim ini dilakukan di tiga titik, yakni kantor PWNU Jatim dan gedung Negara Grahadi di Surabaya, serta Pesantren Lirboyo di Kediri. "Meski istighotsah dilakukan di tiga titik, tapi masyarakat bisa menyaksikan melalui TVRI dan 19 media televisi, radio lokal di Jawa Timur, media sosial seperti Youtube, Facebook dan Instagram,” katanya.

Menurut Pengasuh Pesantren Sabulirrosyad Kota Malang ini, kegiatan bertujuan meminta pertolongan kepada Allah SWT supaya pandemi Covid-19 segera diangkat dari Indonesia. Dosen di Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang menjelaskan istighotsah dibagi dua untuk mengikuti protokol pemerintah yaitu social distancing. Sejumlah 11 kiai yang akan memimpin istighotsah di Kantor PWNU Jatim adalah KH Miftahul Ahyar (Miftachussunnah, Surabaya), KH Nawawi Abd Jalil (Sidogiri, Pasuruan), KH Agoes Ali Masyhuri (Bumi Shalawat, Sidoarjo), KH Mutawakkil Alallah (Zainul Hasan, Genggong Probolinggo).

Juga tercatat KH Ubaidillah Faqih (Langitan), KH Abd Adhim Kholili (Bangkalan), KH Abd Matin Djawahir (Tuban), KH Marzuki Mustamar, KH Ali Maschan Moesa (Surabaya), KH Syafrudin Syarif (Probolinggo), serta KH Dzul Hilmi (Surabaya). Sedangkan para kiai yang di Pesantren Lirboyo adalah KH Anwar Manshur, KH Kafabihi Mahrus, KH Zainuddin Djazuli (Ploso), KH Nurul Huda Djazuli (Ploso), KH Fuad Djazuli (Ploso), KH Anwar Iskandar (Ngasinan) KH Abd Hadi dan KH Athoillah Anwar. "Kami meminta Nahdliyin dan umat Islam mari bersama-sama mengadahkan kedua telapak tangan memohon pertolongan Allah SWT di malam Nisfu Sya'ban," harap Kiai Marzuki. (Baca juga: Munajat Lawan Covid-19 Diusulkan Ramai-ramai Dalam Kesendirian)

Sebelumnya seruan munajat dan zikir bersama juga disampaikan sejumlah tokoh bangsa. Wakil Ketua MPR Jazilul Fawaid menyebut bahwa pandemi global virus korona ini sebagai kiamat sugra atau kiamat kecil karena telah menyerang hampir seluruh negara di dunia, tanpa mengenal batas negara, agama, bahkan tidak mengenal strata sosial.

“Saya melihat ini seperti kiamat sugra, kiamat kecil. Semua harus mempertanggungjawabkan amalnya masing-masing. Kaya, miskin, tua, muda, semuanya kena. Nah yang bisa menyembuhkan dan menghindarkan adalah dirinya sendiri dan Allah SWT. Karena meskipun orang yang dicintaipun, kalau sudah kena kita harus menghindar. Jadi siapapun yang kena virus dia harus menyendiri, dan harus melawan dengan dirinya sendiri bersama Tuhannya," tutur Jazil, kemarin.

Senada dengan Jazilul, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj mengatakan, dalam kondisi seperti ini, pihaknya mengajak seluruh warga nahdliyin dan umat Islam pada umumnya, agar selalu berserah diri dan mendekat kepada Allah SWT, menebalkan iman dengan dasar bahwa tidak akan menimpa apapun kecuali yang Allah SWT kehendaki. "Walaupun kita menghindar kemanapun kalau Tuhan menghendaki maka kita tidak bisa menghindar. Tapi sebaliknya, walaupun kita berada di tengah- tengah musibah, wabah, kalau Tuhah belum menghendaki kita terkena wabah tersebut kita akan selamat," tutur Kiai Said.

Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu'ti mengatakan, dari sudut pandang teologi, pandemi ini adalah ujian Tuhan bagi umat manusia. Ujian itu bisa menjadi salah satu cara untuk menilai kualitas iman dan untuk meningkatkan derajat kehidupan umat manusia. Pandemi bisa terjadi sebagai akibat langsung atau tidak langsung atas perbuatan manusia yang tidak tidak mematuhi ajaran Tuhan yaitu menjaga kebersihan."Agama, khususnya Islam, mengajarkan kepada manusia untuk senantiasa hidup bersih baik secara fisik maupun spiritual, menjaga keseimbangan ekosistem, dan tidak eksploitatif terhadap alam. Pandemi adalah peringatan agar manusia kembali dan senantiasa berada pada jalan Tuhan," tuturnya. (Kiswondari/Masdaru/Abdul Rochim)
(ysw)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top