alexametrics

Lindungi Tim Medis dari Virus Corona, Segera Sebar APD Secepatnya

loading...
A+ A-
JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) memerintahkan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 secepatnya menyebarkan alat pelindung diri (APD) untuk melindungi tim medis agar tidak terpapar corona. Dia menekankan kecepatan dalam pengadaan dan distribusi APD sangat penting.

Pemenuhan kebutuhan APD untuk tim medis sangat dibutuhkan karena mereka berada di garda terdepan dalam perang melawan wabah corona. Kekurangan APD bisa menjadi bencana karena mereka akan dengan mudah terpapar virus corona.

Berdasar laporan Ikatan Dokter Indonesia ( IDI) yang disampaikan Minggu (6/4/2020), tercatat 18 orang dokter di Indonesia yang meninggal akibat positif terjangkit Covid-19 dan berstatus positif dan pasien dalam pengawasan (PDP) Covid-19. Kemarin jumlah tersebut bertambah lagi hingga menjadi 20 orang meninggal. (Baca: Percepat Tes Corona, Pemerintah Gelontorkan 14 M untuk Laboratorium)



Para dokter dan tenaga medis tersebut diduga terinfeksi virus corona saat merawat atau menangani pasien-pasien virus corona di rumah sakit. Beberapa dokter yang meninggal antara lain Iwan Dwi Prahasto (guru besar FK UGM), Bambang Sutrisna (guru besar FKM UI), Jeanne PMR Winaktu (IDI Jakarta Pusat), Nasrin Kodim (guru besar epidemiologi FKM UI).

Selain dokter, tim perawat juga turut menjadi korban akibat persoalan APD. Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) menyatakan enam perawat meninggal dunia saat bertugas menangani pasien terinfeksi virus korona (Covid-19) dalam kurun waktu satu bulan.

Selain didistribusikan secara cepat ke daerah, Jokowi juga meminta APD dipastikan sampai ke rumah-rumah sakit yang membutuhkan. “Kita sudah mendistribusikan misalnya ke sebuah provinsi di daerah, tetapi di daerah itu juga harus diawasi, dilihat betul apakah sudah didistribusikan ke rumah sakit,” ujar Jokowi di Jakarta kemarin.

Kepala Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Doni Monardo memastikan kebutuhan APD sudah teratasi. Dia telah menerima 570.000 APD. Dari jumlah tersebut, 390.000 APD di antaranya telah didistribusikan ke seluruh daerah. ”Adapun yang terakhir tiba siang ini sebanyak 105.000. Ini pun akan segera kami prioritaskan untuk didistribusikan, terutama ke rumah-rumah sakit yang ada di daerah-daerah terdampak,” ujarnya.

Secara virtual, di hadapan Komisi VIII DPR, Doni Monardo melaporkan bahwa pihaknya tengah melakukan pengadaan sejumlah alat kesehatan (alkes) dan APD, meskipun tidak mudah karena semua negara membutuhkan hal serupa. Namun, dia bersyukur karena di tengah pandemi ini Indonesia ternyata menjadi produsen APD terbanyak di dunia dan APD itu berstandar WHO. Bahkan, negara maju pun ikut berebut alkes, APD dan peralatan medis lain saat ini. APD dimaksud antara lain ventilator, reagent, rapid test, dan banyak perlengkapan medis lain.

Semua peralatan tersebut mengenakan bahan baku lokal berdasar sertifikat WHO. "Memang tidak mudah Bapak Pimpinan, karena ternyata hampir semua negara besar saat ini rebutan masker, rebutan APD, rebutan rapid test, rebutan apa saja karena ternyata barang-barang selama ini kita pikir negara maju ikut punya, ternyata mereka tidak memiliki,” kata Doni dalam paparannya di rapat kerja (raker) virtual dengan Komisi VIII DPR, kemarin.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) ini menjelaskan bahwa sejumlah APD dan alkes yang ada sudah sebagian terdistribusi. Meskipun berkurang, selalu ada barang yang masuk ke gudang sehingga selalu ada cadangan. “Hari ini ada tambahan lagi Pak Pimpinan, 105.000 APD,” imbuhnya.

Melihat fakta tersebut, dia mengaku selama dua hari terakhir ini dia merasa sedikit tenang karena tidak ada lagi kepala rumah sakit yang mengirimkan pesan terkait kekurangan APD. “Biasanya saya tiap malam harus menunggu sampai pukul dua dini hari untuk memastikan rumah-rumah sakit mendapatkan APD,” paparnya.

Dia lantas menuturkan, APD menjadi masalah semua negara. “Ada negara yang mengambil alih sebuah proses pemberangkatan APD dari satu tempat ke tempat lain,” ungkapnya, Senin (6/4/2020). (Baca juga: INgat, Masker Medis hanya untuk yang Bertugas di Garis Depan Penanganan Covid-19)

Namun, dia menyebut ke depan Indonesia mampu memproduksi APD dengan bahan baku lokal. Bahkan APD tersebut telah sesuai standar Badan Kesehatan Dunia atau WHO. “Tetapi alhamdulillah, berkat kerja sama dari sejumlah pihak, baik perguruan tinggi, Kementerian Kesehatan, para peneliti kita, kemungkinan besar pada periode yang akan datang kita akan bisa memproduksi APD dengan bahan baku lokal yang telah mendapatkan sertifikasi dari WHO,” tuturnya.

Dengan perkembangan baru tersebut dia memastikan Indonesia tidak akan tergantung suplai APD dari negara lain. Sebelumnya, bahan baku pembuatan APD itu impor. “Sehingga ketergantungan kita untuk mendapatkan bahan baku APD dari luar negeri akan bisa teratasi,” ujarnya.

Pada kesempatan rapat virtual dengan DPR itu Doni menjelaskan, tidak semua dokter yang meninggal bertugas di front terdepan untuk merawat pasien Covid-19. Sebagian dari mereka adalah dokter gigi dan dokter spesialis telinga hidung dan tenggorokan (THT).

“Kami laporkan juga Bapak Pimpinan, lebih dari 20 dokter kita telah wafat. Sebagian dari beliau yang wafat ternyata tidak semuanya itu dokter yang berada di front terdepan. Kalau dilihat dari latar belakang dokter, sebagian itu adalah dokter gigi dan THT,” ujarnya.

Karena itulah BNPB meminta Kementerian Kesehatan (Kemenkes) untuk membuat surat edaran kepada dokter gigi dan THT untuk tidak praktik selama pandemi. Kalaupun praktik, hanya mengurusi kasus yang memang urgen. Selain itu, dia juga meminta Kemenkes mewajibkan kepada seluruh dokter di RS umum swasta maupun RS rujukan Covid-19 agar mengenakan APD lengkap dan terstandar. “Kami juga akan memberikan yang terbaik kepada tenaga dokter dan perawat,” janjinya.

Dia lantas mengingatkan, pihaknya akan melaporkan kepada polisi dan melakukan penertiban jika ditemukan adanya penyalahgunaan APD. “Apabila menemukan pemberian pusat, terutama APD kepada dokter, disalahgunakan kami akan memberikan laporan kepada kepolisian untuk menertibkan kepada mereka melakukan penyimpangan ini,” ancamnya.

Masker Kain

Yuk gunakan masker. Bahkan, jika keluar rumah wajib mengenakan masker. Permintaan ini disampaikan Presiden Joko Widodo (Jokowi) menindaklanjuti anjuran yang disampaikan Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO kemarin.

Mengenakan masker—baik bagi mereka yang sehat maupun sakit—memang urgen dilakukan mengingat virus korona (Covid-19) masih terus menyebar dengan jumlah korban di berbagai negara terus bertambah, termasuk di Tanah Air.

Di Indonesia, hingga kemarin (6 April 2020) jumlah warga yang terjangkit juga bertambah hingga total pasien positif korona, yakni mencapai 2.491 orang. Bahkan penambahan positif korona kemarin mencatatkan rekor baru dengan jumlah 218 kasus. Dari jumlah tersebut, 209 orang di antaranya meninggal dunia.

Masker seperti apa, masyarakat tidak perlu bingung, karena tidak harus memakai masker standar medis, tapi juga bisa mengenakan masker kain yang bisa dibuat siapa pun. Masker kain juga lebih murah karena bisa dicuci dan digunakan berkali-kali. "Saya melihat, membaca, bahwa WHO menganjurkan agar semuanya memakai masker,” ungkap Presiden saat membuka rapat terbatas kemarin.

Jokowi mengakui bahwa anjuran pemerintah ini berbeda dari sebelumnya. Sebelumnya pemerintah menyarankan agar masyarakat yang sakit saja yang menggunakan masker, sementara yang sehat tidak perlu menggunakannya. “Karena di awal WHO menyampaikan dulu bahwa yang memakai masker itu hanya yang sakit, yang sehat enggak. Sekarang tidak, semua yang keluar rumah harus pakai masker,” imbaunya. (Baca juga: Doter yang Tidak Tanganai Corona Juga Akan Diberikan APD)

Untuk memenuhi kebutuhan masker bagi masyarakat, dia pun memerintahkan jajarannya untuk dapat menyiapkan . “Saya minta juga penyiapan masker ini sekarang ini betul-betul diberikan kepada masyarakat. Kita ingin setiap warga yang harus keluar rumah itu wajib memakai masker,” katanya.

Ketua Gugus Tugas Penanganan Covid-19 yang juga Kepala BNPB Doni Monardo menegaskan agar masyarakat menggunakan masker kain. Adapun masker medis akan digunakan pihak-pihak yang ada di garis depan penanganan covid-19. Menurut dia, tidak masalah menggunakan masker kain selama tidak ada percikan air liur yang keluar. “Yang intinya adalah pada saat berkomunikasi tidak terjadi percikan dari air liur saat berbicara,” tuturnya.

Sebelumnya, imbauan sama disampaikan Juru Bicara Pemerintah Penanganan Virus Corona (Covid-19), Achmad Yurianto, bahwa masyarakat bisa menggunakan masker kain. Adapun masker bedah maupun masker N95 hanya untuk petugas kesehatan. Dia menjelaskan, menggunakan masker sebagai upaya mencegah penyebaran virus corona. “Kita tidak tahu bahwa mereka adalah sumber penyebaran penyakit. Karena itu, lindungi diri kita semua dengan menggunakan masker pada saat keluar rumah,” imbaunya.

Pemanfaatan masker kain sudah pasti lebih murah karena bisa dicuci hingga bisa digunakan berkali-kali. Namun, Yuri mengingatkan masker kain bisa digunakan tidak lebih dari empat jam setelah pemakaian. “Kami menyarankan penggunaan masker kain tidak lebih dari 4 jam. Untuk kemudian dicuci dengan cara direndam di air sabun, kemudian dicuci,” ujarnya. (Dita Angga/Kiswondari/Binti Mufarida/Sindonews)
(ysw)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top