Solidaritas Kemanusiaan Bersifat Universal dan Tak Tebang Pilih

Jum'at, 13 Maret 2020 - 18:26 WIB
Solidaritas Kemanusiaan...
Solidaritas Kemanusiaan Bersifat Universal dan Tak Tebang Pilih
A A A
JAKARTA - Solidaritas kemanusiaan dan keagamaan selalu muncul di setiap konflik, seperti konflik sektarian di India dan tindakan kekerasan yang dialami kelompok minoritas Rohingya di Myanmar.

Namun solidaritas itu hendaknya dikelola dalam perspektif positif dalam membantu penyelesaian konflik tersebut sekaligus mewujudkan perdamaian dan ketentraman antar-umat manusia.

Menurut Anggota Komisi VIII DPR Maman Imanulhaq mengatakan, solidaritas kemanusiaan merupakan hubungan emosional yang terbangun karena rasa saling percaya antara manusia yang menumbuhkan sikap saling menghormati, menjaga dan bertanggungjawab satu sama lain tanpa didasari isu primordial.

“Solidaritas kemanusiaan bersifat universal, tanpa sekat, tidak berstandar ganda, tidak tebang pilih, apalagi bermuatan kepentingan primordial dan politis,” tutur Maman di Jakarta, Kamis (12/3/2020).

Dalam Islam, kata dia, pesan utama solidaritas kemanusiaan adalah ihsan, yaitu berbuat baik kepada sesama.

Dengan dasar itu, Maman menilai wajar respons sejumlah ormas Islam di Indonesia atas isu-isu sosial-keagamaan yang menimpa Rohingya dan umat Islam di India. Kendati demikian, sikap itu harus dilandasi dengan semangat menjaga kedamaian.

“Tidak boleh ada kekerasan oleh siapa pun, kepada siapa pun dan atas nama apa pun, apalagi atas nama agama,” tuturnya.

Anggota Badan Kajian MPR itu juga mengimbau agar bangsa Indonesia tetap harus menjaga semangat Bhineka Tunggal Ika, terutama menyikapi masih maraknya intoleransi dan radikalisme.

Menurut dia, intoleransi dan radikalisme adalah virus yang muncul karena sikap tidak adil dan benih kebencian pada orang yang dianggap berbeda.

"Umat Islam harus tampil sebagai ummatan wasathan yang toleran, adil dan cerdas hingga mendorong terwujudnya peradaban manusia yang beradab dan damai,” tuturnya.

Dia mengajak umat Islam tidak terjebak politik identitas yang mengeksploitasi sentimen fanatisme identitas untuk meraih simpati publik. Apalagi fenomena ujaran kebencian, fitnah dan berita palsu sangat identik dengan gerakan politik identitas ini.

“Mereka berselancar di atas itu sentimen fanatisme keagamaan yang dibungkus dengan narasi kebencian dan anti-perdamaian, sesuatu yang bertolak belakang dengan subtansi agama Islam sebagai agama damai yang mendorong umatnya menyebarkan kedamaian,” tutur anggota Dewan Syura PKB itu.
(dam)
Berita Terkait
Selesaikan Konflik dengan...
Selesaikan Konflik dengan Membangun Toleransi dan Dialog
Agama Solusi Permasalahan...
Agama Solusi Permasalahan di Dunia
Reformulasi Agama dalam...
Reformulasi Agama dalam Geopolitik Global
Menteri Agama: Kemajemukan...
Menteri Agama: Kemajemukan Harus Senantiasa Dipelihara
Ratusan Orang Muda Lintas...
Ratusan Orang Muda Lintas Agama dan Kepercayaan Rawat Toleransi
Harapan Jokowi pada...
Harapan Jokowi pada Forum Kerukunan Umat Beragama
Berita Terkini
Eks Sekjen MPR Maruf...
Eks Sekjen MPR Ma'ruf Cahyono Ditahan di Rutan Gedung Merah Putih KPK
Membaca Arah Baru Fleksibilitas...
Membaca Arah Baru Fleksibilitas Fiskal Indonesia
Habiburokhman Tegaskan...
Habiburokhman Tegaskan Komisi III DPR Bakal Terus Kawal Kasus Dugaan Korupsi Batu Bara
Gus Lilur Minta Penggeledahan...
Gus Lilur Minta Penggeledahan 12 Lokasi Jangan Digiring Pertarungan Polisi Vs Jaksa
Indonesia Menggugat:...
Indonesia Menggugat: Perlawanan Dokter Tifa dalam Sidang Kasus Dugaan Ijazah Palsu Joko Widodo
Sekjen DPP Propindo...
Sekjen DPP Propindo Dukung Kortas Tipikor-Polda Metro Usut Tiga Kasus Korupsi
Infografis
5 Alasan Perdamaian...
5 Alasan Perdamaian Amerika Serikat dan Iran Sulit Terwujud
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved