Jadi Wabah Global, 2019-nCov Satu Famili dengan SARS dan MERS

Sabtu, 01 Februari 2020 - 09:21 WIB
Jadi Wabah Global, 2019-nCov...
Jadi Wabah Global, 2019-nCov Satu Famili dengan SARS dan MERS
A A A
JAKARTA - Dunia kini diliputi kecemasan luar biasa menyusul munculnya wabah penyakit mematikan akibat virus corona. Penyakitnya sama dengan pneumonia atau peradangan akut di jaringan paru-paru.

Biasanya pneumoniadi sebabkan oleh streptococcus, staphylococcus, dan lagionella. Namun, penyebab merebaknya wabah kali ini adalah novel Coronavirus (nCov) atau virus corona yang kini disebut 2019-nCov. Virus ini sebelumnya juga menyebabkan munculnya penyakit Severe Acute Respiratory Infection (SARS) dan Middle East Respiratory Syndrome (MERS) yang menjangkiti ribuan orang di dunia.

Ketua Departemen Epidemiologi Universitas Indonesia, Tri Yunis Miko Wahyono menjelaskan, virus corona ini memang masih satu famili dengan MERS dan SARS. Mereka hanya berbeda spesies. ”Gejalanya berbeda. Virus corona ini pernapasannya lambat, sementara SARS dan MERS lebih cepat,” ungkapnya.

Perbedaan lain yang dapat dilihat berdasarkan laporan mereka yang terjangkiti virus corona ini rata-rata berusia 31 tahun ke atas. Mereka yang meninggal pun di atas 40 tahun. Tri menyebut kasus MERS dan SARS dahulu memakan korban semua usia. Untuk persentase pasien yang meninggal MERS 75% lebih besar, MERS 26%, dan virus corona 15%. Sementara untuk penanganan, ketiga wabah penyakit tersebut tidak ada perbedaan.

Dokter Spesialis Patologi Anatomi Reza Aditya Digambiro membenarkan jika pengobatan pasien yang terjangkit virus corona hanya diobati berdasarkan gejalanya. Misalnya, jika pasien demam diberi obat penurun demam.

”Diobati agar tidak memperperberat penyakitnya. Jangan lupa harus terus dikontrol cairan tubuhnya. Jangan sampai dehidrasi agar tubuh bisa melawan virusnya. Jika terjadi gagal napas, dapat dibantu dengan ventilator,” ungkap Reza.

Ketua Umum Perkumpulan Keluarga Trisakti (Perkatri) ini mengatakan, infeksi virus bisa parah akibat tubuh yang sedang melemah. Bakteri juga ikut menginfeksi sehingga harus diberikan penanganan obat antibiotik untuk membunuh bakteri.

Menurutnya, pneumonia juga terdapat klasifikasinya sendiri. Pneumonia ringan yang terjadi pada pasien hanya batuk dan sedikit sulit bernapas biasanya ini terjadi pada anak-anak. Pneumonia berat dengan gejala demam, napasnya lebih cepat, oksigen yang masuk kurang dari 90%. Jika pneumonia berat ini terjadi pada anak-anak, wajah akan membiru dan pernapasannya mengalami gangguan akut.

”Pneumonia berat ini dalam satu pekan kondisinya akan cepat turun karena paru-parunya bengkak. Kondisi mereka menjadi gagal napas yang biasanya banyak menelan korban jiwa,” tandas dokter yang bertugas di RSUD Pasar Minggu tersebut.

Gejala sama jika sakit pneumonia dapat dicek jenis virus apa yang menjangkitinya. Caranya dengan mengolesi saluran tenggorokannya menggunakan alat seperti kapas lidi untuk kemudian diperiksa melalui Polymerase Chain Reaction (PCR) atau pemeriksaan DNA untuk mengidentifikasikan virus.

Feni Fitriani, Dokter Spesialis Paru dan Pernapasan, mengatakan, sejauh ini sudah ada beberapa vaksin untuk mencegah pneumonia seperti vaksin pneumokokus (PCV atauPPSV23) dan vaksin Hib. Namun, sayangnya belum ada vaksin khusus untuk mencegah virus penyebab wabah pneumonia yang mewabah saat ini. Hal ini karena pneumonia pada kasus outbreak saat ini disebabkan oleh virus corona jenis baru.

Sama seperti virus lainnya, cara menghindari virus corona dapat dilakukan dengan memperhatikan higienitas diri, rajin mencuci tangan, terutama sebelum memegang mulut, hidung, dan mata, atau setelah memegang instalasi publik.

Mencuci tangan dengan air dan sabun cair serta bilas setidaknya 20 detik. Cuci dengan air dan keringkan dengan handuk atau kertas. Jika tidak ada fasilitas cuci tangan, Anda dapat menggunakan handrub dengan kandungan alkohol 70-80%.

”Jangan lupa untuk selalu menutup mulut dan hidung dengan tisu atau lengan baju ketika batuk dan bersin. Ketika memiliki gejala saluran napas, gunakan masker dan segeralah berobat ke fasilitas kesehatan,” tutur Konsultan Paru Kerja dan Lingkungan RS Pondok Indah Bintaro Jaya ini.

Jika terpaksa harus mengunjungi negara yang sudah terjangkit wabah ini, sebaiknya tidak menyentuh hewan atau burung. Juga tidak mengunjungi pasar basah, peternakan, atau pasar hewan hidup.
(ysw)
Berita Terkait
Ikatan Ahli Kesehatan...
Ikatan Ahli Kesehatan Sebut Protokol Kesehatan Tak Berjalan di Masyarakat
Kesehatan Masyarakat...
Kesehatan Masyarakat yang Jalani Isolasi Mandiri Tetap Terus Dipantau
Pandemi COVID-19 Picu...
Pandemi COVID-19 Picu Masalah Kesehatan Mental Masyarakat
Pentingnya Istirahat...
Pentingnya Istirahat Cukup Selama Pandemi Virus Corona
Dua Tokoh Superhero...
Dua Tokoh Superhero Sosialisasikan Bahaya Virus Corona
Kesadaran Masyarakat...
Kesadaran Masyarakat Jalankan Protokol Kesehatan Covid-19 Masih Rendah
Berita Terkini
RDP di Komisi II, Dirjen...
RDP di Komisi II, Dirjen Bina Adwil Kemendagri Ungkap 5 Kunci Penataan Lahan Pasuruan
Polemik Voters Munas...
Polemik Voters Munas HIPMI Mengemuka: BPD DOB Pertanyakan Dasar Pengurangan Hak Suara
Geledah Kantor Wika,...
Geledah Kantor Wika, Kortas Tipikor Polri Sita Dokumen hingga Barbuk Elektronik
Ajukan JC di Kasus Korupsi...
Ajukan JC di Kasus Korupsi MBG, Eks Waka BGN Sony Sonjaya Sebut 26 Nama di BAP
Tiyo Eks Ketua BEM UGM...
Tiyo Eks Ketua BEM UGM Mengaku Ditawari Miliaran Rupiah dari Lembaga Berbintang, Ini Respons TNI
Kejagung Limpahkan 11...
Kejagung Limpahkan 11 Tersangka Kasus POME ke Kejaksaan
Infografis
Piala Dunia 2026: Panggung...
Piala Dunia 2026: Panggung Terakhir Messi-Ronaldo dan Lahirnya Era Baru
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved