Kasus Rommy, Saksi Ahli: Bedakan Status Ketum Partai dan Anggota DPR

Rabu, 18 Desember 2019 - 12:31 WIB
Kasus Rommy, Saksi Ahli:...
Kasus Rommy, Saksi Ahli: Bedakan Status Ketum Partai dan Anggota DPR
A A A
JAKARTA - Pengamat Hukum Tata Negara Margarito Kamis meminta majelis hakim tindak pidana korupsi (tipikor) untuk membedakan status Romahurmuziy (Rommy) sebagai anggota DPR dan ketua umum partai saat melakukan kegiatan. Sebab dua status itu mempunyai konsekuensi hukum yang berbeda.

“Dapat dibedakan status anggota DPR dengan ketua umum partai. Tegas saya berpendapat, dua soal ini diatur dalam UU yang berbeda. Ini cukup rumit, maka perlu jeli betul dalam melihat ini. Sebab jika tidak, itu akan pukul rata, tidak proporsional dalam melihat masalah,” kata Margarito saat menjadi saksi ahli dalam kasus jual beli jabatan dengan terdakwa Rommy di PN Tipikor Jakarta Pusat, Rabu (18/12/2019).

Margarito menambahkan bahwa administrasi kesekjenan DPR selalu melekat pada kegiatan anggota DPR. Tidak hanya di persidangan, namun juga saat reses.

“Jika Beliau (Rommy) anggota DPR turun ke daerah saat reses adalah perintah kesekjenan, semua pembiayaannya diadministrasikan. Sehingga jika ia menghadiri tahlilan misalnya saat menjalankan tugas DPR dan menerima bingkisan, maka itu dilarang,” jelas Margarito.

Berbeda dengan posisi sebagai politisi atau bahkan ketum partai yang sedang turun ke daerah untuk menyerap aspirasi masyarakat atau konstituen. Saat menjalankan fungsi sebagai politisi ini, maka seseorang tersebut bertindak bukan sebagai anggota DPR.

Margarito menyebut salah satu fungsi partai politik melakukan artikulasi dan menyerap aspirasi-aspirasi rakyat. “Jika seorang melakukan fungsinya sebagai ketua partai dalam menyerap aspirasi, maka tidak terkait dengan suap menyuap. Misalnya saat Ketum Partai mendapatkan oleh-oleh dari ketua wilayah, maka itu tidak apa-apa,” ujarnya.

Margarito merupakan salah satu saksi ahli yang dihadirkan dalam sidang Rommy. Rommy didakwa menerima suap dari mantan Kepala Kanwil Kemenag Jawa Timur Hasanuddin dan mantan Kepala Kantor Kemenag Gresik Muafaq Wirahadi. Keduanya sudah divonis bersalah.
(poe)
Berita Terkait
Gazalba Saleh Divonis...
Gazalba Saleh Divonis Bebas Majelis Hakim Pengadilan Tipikor
Pemberantasan Korupsi...
Pemberantasan Korupsi dan Perampasan Aset
KPK Kembali Dipimpin...
KPK Kembali Dipimpin oleh Jenderal Polisi
Pimpinan KPK Sebut Tak...
Pimpinan KPK Sebut Tak Semua Penyimpangan Harus ke Pengadilan
Strategi Pemberantasan...
Strategi Pemberantasan Korupsi
KPK Gaet 4 Kementerian...
KPK Gaet 4 Kementerian dan KSP Teken Komitmen Pencegahan Korupsi
Berita Terkini
Saatnya Koperasi Naik...
Saatnya Koperasi Naik Kelas
Momen Kapolri dan Jaksa...
Momen Kapolri dan Jaksa Agung Foto Bareng Menko Polkam, Panglima TNI, serta Kepala BIN
Prabowo: Yang Merasa...
Prabowo: Yang Merasa Indonesia Suram, Silakan kalau Mau Cari Negara Lain
BEM PTNU: Komitmen Prabowo...
BEM PTNU: Komitmen Prabowo dalam Kasus Jampidsus Cerminkan Semangat Asta Cita
Menyorot Kebijakan Bahan...
Menyorot Kebijakan Bahan Bakar B50
Komjak Bakal Awasi Penanganan...
Komjak Bakal Awasi Penanganan Kasus Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
Infografis
Ini Rincian Gaji Anggota...
Ini Rincian Gaji Anggota DPR Jadi Rp65,5 Juta usai Pemangkasan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved