Ini Saran Pengamat untuk Airlangga Agar Tak Terjebak Kepentingan Politik

Kamis, 28 November 2019 - 18:58 WIB
Ini Saran Pengamat untuk...
Ini Saran Pengamat untuk Airlangga Agar Tak Terjebak Kepentingan Politik
A A A
JAKARTA - Sentimen negatif masyarakat dan pelaku ekonomi disinyalir akan muncul jika Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mempertahankan niat untuk memperpanjang jabatannya selaku Ketua Umum Partai Golkar.

Pengamat Ekonomi dari Universitas Palangka Raya Fitria Husnatarina mengatakan, sentimen negatif bisa muncul lantaran Airlangga dianggap kehilangan independensi sebagai Menko Perekonomian. Padahal, hal tersebut menjadi kebutuhan dasar yang harus dimiliki Menko Perekonomian jika ingin memperbaiki kondisi ekonomi negara.

“Idealnya kan laga politik (sebagai ketua umum parpol Golkar) harus bisa dihindari ketika menjaga independensi sebagai Menko. Riset hampir selalu bisa membuktikan bahwa akan muncul sentimen negatif masyarakat terhadap dualisme atribut seperti ini,” kata Fitria kepada wartawan, Kamis (28/11/2019).

Sejauh ini Airlangga dikabarkan akan kembali mencalonkan diri sebagai Ketum Golkar. Kabar ini makin santer terdengar meski Airlangga telah didapuk sebagai Menko Perekonomian di Kabinet Indonesia Maju.

Sebagai catatan, selaku Menko Perekonomian tugas Airlangga terbilang tak mudah. Dia harus bisa menjamin keberadaan iklim investasi yang mendukung untuk masuknya calon pemodal ke Indonesia.

Airlangga juga harus mampu mengejawantahkan pesan Presiden Joko Widodo agar Indonesia mampu bertahan memghadapi ancaman resesi global mulai tahun depan.

Sebagai catatan, sepanjang 2015-2018 pertumbuhan ekonomi Indonesia juga terus pada kisaran 4,88% hingga 5,17%. Angka tersebut berjarak cukup jauh bila dibandingkan dengan target pertumbuhan ekonomi dalam RPJMN 2014-2019 pada angka 6% hingga 7%.

Untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi dan perkembangan industri dalam negeri, Airlangga harus fokus dan menunjukkan komitmen siap bekerja secara independen sebagai Menko Perekonomian.

“Justru karena itu butuh komitmen. Merangkap jabatan itu kan bukti bahwa tata kelola sebuah lembaga goyah. Kayak ngak ada orang saja yang kompeten. Apalagi ini kan nggak linier demand politik dan strategi kenegaraan kan bisa sangat jauh berbeda dalam kontribusi terhadap kemaslahatan bangsa dan negara,” katanya.
(pur)
Berita Terkait
HUT ke-57 Partai Golkar...
HUT ke-57 Partai Golkar Bertema Bersatu untuk Menang
Bahlil Lahadalia Tegaskan...
Bahlil Lahadalia Tegaskan Soliditas Kader di HUT ke-61 Partai Golkar
Persiapan Jelang Perayaan...
Persiapan Jelang Perayaan HUT Ke-61 Partai Golkar
Soal Peluang Golkar...
Soal Peluang Golkar Ubah AD/ART untuk Jokowi Maju Ketum, Aburizal Bakrie: Bisa Saja jika Daerah Mau
Pembukaan Rapimnas Partai...
Pembukaan Rapimnas Partai Golkar
Tasyakuran HUT Ke-57...
Tasyakuran HUT Ke-57 Partai Golkar
Berita Terkini
Gibran Duduk di Barisan...
Gibran Duduk di Barisan Menteri saat Sidang Kabinet, Mensesneg Beri Penjelasan
KPK Tetapkan Bupati...
KPK Tetapkan Bupati Lombok Barat Tersangka Dugaan Suap dan Gratifikasi
Istana: Presiden Prabowo...
Istana: Presiden Prabowo Bakal Angkat Jampidsus Definitif dalam 1-2 Hari
Paripurna DPR Setujui...
Paripurna DPR Setujui Wahidah Suaib Jadi Anggota Ombudsman Pengganti Hery Susanto
Alasan KPK Kembalikan...
Alasan KPK Kembalikan Mobil Noel Ebenezer
Bos Blueray John Field...
Bos Blueray John Field Yakin Uang Suap Tersalurkan ke Dirjen Bea Cukai, Uangnya Tidak Pernah Kembali
Infografis
Skuad Timnas Inggris...
Skuad Timnas Inggris di Piala Dunia 2026, Tak Ada Pemain Liverpool
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved