Demokrat-PAN Tak Punya Pilihan Selain Oposisi
Rabu, 23 Oktober 2019 - 07:15 WIB
Demokrat-PAN Tak Punya Pilihan Selain Oposisi
A
A
A
JAKARTA - Partai Demokrat dan PAN menjadi partai yang kadernya tidak jadi dipanggil oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) ke Istana Kepresidenan, Jakarta.
Padahal, Ketua Umum (Ketum) Demokrat dan Ketum PAN sebelumnya diundang oleh Jokowi ke istana dan beberapa nama kadernya diisukan masuk bursa menteri. (Baca juga: 34 Orang Dipangil ke Istana, Ini Prediksi Posisi Mereka)
Karena itu, Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia (PPI) Adi Prayitno menyebut tidak ada pilihan lain bagi Demokrat dan PAN selain menjadi oposisi atau di luar pemerintahan bersama dengan PKS.
“Hampir tidak ada pilihan lain bagi mereka selain menjadi oposisi atau bersama PKS untuk di luar pemerintah,” kata Adi saat dihubungi di Jakarta, Selasa, 22 Oktober 2019.
Kecuali, Demokrat dan PAN masih berharap ada kesempatan kedua, dengan memanfaatkan kemungkinan reshuffle. Tapi, itu membutuhkan waktu yang lama. Terlebih, kalau menunggu reshuffle yang didasarkan pada buruknya kinerja menteri Jokowi.
“Tapi kan tidak pernah ada batas waktu pasti reshufflenya sampai kapan. Ketimbang berharap suatu hal yang tidak pasti baiknya Demokrat dan PAN memilih bersama PKS berada di jalur sunyi koalisi,” sarannya. (Baca juga: Penyusunan Kabinet Jokowi-Ma'ruf Diapresiasi)
Dosen Ilmu Politik UIN Jakarta itu menilai ketiga partai ini tidak terlalu kuat sebagai oposisi. Karena, jumlah mereka hanya 30% sementara koalisi pemerintah 70%. Tetapi, perlu diingat bahwa jumlah oposisi juga ditentukan dengan kualitas mereka sebagai oposisi. Dan kalau isunya substansial dan cukup terukur, ketiga partai ini akan menjadi kelompok oposisi minoritas yang bisa memengaruhi kebijakan publik.
“Kan tidak semua hal harus didasarkan atas jumlah massa yang banyak atau dukungan yang massive, dari pada substansi-substansi persoalan yang dimunculkan,” imbuhnya.
Dia menegaskan, oposisi itu seharunya galak karena tidak ada pilihan lain. Kalau ada main bukan oposisi tapi teman koalisi. Apalagi, setelah harapan menjadi menteri itu pupus. (Baca juga: Partai Demokrat Hanya Jadi Penonton Pembentukan Kabinet?)
“Saya kira PAN dan Demokrat ini bakatnya sebagai oposisi bukan bagian dari pemerintah, sebaiknya ditunjukkan aja,” tandasnya.
Padahal, Ketua Umum (Ketum) Demokrat dan Ketum PAN sebelumnya diundang oleh Jokowi ke istana dan beberapa nama kadernya diisukan masuk bursa menteri. (Baca juga: 34 Orang Dipangil ke Istana, Ini Prediksi Posisi Mereka)
Karena itu, Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia (PPI) Adi Prayitno menyebut tidak ada pilihan lain bagi Demokrat dan PAN selain menjadi oposisi atau di luar pemerintahan bersama dengan PKS.
“Hampir tidak ada pilihan lain bagi mereka selain menjadi oposisi atau bersama PKS untuk di luar pemerintah,” kata Adi saat dihubungi di Jakarta, Selasa, 22 Oktober 2019.
Kecuali, Demokrat dan PAN masih berharap ada kesempatan kedua, dengan memanfaatkan kemungkinan reshuffle. Tapi, itu membutuhkan waktu yang lama. Terlebih, kalau menunggu reshuffle yang didasarkan pada buruknya kinerja menteri Jokowi.
“Tapi kan tidak pernah ada batas waktu pasti reshufflenya sampai kapan. Ketimbang berharap suatu hal yang tidak pasti baiknya Demokrat dan PAN memilih bersama PKS berada di jalur sunyi koalisi,” sarannya. (Baca juga: Penyusunan Kabinet Jokowi-Ma'ruf Diapresiasi)
Dosen Ilmu Politik UIN Jakarta itu menilai ketiga partai ini tidak terlalu kuat sebagai oposisi. Karena, jumlah mereka hanya 30% sementara koalisi pemerintah 70%. Tetapi, perlu diingat bahwa jumlah oposisi juga ditentukan dengan kualitas mereka sebagai oposisi. Dan kalau isunya substansial dan cukup terukur, ketiga partai ini akan menjadi kelompok oposisi minoritas yang bisa memengaruhi kebijakan publik.
“Kan tidak semua hal harus didasarkan atas jumlah massa yang banyak atau dukungan yang massive, dari pada substansi-substansi persoalan yang dimunculkan,” imbuhnya.
Dia menegaskan, oposisi itu seharunya galak karena tidak ada pilihan lain. Kalau ada main bukan oposisi tapi teman koalisi. Apalagi, setelah harapan menjadi menteri itu pupus. (Baca juga: Partai Demokrat Hanya Jadi Penonton Pembentukan Kabinet?)
“Saya kira PAN dan Demokrat ini bakatnya sebagai oposisi bukan bagian dari pemerintah, sebaiknya ditunjukkan aja,” tandasnya.
(cip)