Rapat Perdana, DPP PKB Bahas Soal Papua hingga Implementasi Hasil Muktamar

Jum'at, 30 Agustus 2019 - 22:46 WIB
Rapat Perdana, DPP PKB...
Rapat Perdana, DPP PKB Bahas Soal Papua hingga Implementasi Hasil Muktamar
A A A
JAKARTA - Kepengurusan baru Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) mulai bekerja. Jajaran pengurus baru Periode 2019-2024 mulai menggelar rapat perdana di Kantor DPP PKB, Jalan Raden Saleh Jakarta Pusat, Jumat pagi, (30/8/2019).

Dalam rapat pembuka tersebut, ada sejumlah pembahasan penting. Mulai dari menyikapi persoalan terkini yang terjadi di Papua hingga pembahasan implementasi hasil Muktamar 2019 di Bali.

Sekjen DPP PKB Muhammad Hasanuddin Wahid mengatakan, masalah yang terjadi di Papua dinilai mendesak untuk segera diselesaikan. Karena itu, PKB harus ikut berperan aktif dalam menyelesaikan persoalan Papua. ”Apa yang terjadi di Papua ini harus disikapi dengan hati, bukan hanya dengan security approach (pendekatan keamanan) atau prosperity approach (pendekatan kesejahteraan), tapi dengan pendekatan hati,” tutur Hasan.

Caranya yakni dengan mengajak dialog para pihak terkait, termasuk para tokoh masyarakat setempat. Karena itu, PKB menugaskan para kader dan anggota DPRD dari PKB untuk membantu pemerintah dalam menurunkan tensi di Papua. ”Papua ini adalah bagian dari Tanah Air yang nggak bisa dipisahkan. Dan untuk mengatasi masalah yang terjadi di Papua harus dengan pendekatan hati,” urainya.

Selain masalah Papua, dalam rapat perdana tersebut juga dibahas mengenai hasil rekomendasi Muktamar 2019. Hasan mengatakan, masing-masing bidang harus menerjemahkan rekomendasi muktamar menjadi program kerja. ”Dan program-program kerja itu kita sinkronkan dengan program pemerintahan untuk mempercepat target-target yang diutamakan Pak Jokowi, utamanya soal SDM unggul,” katanya.

Selain masalah SDM, PKB melihat permaslahan ekonomi kerakyatan harus menjadi perhatian. ”Bagaimana permasalahan ekonomi itu menjadi pokok karena kalau ekonomi masyarakat tidak terselesaikan itu akan menjadi masalah. Jadi ukurannya adalah kebahagiaan masyarakat. Bagaimana masyarakat di bawah ini berdaya,” katanya. Dalam hal ini, kata Hasan, parpol seperti PKB harus menjadi fasilitator.

Hal lain yang menjadi perhatianadalah soal dakwah sosial dan kebudayaan. Dikatakan Hasan, saat ini dakwah yang banyak dilakukan dengan menggunakan teknologi informasi (IT) banyak dipenuhi dengan ajara-ajaran agama yang mengarah pada radikalisme. Hal ini menjadi perhatian PKB untuk bagaimana menggeser pendekatan dakwah yang sesuai dengan aturan yang seharusnya, baik dalam hal agama maupun kebangsaan.

”Yang penting kebijakan-kebijakan di PKB itu masing-masing bidang mengkaji dan mengevaluasi sejumlah kebijakan dan perundangan, serta melihat realitas di masyarakat, kemudian bagaimana PKB bisa menjadi problem solver sehingga kehadiran PKB untuk negara ini nyata,” pungkasnya.
(pur)
Berita Terkait
Panji Bangsa Siap Terdepan...
Panji Bangsa Siap Terdepan Amankan Harlah ke-28 PKB
Konflik PKB-PBNU Meruncing,...
Konflik PKB-PBNU Meruncing, Mantan Sekjen PKB Lukman Edy Dilaporkan ke Bareskrim
Cak Imin Tegaskan PKB...
Cak Imin Tegaskan PKB Solid: Yang Mau Ganggu Sampai Sungkan
Sambut Harlah PKB, Perempuan...
Sambut Harlah PKB, Perempuan Bangsa Gelar Lomba Masak dan Rias Tumpeng
Dewan Syura PKB Jawa...
Dewan Syura PKB Jawa Barat Sepakat Pertahankan Soliditas Partai
Vaksinasi Hari Kedua,...
Vaksinasi Hari Kedua, PKB Ingin Herd Immunity Cepat Terwujud
Berita Terkini
UU PFII Bukti Pemerintah...
UU PFII Bukti Pemerintah Serius Bangun Fondasi Ekonomi Jangka Panjang
BGN Perkenalkan Deputi-Sestama...
BGN Perkenalkan Deputi-Sestama Baru, Ada Mantan Kapuspenkum Kejagung
Dugaan Penyamaran Aset...
Dugaan Penyamaran Aset Mantan Jampidsus Febrie Adriansyah Disorot
Jadi Investor Fiktif,...
Jadi Investor Fiktif, 10 WNA Ditangkap Imigrasi
Penguatan Kualitas Lulusan...
Penguatan Kualitas Lulusan Terus Digencarkan SGU
Cerita Megawati Pergoki...
Cerita Megawati Pergoki Intelijen: Hidup Saya Ini Diinteli Terus
Infografis
4 Pemicu PM Inggris...
4 Pemicu PM Inggris Mundur, dari Pemberontakan Internal hingga Terlalu Banyak Janji
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved