Mega Sebut Para Eks Pemimpin Dunia Ikut Merespons Ibu Kota Pindah
Kamis, 29 Agustus 2019 - 10:47 WIB
Mega Sebut Para Eks Pemimpin Dunia Ikut Merespons Ibu Kota Pindah
A
A
A
JAKARTA - Keputusan Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk memindahkan Ibu Kota Negara dari Jakarta ke Kalimantan Timur (Kaltim), menaruh perhatian para mantan Pemimpin Dunia.
Rencana pemindahan itu sempat dibahas Presiden Kelima RI, Megawati Soekarnoputri bersama mantan pemimpin dunia sebelum pembukaan DMZ Internasional Forum on the Peace Economy di Seoul, Korea Selatan, Kamis (29/8/2019) waktu setempat.
Megawati terlihat berbincang santai bersama mantan Kanselir Jerman Gerhard Schroder, mantan PM Jepang Yukio Hatoyama, Presiden pertama Mongolia Punsalmaagiin Ochirbat, serta beberapa tokoh penting lainnya dari Rusia, AS, dan Norwegia di ruang tunggu forum yang digelar di Hotel Lotte, Seoul.
Mereka merupakan para pembicara di Forum DMZ. Uniknya, pemindahan ibukota ke Kalimantan Timur ternyata menjadi bahasan menarik bagi para pembicara.
Awalnya Kepala National Research Council for Economics, Humanities and Social Sciences NRC, Korsel, Seong Kyoung Ryung yang bertanya kabar pemerintah Indonesia akan memindahkan ibukota negara.
"Ini langkah pertama setelah mungkin lebih dari lima tahun untuk membicarakan hal ini sebelum akhirnya diputuskan," kata Megawati yang duduk di antara mantan PM Jepang Yukio Hatoyama dan mantan Kanselir Jerman Gerhard Schroder.
Kemudian seorang yang merupakan Ketua panitia DMZ pun bertanya, apakah pemindahan Ibukota karena dilatarbelakangi Pulau Jawa yang berpotensi tenggelam, Megawati menegaskan bukan alasan tersebut.
"Oh tentu saja tidak," ujar Megawati sambil tertawa. Seong dan pembicara lainnya pun tertawa bersama mendengar jawaban Megawati.
"Jakarta sebagai ibu kota negara sekarang crowded dan sehingga diputuskan untuk memindahkan ke Kalimantan Timur. Sepertinya butuh lima tahun untuk pindah ke Kalimantan Timur. Pemindahan itu tidaklah mudah," papar Megawati.
Seong pun menjelaskan Korsel juga sebenarnya memindahkan pusat pemerintahan sekitar tujuh tahun lalu. "Bila diperlukan, Pemerintah Indonesia bisa belajar dari pengalaman Korsel," tambah Seoung.
Pembicara lain bertanya sudah berapa kali Megawati ke Pyongyang. "Saya sudah beberapa kali ke Pyongyang dan demikian juga ke Seoul. Jadi sudah bolak balik," jawab Ketua Umum DPP PDI Perjuangan itu.
Usai para tokoh beramah tamah, semua pembicara diabadikan dalam sebuah momen foto bersama. Acara dimulai dengan sambutan melalui video Perdana Menteri Korsel Lee Nak-yon, dilanjutkan Megawati menjadi pembicara pertama yang menyampaikan pandangannya di forum itu.
Forum Internasional DMZ untuk Ekonomi Damai itu diselenggarakan oleh The Korean Institute for International Economy Policy (KIEP) dan National Research Council for Economics, Humanities, and Social Sciences (NRC). Tema forum adalah 'ekonomi damai dan kesejahteraan di Semenanjung Korea dan sekitarnya'.
Rencana pemindahan itu sempat dibahas Presiden Kelima RI, Megawati Soekarnoputri bersama mantan pemimpin dunia sebelum pembukaan DMZ Internasional Forum on the Peace Economy di Seoul, Korea Selatan, Kamis (29/8/2019) waktu setempat.
Megawati terlihat berbincang santai bersama mantan Kanselir Jerman Gerhard Schroder, mantan PM Jepang Yukio Hatoyama, Presiden pertama Mongolia Punsalmaagiin Ochirbat, serta beberapa tokoh penting lainnya dari Rusia, AS, dan Norwegia di ruang tunggu forum yang digelar di Hotel Lotte, Seoul.
Mereka merupakan para pembicara di Forum DMZ. Uniknya, pemindahan ibukota ke Kalimantan Timur ternyata menjadi bahasan menarik bagi para pembicara.
Awalnya Kepala National Research Council for Economics, Humanities and Social Sciences NRC, Korsel, Seong Kyoung Ryung yang bertanya kabar pemerintah Indonesia akan memindahkan ibukota negara.
"Ini langkah pertama setelah mungkin lebih dari lima tahun untuk membicarakan hal ini sebelum akhirnya diputuskan," kata Megawati yang duduk di antara mantan PM Jepang Yukio Hatoyama dan mantan Kanselir Jerman Gerhard Schroder.
Kemudian seorang yang merupakan Ketua panitia DMZ pun bertanya, apakah pemindahan Ibukota karena dilatarbelakangi Pulau Jawa yang berpotensi tenggelam, Megawati menegaskan bukan alasan tersebut.
"Oh tentu saja tidak," ujar Megawati sambil tertawa. Seong dan pembicara lainnya pun tertawa bersama mendengar jawaban Megawati.
"Jakarta sebagai ibu kota negara sekarang crowded dan sehingga diputuskan untuk memindahkan ke Kalimantan Timur. Sepertinya butuh lima tahun untuk pindah ke Kalimantan Timur. Pemindahan itu tidaklah mudah," papar Megawati.
Seong pun menjelaskan Korsel juga sebenarnya memindahkan pusat pemerintahan sekitar tujuh tahun lalu. "Bila diperlukan, Pemerintah Indonesia bisa belajar dari pengalaman Korsel," tambah Seoung.
Pembicara lain bertanya sudah berapa kali Megawati ke Pyongyang. "Saya sudah beberapa kali ke Pyongyang dan demikian juga ke Seoul. Jadi sudah bolak balik," jawab Ketua Umum DPP PDI Perjuangan itu.
Usai para tokoh beramah tamah, semua pembicara diabadikan dalam sebuah momen foto bersama. Acara dimulai dengan sambutan melalui video Perdana Menteri Korsel Lee Nak-yon, dilanjutkan Megawati menjadi pembicara pertama yang menyampaikan pandangannya di forum itu.
Forum Internasional DMZ untuk Ekonomi Damai itu diselenggarakan oleh The Korean Institute for International Economy Policy (KIEP) dan National Research Council for Economics, Humanities, and Social Sciences (NRC). Tema forum adalah 'ekonomi damai dan kesejahteraan di Semenanjung Korea dan sekitarnya'.
(maf)